Berita Creative Humaniora IDEAS Utama

Kenapa Drakor Selalu Bikin Para Penontonnya Susah Move On?

Kenapa Drakor Selalu Bikin Para Penontonnya Susah Move On? (surabayakabarmetro.id/ Anisah RA)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Ada satu hal aneh yang sering terjadi setelah menyelesaikan menonton drama Korea.

Episode terakhir telah usai, layar berhenti, musik penutup berputar, tetapi pikiran masih tertinggal di dalam cerita.
Awalnya hanya berniat menonton satu episode sebelum tidur.

Namun, karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya, satu episode berubah menjadi dua, tiga, bahkan sampai ending. Ketika akhirnya sampai pada episode terakhir, muncul perasaan yang sulit dijelaskan.

“Setelah ini aku harus ngapain?”

Perasaan tersebut mungkin terasa berlebihan. Bagaimana bisa seseorang merasa kehilangan hanya karena sebuah cerita fiksi telah usai?

Namun, bagi penonton K-Drama kondisi seperti ini bukan hal yang asing. Ada karakter yang masih terbayang-bayang, adegan yang kembali terputar dalam kepala, soundtrack yang tiba-tiba terasa emosional, bahkan keinginan untuk mencari video behind the scene atau interview para pemain setelah drama selesai.

Setelah menyelesaikan sebuah K-drama yang ceritanya benar-benar membuat terikat, bukannya langsung beralih ke drama lain, justru masih memikirkan karakter dan hubungan mereka. Dari situlah muncul satu pertanyaan, kenapa bisa sesusah itu move on dari karakter yang sebenarnya tidak pernah kita temui?

Bukan Cuma Karena Ceritanya Bagus

Alasan pertama tentu saja karena alur ceritanya menarik dan bagus. K-drama biasanya tidak hanya memperlihatkan bagaimana sebuah hubungan dimulai, tetapi juga membawa penonton mengikuti bagaimana proses panjang yang dialami para tokohnya.

Penonton melihat karakter ketika sedang Bahagia, kecewa, marah, kehilangan, hingga bangkit Kembali.

Semakin lama mengikuti perjalanan tersebut, semakin banyak informasi yang diketahui tentang karakter.

Hal-hal kecil yang awalnya terlihat tidak penting pun akhirnya terasa berarti yang terkadang membuat karakter fiksi terasa semakin nyata.

Ketika episode terakhir selesai, yang hilang bukan hanya cerita. Ada rutinitas yang ikut berhenti.

Terbiasa Hidup Bersama Karakter

Selama beberapa hari atau bahkan berminggu-minggu, penonton bisa menghabiskan waktu bersama karakter yang sama.
Tanpa disadari, karakter tersebut menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Karena itu, Ketika cerita selesai ada semacam kekosongan kecil.

Rasanya seperti kehilangan teman yang selama ini rutin ditemui, meskipun hubungan tersebut hanya terjadi melalui layar. Inilah yang membuat istilah gagal move on terasa cocok digunakan untuk menggambarkan kondisi setelah menyelesaikan K-drama.

Tidak semua drama yang memiliki cerita bagus membuat penonton gamon.

Salah satu faktor yang sering membuat penonton sulit melupakan sebuah drama adalah chemistry antarpemain.

Tidak heran jika setelah drama selesai, para penonton kemudian mencari pasangan pemeran tersebut dalam proyek lain. Bahkan terdapat keinginan agar mereka kembali dipasangkan dalam drama berikutnya.

Alasan lain yang sering tidak disadari adalah soundtrack. Satu lagu yang sebelumnya hanya terdengar sebagai soundtrack dapat berubah menjadi “milik dramanya” setelah berkali-kali didengar selama menonton.

Ketika lagu tersebut kembali diputar setelah drama selesai, ingatan terhadap adegan tertentu bisa muncul begitu saja.

Tiba-tiba teringat adegan ketika karakter utama bertemu untuk pertama kalinya. Terbayang adegan perpisahan, bahkan bisa kembali merasakan sedihnya sebuah episode yang sudah ditonton beberapa hari sebelumnya.

Apakah ini Berarti Kita Terlalu Terbawa Perasaan?

Tidak juga.

Menikmati cerita fiksi dan merasa dekat dengan karakter merupakan bagian dari pengalaman menonton. Justru jika sebuah cerita membuat penonton pedulii terhadap tokohnya menunjukkan bahwa cerita tersebut berhasil membangun hubungan emosional dengan audiens.

Kalau hanya merasa kosong selama beberapa hari setelah drama tamat, mungkin itu sekadar tanda bahwa ceritanya memang meninggalkan kesan.

Susah move on dari k-drama bukan semata-mata karena ceritanya romantic atau pemerannya menarik.

Karena kita sudah menghabiskan waktu untuk mengenal karakter, mengikuti berbagai konflik mereka, bahkan menangis Ketika mereka mengalami sesuatu yang menyakitkan. Selama menonton, karakter-karakter tersebut menjadi bagian kecil dari rutinitas kita.

Jadi, Ketika episode terakhir selesai, wajar bila merasa kehilangan. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Anisah RA

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi