SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA– Resepsi peringatan Hari Jadi Kota Surabaya atau HJKS ke-731 di Balai Kota Surabaya, Jumat 31 Mei 2024 berlangsung meriah.
Sebab, acara tersebut diisi oleh berbagai penampilan kesenian tradisional.
Di antaranya seni patrol yang dimainkan oleh para siswa SD.
Selain itu, juga ada pagelaran seni budaya oleh seniman yang berjudul “Semarak Surabaya”.
Penampilan itu memiliki makna khusus, yaitu menceritakan keberanian dan keluhuran nilai budaya.
Kisah tersebut terinspirasi dari cerita tokoh lokal yang berkembang di Surabaya.
Yaitu Joko Jumput, putra Ibu Praba Kinco.
Joko Jumput membabat alas dengan bekal pecut gembolo Geni dan ramuan mujarab dari ibunya.
Hingga pada akhirnya Surabaya perlahan menjelma menjadi kawasan yang didatangi dari berbagai suku dan masyarakat.
Ada satu lagi yang unik dalam kegiatan itu.
Tepatnya saat MC memadukan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Suroboyoan.
Seorang MC mengatakan para hadirin diminta berdiri dalam Bahasa Indonesia.
Lalu MC lainnya menerjemahkannya dalam Bahasa Suroboyoan.
“Poro tamu dijaluk ngadek (Para tamu dimohon berdiri),” ucapnya.
Hal itu sontak saja membuat para hadirin ngakak.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sangat mengapresiasi berbagai penampilan tersebut.
“Ini yang membedakan dengan resepsi HJKS di tahun sebelumnya,” kata Eri Cahyadi.
Menurutnya, tampilan seni itu memiliki makna filosofis tersendiri.
“Pertunjukan seni Surabaya tersebut menunjukkan bahwa Surabaya dibangun dengan kebersamaan dan keberagaman,” ujarnya.
Bagi Eri Cahyadi, momentum HJKS memiliki makna khusus.
Yaitu untuk memperkuat gotong royong antar masyarakat.
“Membangun Surabaya tak bisa dengan one man show. Namun, memerlukan gotong royong seluruh pihak untuk bersama-sama memajukan kota menuju kesejahteraan,” tandas Eri Cahyadi. (surabayakabarmetro.id)




