Berita Opini Surabaya Utama

Surabaya Kota Moderasi: Simbol Toleransi dalam Keberagaman Suku, Agama, Ras dan Budaya

Febryan Kiswanto, Ketua Karang Taruna Surabaya (istimewa/ surabayakabarmetro.id)

Oleh: Febryan Kiswanto, Ketua Karang Taruna Surabaya 

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA– Surabaya dikenal sebagai kota metropolitan di Indonesia yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi etalase Indonesia dalam pengelolaan keberagaman sosial. Dinamika masyarakat Surabaya yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan budaya menjadikannya laboratorium hidup moderasi sosial yang unik. Moderasi bukan sekadar slogan, tetapi terejawantah dalam interaksi sosial sehari-hari.

 Moderasi di Surabaya dapat dipandang sebagai sikap keseimbangan antara keyakinan pribadi serta penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Dalam kajian kontemporer disebutkan bahwa “moderasi merupakan jalan tengah yang menyeimbangkan komitmen moral dan kebiasaan sosial, sehingga memungkinkan masyarakat menerima perbedaan dalam kerangka hukum dan etika bersama.” Moderasi tidak hanya menyangkut proses beribadah, tetapi juga praktik sosial antaretnis. Toleransi di masyarakat plural harus dibangun melalui strategi moderat yang memupuk rasa saling menghormati terhadap perbedaan serta mencari kesepahaman bersama.

 Keharmonisan antar komunitas Jawa, Madura, Tionghoa, Arab dan kelompok suku lainnya di Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana pluralitas diterjemahkan menjadi sebuah kekayaan budaya dan bukan sebagai sumber konflik.

Robbie Peters dalam Surabaya, 1945-2010: Neighberhood , State and Economy in Indoesia’s City of Struggle menggambarkan bagaimana kehidupan Masyarakat Surabaya, termasuk kampung-kampungnya, membentuk solidaritas dan participative citizenship, yang secara implisit mendukung harmoni social antar berbagai kelompok dalam struktur kota.

Pendidikan menjadi alat penting dalam internalisasi nilai moderasi dan toleransi. Penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai toleransi melalui proses pendidikan formal dan sosial adalah strategi efektif untuk membangun sikap saling menghormati sejak dini. 

Di sisi lain, tokoh masyarakat , agama dan pemimpin komunitas juga memainkan peran penting dalam menguatkan nilai-nilai moderat di komunitas lokal. Peran mereka bukan hanya memimpin ritual , tetapi menjadi mediator dialog di antara kelompok yang berbeda suku, ras dan latar budaya.

Tantangan Surabaya sebagai kota melting pot adalah harus tetap menjaga keberagaman. Konflik berbasis agama dan etnis tetap mengeksis di berbagai daerah Indonesia, menunjukkan bahwa moderasi harus terus diperkuat dalam berbagai sektor kehidupan — dari pendidikan hingga kebijakan public, tanpa pendekatan moderat terhadap kehidupan bermasyarakat, risiko konflik sosial dan disintegrasi sosial dapat meningkat secara signifikan. 

Moderasi bukan hanya konsep ideal, tetapi praktik kehidupan yang terus diperkuat dalam struktur sosial. Dengan sinergi nilai-nilai ini, Surabaya menjadi model bagi kota-kota lain dalam menghadapi tantangan pluralisme di era modern. (surabayakabarmetro.id)

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi