SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Saat pekerjaan, dan tugas menumpuk atau belum selesai, kita sering memilih untuk tidur larut malam.
Entah karena tugas, menonton, bermain ponsel, kebiasaan tersebut membuat waktu tidur terus berkurang.
Perlu diketahui, waktu tidur yang hilang bisa menumpuk dan dikenal sebagai “sleep debt” atau utang tidur.
Jika hal tersebut terus berulang maka dapat memengaruhi konsentrasi dan suasana hati.
Sleep debt terjadi ketika waktu tidur yang didapat lebih sedikit dibandingkan kebutuhan tubuh.
Lalu, apakah tidur lebih lama saat akhir pekan bisa langsung memperbaiki waktu tidur yang hilang?
Tidur tambahan memang bisa membantu mengurangi rasa capek, tapi jika pola tidur sangat berbeda antara hari kerja dan hari libur, hal itu tidak selalu baik.
Penelitian pada masa muda juga menunjukkan bahwa perbedaan waktu tidur antara hari kerja, dan hari libur yang signifikan bisa berdampak pada kesehatan mental yang lebih buruk.
Untuk remaja, Kementerian Kesehatan menyebut kebutuhan tidur berada di kisaran 8–10 jam setiap malam.
Sementara itu, orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur.
Oleh karena itu, memperbaiki kebiasaan tidur yang tidak cukup, tidak bisa hanya dengan tidur tambahan saat libur.
Menjaga jadwal tidur dan bangun yang lebih teratur tetap menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan tidur yang sehat.
Buat yang sering begadang, mungkin sudah waktunya mengurangi kebiasaan menunda tidur.
Tugas dan tontonan memang bisa dilanjutkan besok, tetapi tubuh tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Nova Yulia W




