SURABAYAKABARMETRO.ID, NGANJUK – Bagi sebagian orang, air terjun mungkin hanya tempat untuk menikmati pemandangan dan mencari udara segar.
Namun, bagi masyarakat Nganjuk, Air Terjun Sedudo memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Setiap tahun, kawasan yang berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, tersebut menjadi tempat berlangsungnya salah satu tradisi budaya yang paling dikenal dari Nganjuk, yaitu Siraman Sedudo.
Tradisi ini dilaksanakan pada bulan Suro atau Muharam dan dimaknai sebagai simbol penyucian diri, refleksi, serta ungkapan rasa syukur.
Pada pelaksanaannya, Siraman Sedudo tidak hanya berupa prosesi mandi di bawah air terjun. Ada rangkaian budaya yang mengiringinya, mulai dari kirab pusaka, jamasan atau penyucian pusaka, hingga prosesi siraman sebagai puncak acara.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah Tari Amek Tirto. Tarian tersebut menggambarkan proses pengambilan air suci dari kawasan Sedudo.
Dalam prosesi 2026, tarian ini dibawakan oleh sembilan penari perempuan, kemudian dilanjutkan dengan pengambilan tirta oleh para gadis yang menjadi bagian dari ritual. Air tersebut kemudian menjadi simbol kesucian, harapan, dan keberkahan.
Keunikan Siraman Sedudo juga terletak pada aturan dan simbol yang menyertainya. Peserta yang mengikuti prosesi diharapkan menjaga tutur kata dan sikap selama berada di kawasan ritual.
Dalam tradisi tersebut, mandi dari ujung rambut hingga kaki dimaknai sebagai simbol membersihkan diri secara lahir dan batin.
Di balik prosesi tersebut, terdapat pula berbagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Air Sedudo dipercaya membawa keberkahan dan memiliki berbagai manfaat.
Kepercayaan semacam ini menjadi bagian dari cerita budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, meskipun pemaknaannya tentu dapat berbeda bagi setiap orang.
Yang membuat tradisi ini semakin menarik adalah kemampuannya bertahan di tengah perubahan zaman. Siraman Sedudo tidak hanya menjadi ritual yang dilakukan oleh masyarakat setempat, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pariwisata, dan kehidupan sosial.
Pelaksanaannya bahkan menarik ribuan masyarakat dan wisatawan untuk datang ke kawasan Sedudo.
Pemerintah Kabupaten Nganjuk juga terus mendorong pelestarian tradisi tersebut. Pada 2026, masyarakat bahkan diajak mendokumentasikan Siraman Sedudo melalui lomba video. Cara ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan cara lama.
Tradisi dapat tetap dijaga sambil diperkenalkan melalui cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Namun, mungkin hal paling menarik dari Siraman Sedudo bukan sekadar bagaimana ritual tersebut dilakukan. Ada pesan yang lebih sederhana di baliknya: bahwa sebuah daerah dapat menyimpan identitasnya melalui hal-hal yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Di tengah kehidupan yang semakin modern, tradisi seperti Siraman Sedudo mengingatkan bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan tua atau benda bersejarah. Ia bisa hadir dalam air yang mengalir, tarian yang terus dipentaskan, pusaka yang dirawat, dan masyarakat yang masih berkumpul untuk menjalankan sesuatu yang sama dari tahun ke tahun. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




