SURABAYAKABARMETRO.COM, SURABAYA – Program Desa EMAS yang digagas konsorsium perguruan tinggi di Jawa Timur, rupanya sukses melatih 1408 tim pendamping keluarga (TPK) dan kader posyandu, serentak di 16 Kabupaten/kota di Jawa Timur.
Pelatihan berupa edukasi berbasis perubahan perilaku terkait gizi dan diharapkan meningkatkan kapasitas TPK menjadi edukator dan konselor stunting di desa masing-masing.
“Dari jumlah tersebut, sebanyak 1280 peserta mengikuti evaluasi pre dan post-test dan hasilnya terjadi peningkatan skor dan tingkat pengetahuan terkait gizi secara signifikan. Di samping itu peserta pelatihan diberi kemampuan untuk melakukan Analisa penyebab dan solusi dari masalah ASI dan Makanan Balita serta bermain peran untuk meningkatkan kemampuan sebagai konselor” ujar Nurul Muslihah, Dosen Gizi UB yang menjadi koordinator kegiatan edukasi, Senin 12 Desember 2022.
Ditambahkan Nurul, selama kegiatan edukasi di berbagai lokasi tersebut, telah tercipta media poster dan video edukasi gizi dengan pesan Utama terkait MP ASI dan Hygiene Sanitasi oleh mahasiswa yang diterjunkan di desa EMAS, dan memperoleh 88 hak atas kekayaan intelektual (HAKI). “HAKI yang diajukan masih akan terus bertambah,” imbuhnya.
Selain pelatihan, terdapat juga kampanye anti stunting partisipatoris, dengan pelakunya adalah warga desa di 18 Kabupaten/Kota.
“Disebut partisipatoris, karena warga berpartisipasi dan menjadi pelaku dalam video tiktok yang kami lombakan di tingkat kabupaten/kota dan provinsi,” ujar Edi Dwi Riyanto, Dosen FIB Unair yang menjadi penggagas kampanye.
Ditambahkan oleh Siti R Nadhiroh, koordinator Program Desa EMAS, di sela-sela diseminasi hasil Desa EMAS di Kampus B Unair, hingga kini telah terupload 235 video kampanye anti stunting dengan hastag #DESAEMAS #GERAKANANTISTUNTING di aplikasi tiktok dan terpilih 3 juara dan 1 juara favorit. (surabayakabarmetro.com)




