Berita Surabaya Surabaya 90-an Utama

Surabaya 90-an, Sekolah Lewat Kolong Jembatan Wonokromo

Jembatan Sawunggaling (Istimewa/ Pemkot Surabaya)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA– Bagi warga Surabaya, siapa yang tidak mengenal nama “Jembatan Wonokromo”?. Jembatan Wonokromo memang memiliki peranan yang sangat penting.

Jembatan yang berada di dekat Terminal Joyoboyo ini sangat vital bagi arus mobilitas masyarakat Surabaya. Sebab, jembatan ini menghubungkan dua sisi Kota Surabaya yang terbelah oleh Sungai Surabaya.

Sisi sebelah selatan merupakan sisi arah luar kota. Sedangkan, sisi utara merupakan sisi yang menuju ke pusat kota. Lalu lintas di Jembatan Wonokromo juga terbilang padat. Bahkan, untuk memecah kepadatan lalu lintas di Jembatan Wonokromo, Pemkot Surabaya pada tahun 2021 lalu juga meresmikan jembatan baru di sebelah Jembatan Wonokromo, yaitu Jembatan Sawunggaling atau Jembatan Joyoboyo.

Jika berbicara dalam konteks Surabaya 90-an, kondisi Jembatan Wonokromo sebenarnya tidak jauh berbeda dengan saat ini. Yang memberikan nuansa berbeda hanya kondisi Sungai Surabaya yang melintas di bawahnya. Berdasarkan ingatan penulis yang juga pernag mengalami masa kecil di sekitar Jembatan Wonokromo, saat itu Sungai Surabaya masih banyak endapan tanah di pinggirnya.

Bahkan, endapan tanah itu terbilang cukup kuat dan keras. Sehingga, saat itu tidak heran kita jumpai di kolong Jembatan Wonokromo akan mudah kita jumpai ada orang yang tinggal di sana. Di tempat itu biasanya mereka membuat tempat tinggal semacam gubuk dari kardus atau triplek.

Biasanya yang menempatinya adalah para pemulung, serta tunawisma. Mereka memilih tinggal di sana karena himpitan kondisi di tengah mahalnya biaya hidup di Surabaya.

Tidak hanya itu, kolong Jembatan Wonokromo itu juga sering dijadikan jalan pintas, atau jalan penghubung dua kampung. Sebab, kolong Jembatan Wonokromo menghubungkan dua kampung. Yaitu Kampung Jagir Lapangan dan Kampung Pulo Wonokromo.

Misalnya, jika tidak lewat kolong Jembatan Wonokromo, maka warga Kampung Jagir Lapangan harus menyeberang melalui jembatan penyeberangan orang (JPO) yang lokasinya ada di dekat Fly Over Wonokromo. Begitu juga sebaliknya, jika warga Kampung Pulo Wonokromo mau ke Jagir Lapangan, maka dia harus melakukan hal yang sama.

Namun, karena ada endapan sungai, maka mereka bisa lewat di pinggir sungai itu. Memang berbahaya, tapi sangat memangkas Waktu dan tenaga. Termasuk saya juga pernah lewat di jalur tersebut.

Hal itu terjadi saat saya masih di usia sekolah TK. Biasanya saya melewati jalur di kolong Jembatan Wonokromo itu baik untuk berangkat, maupun pulang sekolah. Untungnya saat itu, saya tidak ketemu buaya he he he… (surabayakabarmetro.id)

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi