SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – “Jarang pulang, nggak kangen rumah?”
Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi mahasiswa yang memilih tidak sering pulang ke rumah, pertanyaan tersebut kadang terasa seperti sebuah tuduhan kecil.
Seolah-olah semakin jarang pulang, semakin jauh pula rasa sayang kepada keluarga.
Padahal, tidak selalu begitu.
Ada mahasiswa yang setiap akhir pekan pulang karena memang ingin bertemu keluarga. Ada yang pulang karena jarak rumah tidak terlalu jauh.
Ada pula yang hanya pulang ketika libur panjang.
Bukan karena keluarganya tidak penting, tetapi karena kehidupan di tempat kuliah sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Bagi sebagian mahasiswa, kota tempat kuliah bukan lagi sekadar tempat untuk belajar.
Di sana ada teman, organisasi, kegiatan kampus, tugas, tempat makan langganan, hingga rutinitas kecil yang perlahan terasa seperti kehidupan sendiri. Pulang berarti meninggalkan semua itu untuk sementara waktu.
Ada juga mahasiswa yang memang menikmati hidup jauh dari rumah. Untuk pertama kalinya, mereka memiliki kesempatan menentukan sendiri kapan harus bangun, dengan siapa menghabiskan waktu, bagaimana mengatur uang, dan bagaimana menyelesaikan masalah tanpa selalu meminta bantuan keluarga.
Tinggal jauh dari rumah akhirnya bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Karena itu, memilih untuk tidak pulang setiap minggu bukan berarti sedang menjauh dari keluarga. Terkadang, seseorang hanya sedang menikmati ruang yang akhirnya ia miliki setelah bertahun-tahun hidup dalam lingkungan yang sama.
Lucunya, rasa rindu pun tidak selalu datang dalam bentuk keinginan untuk segera pulang. Kadang rindu muncul ketika melihat makanan yang biasa dimasak ibu. Ketika mendengar suara ayah lewat telepon. Ketika menemukan sesuatu yang membuat kita berpikir, “Kalau di rumah, pasti ibu suka ini.”
Namun, setelah itu kita tetap memilih untuk tinggal.
Sebab sayang kepada keluarga dan nyaman hidup jauh dari rumah bukanlah dua hal yang bertentangan.
Ada mahasiswa yang jarang pulang tetapi rutin menelepon. Ada yang tidak banyak bercerita di grup keluarga, tetapi selalu memastikan kabar orang rumah baik-baik saja.
Ada pula yang mungkin terlihat sangat menikmati kehidupan kampus, tetapi diam-diam menyimpan rencana untuk membawa sesuatu ketika akhirnya pulang.
Hubungan dengan keluarga juga tidak selalu harus diukur dari seberapa sering kaki menginjak halaman rumah.
Tentu, kondisi setiap keluarga berbeda.
Ada mahasiswa yang memang memiliki alasan ekonomi, jarak, jadwal kuliah, atau tanggung jawab lain yang membuat mereka tidak bisa sering pulang. Tetapi bagi mereka yang memang memilih untuk tinggal lebih lama, pilihan tersebut juga layak dipahami tanpa buru-buru dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila



