SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Surabaya sedang ramai membicarakan sesuatu yang selama ini tidak terlihat: sesar aktif. Sebuah video di media sosial yang menyebut adanya patahan aktif di kawasan Surabaya–Madura viral.
Hal ini kemudian membuat banyak orang mulai bertanya-tanya.
Bagaimana jika jalan yang setiap hari dilewati, rumah yang ditempati, atau kampus tempat kuliah ternyata berada tidak jauh dari jalur sesar?
Kekhawatiran itu sebenarnya wajar.
Terlebih, video yang beredar menyebut adanya patahan sepanjang sekitar 90 kilometer yang membentang dari Bangkalan, melewati Surabaya, hingga Sidoarjo. Dalam video tersebut, sejumlah kawasan di Surabaya disebut berada di sekitar lintasan sesar. Informasi itu kemudian menyebar luas dan membuat istilah “sesar Surabaya–Madura” menjadi perbincangan.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diluruskan: sesar aktif tersebut bukan penemuan baru.
BMKG menjelaskan bahwa keberadaan sesar aktif di wilayah Surabaya dan sekitarnya telah masuk dalam kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) sejak 2017 dan diperbarui pada 2024. Artinya, keberadaan struktur sesar bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul setelah video tersebut viral.
Pakar Geologi ITS Prof Amien Widodo juga mengingatkan masyarakat agar tidak begitu saja mempercayai informasi kebencanaan yang beredar di media sosial.
Menurutnya, Sesar Surabaya dan Sesar Waru telah dipetakan secara resmi, tetapi klaim mengenai adanya sesar aktif baru yang membentang hingga Madura perlu dibuktikan dengan data dan peta resmi.
Lalu, seberapa dekat sebenarnya sesar dengan kehidupan warga Surabaya?
Jawabannya mungkin lebih dekat daripada yang kita bayangkan, tetapi bukan berarti setiap orang yang tinggal di Surabaya sedang berada dalam bahaya.
Keberadaan sesar aktif tidak sama dengan kepastian bahwa gempa besar akan segera terjadi. Justru, informasi mengenai sesar seharusnya menjadi pengingat bahwa kehidupan di wilayah yang memiliki potensi gempa membutuhkan kesiapsiagaan.
BMKG sendiri menjelaskan bahwa secara geologis Surabaya berada dalam zona Sesar Kendeng, sementara Madura berkaitan dengan zona Sesar RMKS.
Sejarah juga mencatat bahwa wilayah Surabaya pernah mengalami gempa merusak pada 1867.
Karena itu, persoalannya bukan tentang apakah warga Surabaya harus takut setiap kali mendengar kata “sesar”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami informasi tersebut dengan benar.
Di era media sosial, sebuah garis merah pada peta dapat terasa jauh lebih menakutkan ketika garis itu melewati nama jalan yang kita kenal. Padahal, peta kebencanaan tidak seharusnya dibaca seperti ramalan. Sesar aktif bukan berarti gempa pasti terjadi hari ini, besok, atau dalam waktu dekat.
BMKG menegaskan bahwa hingga kini waktu terjadinya gempa bumi belum dapat diprediksi secara pasti.
Maka, ketika sebuah video tentang sesar kembali viral, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah rumah saya berada tepat di atas patahan?”, melainkan “Apakah saya sudah tahu apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi?”
Surabaya mungkin hidup di atas wilayah yang memiliki jejak aktivitas geologi. Tetapi tinggal di wilayah rawan bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Yang dibutuhkan bukan kepanikan terhadap garis di peta, melainkan kewaspadaan terhadap fakta. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




