Berita Creative Humaniora IDEAS Kesehatan Utama

Niat Tidur Cepat, Berakhir Jam 2 Pagi, Bagaimana Bisa ‘Lima Menit Lagi’ Jadi Tiga Jam?

Niat Tidur Cepat, Berakhir Jam 2 Ilustrasi artikel Pagi, Bagaimana Bisa 'Lima Menit Lagi' Jadi Tiga Jam? (unsplash)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – “Lima menit lagi, habis itu tidur.”

Kalimat sederhana yang mungkin sudah terlalu sering kita ucapkan.

Awalnya hanya ingin menonton satu video sebelum tidur. Lalu muncul video berikutnya yang terasa lebih menarik. Setelah itu membuka Instagram sebentar, membalas chat, mengecek TikTok, kemudian tiba-tiba melihat jam.

01.47.

Padahal, beberapa jam sebelumnya kita sudah berjanji kepada diri sendiri untuk tidur lebih awal.

Fenomena seperti ini terasa sangat akrab bagi Gen Z.

Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat justru berubah menjadi waktu paling aktif untuk berselancar di dunia digital.

Ada tugas yang dikerjakan, percakapan yang baru terasa seru tengah malam, video yang terus muncul di halaman rekomendasi, atau sekadar keinginan untuk menikmati waktu sendiri setelah seharian sibuk.

Yang menarik, sering kali kita sebenarnya sudah mengantuk. Mata mulai berat, tetapi tangan masih terus menggulir layar. “Satu video lagi” berubah menjadi lima video.

“Cek HP sebentar” berubah menjadi satu jam. Lima menit yang awalnya terasa kecil perlahan mengambil waktu tidur tanpa kita sadari.

Salah satu penyebabnya adalah desain platform digital yang memang membuat kita terus ingin melihat sesuatu. Video pendek tidak memiliki akhir yang benar-benar terasa sebagai akhir.

Setelah satu video selesai, video lain langsung tersedia. Tidak ada halaman penutup yang mengatakan bahwa waktunya berhenti.

Akhirnya, keputusan untuk berhenti sepenuhnya berada di tangan kita.

Masalahnya, tangan sering kali berkata, “sebentar lagi,” sementara jam terus berjalan.

Belum lagi munculnya kebiasaan mencari hiburan setelah menjalani hari yang panjang.

Setelah kuliah, mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan, atau menyelesaikan pekerjaan, malam menjadi satu-satunya waktu ketika kita merasa benar-benar memiliki diri sendiri.

Akhirnya, waktu tidur terasa seperti sesuatu yang harus dikorbankan demi mendapatkan sedikit waktu pribadi.

Inilah yang membuat kalimat “aku cuma mau santai sebentar” menjadi jebakan yang familiar. Kita ingin beristirahat dari aktivitas sepanjang hari, tetapi justru menggunakan waktu tidur untuk melakukannya.

Padahal, tubuh tetap memiliki batas. Kurang tidur dapat membuat tubuh dan pikiran tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup.

Akibatnya, pagi hari dimulai dengan rasa lelah, sulit berkonsentrasi, dan keinginan untuk kembali tidur. Malam berikutnya, kita mengulang pola yang sama dengan alasan yang hampir serupa.

Tidur cepat akhirnya selalu menjadi rencana untuk besok.

Mungkin masalahnya bukan karena kita tidak tahu bahwa tidur itu penting. Kita semua tahu. Masalahnya adalah kita terlalu sering merasa bahwa lima menit tidak akan mengubah apa-apa. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi