SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Pernahkah kamu membuka TikTok hanya untuk menonton satu video, tetapi beberapa menit kemudian muncul video yang rasanya seperti dibuat khusus untukmu?
Kamu tertarik dengan musik tertentu, lalu video tentang lagu itu muncul.
Sedang memikirkan liburan, tiba-tiba beranda dipenuhi rekomendasi tempat wisata. Bahkan, sesuatu yang baru saja kamu cari di internet seolah ikut muncul di layar.
Pada titik tertentu, muncul pertanyaan yang sedikit mengganggu: seberapa jauh sebenarnya algoritma mengenal kita?
TikTok bekerja dengan mempelajari berbagai pola perilaku penggunanya.
Video apa yang ditonton sampai selesai, video mana yang dilewati, konten yang disukai, dibagikan, disimpan, hingga akun yang sering dikunjungi menjadi bagian dari informasi yang digunakan untuk memberikan rekomendasi. Tanpa perlu kita ceritakan secara langsung, kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut perlahan membentuk gambaran tentang apa yang menarik perhatian kita.
Menariknya, algoritma tidak perlu mengetahui seluruh kehidupan kita untuk memberikan rekomendasi yang terasa sangat personal. Ia cukup mengetahui pola.
Kita mungkin tidak pernah mengatakan kepada TikTok bahwa kita sedang menyukai lagu tertentu.
Namun, jika kita menonton video dengan lagu tersebut berkali-kali, algoritma dapat menangkap ketertarikan itu.
Kita juga mungkin tidak pernah mengaku bahwa sedang tertarik pada suatu topik, tetapi setelah beberapa kali berhenti lebih lama pada konten tertentu, topik serupa mulai memenuhi beranda.
Di sinilah algoritma terasa seperti teman yang terlalu mengenal kita. Bedanya, seorang teman mengenal kita melalui percakapan, pengalaman, dan waktu yang dihabiskan bersama. Algoritma mengenal kita melalui data.
Ironisnya, terkadang algoritma justru mengetahui kebiasaan yang tidak kita sadari sendiri. Kita mungkin merasa hanya “iseng” menonton video tertentu, tetapi pola dari kebiasaan kecil itu terus tercatat. Apa yang awalnya hanya satu video bisa berubah menjadi puluhan rekomendasi dengan tema yang sama.
Namun, apakah berarti algoritma benar-benar mengenal kita?
Tidak juga.
Algoritma tidak memahami kita seperti manusia memahami manusia lain. Ia tidak mengetahui alasan mengapa kita menyukai sebuah lagu, mengapa sebuah video membuat kita tertawa, atau mengapa kita tiba-tiba tertarik pada topik tertentu. Ia membaca pola perilaku dan membuat prediksi berdasarkan pola tersebut.
Masalahnya, prediksi yang terus-menerus tepat dapat membuat kita merasa seolah-olah sedang dipahami.
Di sisi lain, kemampuan algoritma dalam membaca kebiasaan juga membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa semakin nyaman. Kita tidak perlu mencari terlalu banyak. Konten yang kemungkinan besar kita sukai sudah disediakan di depan mata. Akibatnya, kita bisa terus menggulir tanpa benar-benar memikirkan apa yang sedang kita cari.
Di sinilah muncul paradoks kecil dalam kehidupan digital. Kita merasa bebas memilih apa yang ingin ditonton, tetapi pilihan tersebut terjadi di dalam ruang yang sudah dipengaruhi oleh rekomendasi algoritma.
Lalu, siapa sebenarnya yang memilih?
Kita, atau algoritma?
Mungkin jawabannya tidak sesederhana salah satu di antara keduanya. Kita tetap memiliki pilihan untuk menonton atau melewati sebuah video. Namun, algoritma menentukan sebagian besar apa yang pertama kali kita lihat. Dengan kata lain, ia mungkin tidak memilihkan keputusan kita, tetapi ia ikut menentukan pilihan apa saja yang tersedia di hadapan kita.
Hal ini menjadi semakin menarik ketika diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Jika seseorang terus mendapatkan konten tentang olahraga, ia mungkin semakin tertarik berolahraga. Jika terus melihat konten tentang buku, ia mungkin semakin tertarik membaca. Tetapi hal yang sama juga dapat terjadi pada konten yang kurang bermanfaat. Apa yang sering kita lihat akan terus mendapatkan ruang di beranda.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan apakah algoritma mengenal kita, melainkan apa yang sedang kita ajarkan kepada algoritma tentang diri kita sendiri.
Setiap like, setiap tontonan, setiap video yang kita simpan, bahkan setiap detik yang kita habiskan untuk menonton sesuatu ikut membentuk pengalaman digital kita. Tanpa disadari, kita bukan hanya menjadi pengguna media sosial. Kita juga menjadi orang yang terus-menerus “melatih” algoritma. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




