SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Akhir-akhir ini istilah tone deaf sering sekali muncul di media sosial, tapi apasih sebenarnya tone deaf itu? Istilah tone deaf biasanya digunakan ketika ada seseorang memberikan respons yang dianggap tidak sesuai dengan situasi yang terjadi.
Jadi secara sederhananya Tone deaf digunakan unutk menyebut seseorang yang dinilai kurang peka terhadap apa yang terjadi dan tidak bisa membaca suasana, bukan hanya apa yang dikatakan tetapi soal kapan, dimana, dan salama situasi seperti apa hal itu disampaikan.
Istilah ini semakin sering muncul karena media sosial mendatangkan berbagai respons secara cepat, dimana satu unggahan saja dapat mendatangkan berbagai komentar.
Kata tone deaf tidak hanya digunakan untuk menyebut seseorang saja. Di media sosial, istilah ini bisa muncul ketika akun yang punya banyak pengikut, organisasi, atau merek mengunggah sesuatu yang dinilai tidak cocok dengan kondisi tertentu.
Respons dari pengguna media sosial kemudian muncul karena unggahan itu dianggap tidak cukup peka.
Contohnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika orang-orang sedang berbicara tentang sesuatu yang serius, tiba-tiba ada seseorang yang mengeluarkan lelucon yang dianggap tidak cocok, orang itu mungkin disebut tidak memahami keseriusan situasi.
Sama halnya ketika seseorang memberi komentar tanpa memperhatikan kondisi atau perasaan orang lain yang sedang terlibat dalam masalah itu.
Meskipun begitu bukan berarti jika ada ucapan yang tidak menyenangkan bisa disebut tone deaf akan tetapi bergantung pada konteks nya, apa yang sedang terjadi, kepada siapa hal tersebut disampaikan dan bagaimana cara menyampaiannya.
Menggunakan kata ‘tone deaf’ sebenarnya menunjukkan bahwa orang-orang di media sosial tidak hanya memperhatikan isi pembicaraan, tetapi juga memperhatikan konteks atau situasi yang mendasari ucapan tersebut. Waktu dan cara mengatakan sesuatu ternyata memengaruhi bagaimana pesan itu diterima oleh orang lain.
Hal ini juga berlaku dalam percakapan sehari-hari. Tawaan yang terdengar lucu ketika berada bersama teman-teman belum tentu tepat ketika seseorang sedang mengalami masalah. Memberi pendapat sebaiknya tidak dilakukan tergesa-gesa sebelum benar-benar memahami masalah yang sedang dibicarakan. Jadi, ketika seseorang disebut tonedeafr, yang jadi perhatian belum tentu maksudnya. Bisa jadi masalah muncul karena tidak cocoknya perkataan atau perbuatan dengan kondisi yang sedang terjadi.
Di media sosial yang semakin cepat, kemampuan memahami situasi jadi semakin penting. Tidak semua hal perlu langsung dikomentari dan tidak semua lelucon cocok untuk setiap situasi. Sering kali, lebih baik memahami keadaan terlebih dahulu daripada hanya memberikan respons secara langsung. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Nova Yulia




