SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Belakangan ini istilah age of bad news ramai dibicarakan di media sosial setelah Maudy Ayunda membagikan pemikirannya tentang bagaimana menghadapi kabar buruk yang datang bertubi-tubi.
Konten tersebut kemudian menuai beragam respons.
Sebagian orang menganggap penting untuk menjaga kesehatan mental dengan membatasi paparan berita, sementara sebagian lainnya menilai bahwa mengambil jarak dari kabar buruk tidak selalu mudah, terutama bagi mereka yang merasakan langsung dampak dari suatu peristiwa.
Perdebatan tersebut sebenarnya menunjukkan satu hal yaitu di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini semakin sering berhadapan dengan berbagai kabar buruk dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari isu sosial, politik, bencana, hingga berbagai peristiwa yang muncul setiap hari di media sosial.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan ketika berada dalam kondisi seperti ini?
Tetap Peduli, tetapi Tidak Harus Mengonsumsi Semuanya
Mengetahui apa yang sedang terjadi tetap penting. Namun, mengetahui sebuah berita tidak berarti harus mengikuti setiap unggahan, video, atau komentar mengenai berita tersebut.
Informasi yang sama terkadang muncul berulang kali dengan sudut pandang berbeda.
Jika terus dikonsumsi tanpa jeda, seseorang justru bisa merasa semakin lelah dan kewalahan.
Karena itu pilih sumber informasi yang terpercaya dan cukup ikuti perkembangan utamanya. Hindari menjadikan media sosial sebagai satu-satunya tempat untuk memahami sebuah peristiwa.
Bedakan Informasi dan Dampak Emosional
Tidak semua berita harus direspons dengan cara yang sama. Ada berita yang cukup diketahui, ada pula yang memang membutuhkan tindakan.
Ketika menemukan kabar buruk, penting untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan? Jika memang bisa membantu, kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti menyebarkan informasi yang benar, memberikan bantuan, atau mendukung pihak yang terdampak.
Namun, jika tidak ada tindakan yang bisa dilakukan saat itu, mengambil jeda dari pemberitaan juga bukan berarti tidak peduli.
Beri Jeda dari Layar
Membatasi waktuuntuk membaca berita dapat membantu agar pikiran tidak terus-menerus berada dalam situasi yang penuh tekanan.
Misalnya, memilih waktu tertentu untuk mengecek berita daripada membuka media sosial setiap beberapa menit.
Jeda juga bisa diisi dengan aktivitas lain, seperti membaca buku, berbincang dengan orang terdekat, berolahraga, atau melakukan kegiatan yang membuat pikiran lebih tenang.
Jangan Menutup Mata, Jangan Juga Tenggelam
Menghadapi age of bad news bukan berarti harus memilih antara peduli atau menjaga diri. Keduanya tetap bisa dilakukan secara bersamaan.
Tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitar merupakan bentuk kepedulian. Namun, menjaga batas terhadap informasi yang dikonsumsi juga penting agar kepedulian tersebut tidak berubah menjadi kelelahan.
Hidup di tengah banyak kabar buruk bukan berarti setiap kabar harus kita bawa sepanjang hari. Kita tetap bisa peduli, mencari informasi yang benar, melakukan sesuatu ketika mampu, dan memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




