Berita Creative FANTASY IDEAS Utama

Insidious: Out of the Further, Paradoks Ketakutan yang Menjadi Cerita, Mengapa Film Horor Selalu Menemukan Penontonnya?

Ilustrasi bioskop (istimewa)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Bayangkan berada di sebuah bioskop dalam keadaan gelap. Layar mulai menampilkan sebuah rumah yang tampak tenang.

Tidak ada apa-apa yang terjadi.

Musik perlahan menghilang. Kamera bergerak menuju sebuah lorong yang kosong.

Penonton tahu bahwa sesuatu mungkin akan muncul, tetapi tidak tahu kapan dan dari mana.

Justru pada saat itulah rasa takut mulai bekerja.

Menariknya, penonton tidak lantas meninggalkan bioskop. Mereka tetap duduk, menunggu, bahkan kebanyakan sengaja memilih film horor sebagai tontonan.

Fenomena tersebut menunjukkan sebuah hal yang cukup paradoks: manusia yang secara alami berusaha menghindari rasa takut ternyata juga bersedia membayar untuk merasakannya.

Fenomena serupa dapat dilihat dalam Insidious: Out of the Further.

Sebagai bagian terbaru dari waralaba Insidious, film ini kembali membawa penonton ke dunia supranatural yang menjadi ciri khas ceritanya.

Namun, daya tarik film horor sebenarnya tidak berhenti pada kemunculan hantu atau kejutan yang tiba-tiba. Di balik semua itu terdapat sesuatu yang lebih mendasar: ketertarikan manusia terhadap ketakutan.

Horor Bukan Sekadar Tentang Hantu

Ketika membicarakan film horor, hal pertama yang mungkin muncul dalam pikiran adalah hantu, monster, darah, atau sosok mengerikan.

Padahal, sebuah film tidak harus selalu memperlihatkan sesuatu yang menakutkan untuk membuat penontonnya merasa takut.

Ketakutan justru sering kali muncul dari sesuatu yang tidak terlihat.

Insidious memahami hal tersebut dengan baik. Dunia “The Further” dalam waralaba ini menjadi ruang yang tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh manusia. Keberadaan dunia tersebut membuat batas antara kehidupan manusia dan dunia supranatural menjadi kabur.

Penonton tidak hanya diajak melihat sesuatu yang mengerikan, tetapi juga dibuat bertanya-tanya tentang apa yang mungkin berada di balik sesuatu yang tidak mereka ketahui.

Di sinilah ketidakpastian memainkan peranan penting.

Sebuah lorong kosong mungkin sebenarnya tidak menakutkan.

Namun, ketika penonton mengetahui bahwa ada kemungkinan sesuatu sedang mengawasi dari balik kegelapan, lorong tersebut berubah menjadi ruang yang penuh ancaman.

Dengan kata lain, rasa takut tidak selalu berasal dari apa yang terlihat, tetapi dari kemungkinan mengenai apa yang mungkin terjadi.

Ketakutan terhadap Sesuatu yang Tak Terlihat

Satu di antara kekuatan Insidious terletak pada cara film tersebut memainkan sesuatu yang tidak sepenuhnya terlihat.

Ketakutan tidak selalu harus ditampilkan secara terang-terangan.

Keheningan, suara dari kejauhan, ruangan kosong, atau perubahan suasana dapat menjadi alat untuk membangun ketegangan.

Cara tersebut sebenarnya dekat dengan pengalaman manusia sehari-hari.

Kita sering kali merasa takut bukan karena mengetahui sesuatu secara pasti, melainkan karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi.

Ketika berjalan sendirian di tempat yang gelap, misalnya, suara kecil yang sebenarnya tidak berbahaya dapat terasa mengancam.

Pikiran mulai mengisi kekosongan informasi dengan berbagai kemungkinan.

Dalam konteks film, mekanisme tersebut dimanfaatkan untuk membuat penonton ikut membangun rasa takutnya sendiri.

Karena itu, terkadang imajinasi penonton justru menjadi “monster” yang paling efektif.

Mengapa Horor Tidak Pernah Kehabisan Penonton?

Ketakutan manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah adalah bentuknya.

Pada masa lalu, masyarakat mengenal ketakutan melalui mitos, legenda, cerita rakyat, dan berbagai kisah tentang makhluk supernatural. Cerita-cerita tersebut menjadi cara masyarakat menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.

Kini, bentuknya berubah. Ketakutan hadir melalui film, serial, gim, dan berbagai bentuk hiburan digital.

Namun, persoalan dasarnya tetap sama: manusia berhadapan dengan sesuatu yang tidak diketahui, tidak dapat diprediksi, atau tidak dapat dikendalikan.

Itulah sebabnya genre horor seolah selalu menemukan jalannya untuk kembali kepada penonton.

Insidious: Out of the Further menjadi salah satu contoh bagaimana formula horor dapat terus dikembangkan.

Dunia supranatural yang ditawarkan mungkin berbeda dari kisah-kisah horor pada masa lalu, tetapi perasaan yang ditimbulkannya tetap memiliki akar yang sama: rasa ingin tahu sekaligus ketakutan terhadap sesuatu yang berada di luar pemahaman manusia.

Kita Tidak Selalu Menonton Horor untuk Takut

Pada akhirnya, mungkin kita tidak selalu menonton film horor karena benar-benar menyukai rasa takut. Bisa jadi, kita justru menyukai kesempatan untuk berhadapan dengan ketakutan dalam ruang yang aman.

Di dalam bioskop, kita dapat menutup mata ketika sesuatu muncul di layar. Kita dapat tertawa setelah adegan menegangkan berakhir. Kita bahkan dapat mendiskusikan adegan yang paling menakutkan bersama teman setelah film selesai.

Ketakutan yang semula terasa mengancam akhirnya berubah menjadi pengalaman yang dapat dibagikan.

Barangkali, di situlah kekuatan cerita horor.

Ia mengingatkan bahwa rasa takut merupakan bagian dari kehidupan manusia, tetapi rasa takut tidak selalu harus dihindari.

Melalui cerita, manusia dapat melihat, merasakan, dan memahami ketakutannya dari jarak yang aman.

Dan selama manusia masih memiliki sesuatu yang ditakuti, cerita horor tampaknya akan selalu memiliki alasan untuk terus diceritakan. (surabayakabarmetro.id)

Penulis Alya Salbilatun N

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi