SURABAYAKABARMETRO.ID, GRESIK – Lebaran tidak selalu berhenti setelah Idulfitri.
Di sejumlah daerah di Jawa, masih ada tradisi yang dilakukan beberapa hari setelahnya, salah satunya Riyoyo Kupatan.
Tradisi ini juga dikenal dan masih dijalankan oleh masyarakat di Gresik sebagai bagian dari budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Di Gresik, Riyoyo Kupatan biasanya dilaksanakan pada 8 Syawal, setelah masyarakat menjalankan puasa Syawal selama enam hari setelah 1 Syawal.
Momen ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul bersama keluarga, tetangga, dan kerabat sekaligus melanjutkan tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur.
Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari Riyoyo Kupatan adalah membawa ketupat ke langar (mushala) atau masjid.
Ketupat yang telah disiapkan dari rumah kemudian dibawa untuk didoakan bersama. Setelah doa selesai, ketupat tersebut disantap bersama-sama oleh masyarakat.
Kegiatan tersebut membuat perayaan Riyoyo Kupatan tidak hanya berlangsung di lingkungan keluarga, tetapi juga menjadi momen kebersamaan warga. Masyarakat berkumpul, membawa makanan dari rumah masing-masing, kemudian menikmatinya bersama setelah doa.
Tradisi Riyoyo Kupatan di Gresik juga memiliki kisah yang dikaitkan dengan leluhur masyarakat setempat. Konon, tradisi ini merupakan peninggalan Kiai Baka, tokoh yang disebut sebagai keturunan Sunan Giri.
Kiai Baka disebut pernah mengimbau masyarakat untuk melanjutkan ibadah puasa selama enam hari setelah 1 Syawal. Puasa tersebut kemudian menjadi bagian yang berkaitan dengan pelaksanaan Riyoyo Kupatan yang jatuh pada 8 Syawal.
Sesuai namanya, ketupat menjadi makanan yang tidak bisa dipisahkan dari perayaan ini. Masyarakat biasanyamenyiapkan ketupat dalam jumlah cukup banyak untuk disantap bersama keluarga maupun dibagikan kepada tetangga.
Ketupat umumnya disajikan bersama berbagai hidangan pendamping, seperti opor, sayur, sambal, atau makanan khas lainnya. Setiap keluarga bisa memiliki sajian yang berbeda sesuai kebiasaan masing-masing.
Namun, Riyoyo Kupatan bukan hanya tentang hidangan yang disajikan.
Tradisi ini juga menjadi momen untuk mempererat hubungan antarmasyarakat. Setelah menjalani rangkaian Ramadhan, Idulfitri, dan puasa Syawal, warga kembali berkumpul dan saling berbagi.
Di tengah kehidupan yang semakin modern, tradisi seperti Riyoyo Kupatan masih memiliki tempat di masyarakat. Pelaksanaannya menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kebiasaan berkumpul, berdoa, berbagi makanan, dan menjaga silaturahmi.
Bagi masyarakat Gresik, Riyoyo Kupatan bukan sekadar perayaan setelah Lebaran. Tradisi ini juga menjadi bagian dari warisan budaya yang menghubungkan kebiasaan masyarakat saat ini dengan cerita dan peninggalan leluhur.
Karena itu ketika memasuki 8 Syawal, ketupat bukan hanya menjadi hidangan yang memenuhi meja makan. Ketupat yang dibawa ke masjid atau langgar, didoakan, lalu dimakan bersama menjadi bagian dari tradisi yang mempertemukan nilai keagamaan, kebersamaan, dan budaya masyarakat Gresik. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




