Berita Creative Humaniora IDEAS Nasional Utama

Sosok Maudy Ayunda, Ramai Jadi Perbincangan karena Bahas Mindfulness In The Age of Bad News

Sosok Maudy Ayunda, Ramai Jadi Perbincangan karena Bahas Mindfulness In The Age of Bad News (YouTube/ Maudy Ayunda)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Nama Maudy Ayunda tentu bukan nama asing bagi masyarakat Indonesia. Ia dikenal sebagai aktris, penyanyi, penulis, sekaligus figur publik yang lekat dengan citra pendidikan dan pengembangan diri.

Kariernya dimulai sejak usia muda melalui dunia film, kemudian berkembang ke musik dan berbagai aktivitas lainnya. Pendidikan juga menjadi bagian penting dari perjalanan Maudy.

Ia menempuh pendidikan sarjana di University of Oxford dan kemudian melanjutkan studi magister di Stanford University.

Citra tersebut membuat Maudy tidak sekadar dikenal sebagai seorang selebritas.

Ia juga kerap dipandang sebagai figur yang membawa pesan tentang pendidikan, kesehatan mental, pengembangan diri, dan kehidupan yang lebih reflektif.

Namun, belakangan citra tersebut justru berhadapan dengan perdebatan di media sosial.

Sebuah video YouTube Maudy berjudul Mindfulness in the Age of Bad News kembali ramai diperbincangkan.

Dalam konten tersebut, Maudy membicarakan bagaimana seseorang dapat menjaga kesehatan mental ketika terus berhadapan dengan berbagai kabar buruk.

Gagasan tentang mengambil jarak dari derasnya informasi kemudian memunculkan kritik dari sebagian warganet.

Persoalannya bukan semata-mata tentang mindfulness. Yang menjadi perdebatan adalah siapa yang memiliki kesempatan untuk mengambil jarak dari masalah?

Bagi sebagian orang, mematikan notifikasi, berhenti membaca berita, atau mengambil jeda dari media sosial mungkin merupakan bentuk menjaga kesehatan mental. Namun, bagi orang lain, kabar buruk bukan sesuatu yang bisa begitu saja dijauhkan.

Persoalan ekonomi, pekerjaan, keluarga, lingkungan, maupun kondisi sosial dapat membuat seseorang berhadapan langsung dengan masalah yang sedang terjadi.

Di titik inilah muncul istilah tone deaf, yang dalam konteks percakapan publik merujuk pada kesan kurang peka terhadap perasaan atau kondisi kelompok lain.

Sejumlah warganet menilai pesan Maudy terlalu mudah diterapkan oleh orang yang memiliki ruang dan pilihan untuk mengambil jarak dari persoalan sosial.

Kritik tersebut kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: apakah menjaga kesehatan mental berarti kita harus menjauh dari semua persoalan di sekitar?

Jawabannya tentu tidak sesederhana itu.

Mindfulness pada dasarnya bukan berarti menjadi tidak peduli. Justru, gagasan utamanya berkaitan dengan kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi, termasuk keadaan diri sendiri.

Persoalannya adalah bagaimana gagasan tersebut disampaikan ketika masyarakat sedang berada dalam situasi yang sensitif.

Pesan yang mungkin dimaksudkan sebagai ajakan untuk menjaga diri dapat diterima berbeda ketika konteks sosial di sekitarnya sedang penuh tekanan.

Maudy sendiri kemudian memberikan klarifikasi. Ia mengakui bahwa kemampuan untuk menjauh dari pemberitaan merupakan sebuah keistimewaan karena tidak semua orang memiliki pilihan tersebut, terutama mereka yang terdampak langsung oleh berbagai persoalan. Ia juga meminta maaf karena bagian tersebut belum cukup ia refleksikan dalam videonya.

Di sinilah polemik tersebut menjadi menarik. Bukan hanya karena melibatkan seorang selebritas, tetapi karena memperlihatkan bagaimana sebuah pesan dapat berubah makna ketika bertemu dengan pengalaman hidup yang berbeda.

Apa yang terasa sebagai nasihat bagi seseorang mungkin terdengar seperti pengabaian bagi orang lain.

Dan mungkin, di tengah kehidupan digital yang membuat semua orang dapat berbicara sekaligus memberikan penilaian, kita perlu belajar satu hal: menjaga diri dan peduli terhadap sekitar sebenarnya bukan dua hal yang harus dipilih salah satunya.

Kita boleh beristirahat dari berita. Kita boleh merasa lelah. Kita juga boleh menjaga kesehatan mental. Tetapi pada saat yang sama, kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan untuk menekan tombol pause terhadap persoalan yang sedang mereka hadapi.

Polemik Maudy akhirnya bukan sekadar tentang apakah mindfulness itu benar atau salah. Lebih jauh, kasus ini menunjukkan bahwa berbicara tentang kesehatan mental juga membutuhkan kepekaan terhadap konteks sosial.

Sebab menjadi mindful bukan hanya tentang memahami apa yang terjadi di dalam diri sendiri. Mungkin, mindfulness juga berarti menyadari bahwa di luar diri kita ada orang lain yang sedang menjalani kenyataan yang berbeda. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi