SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – “Yaudah, terserah.”
Dua kata sederhana yang terdengar seperti memberikan kebebasan. Mau makan di mana, silakan. Mau pergi sekarang atau nanti, bebas.
Mau memilih yang mana pun, tidak masalah. Namun, siapa sangka dua kata tersebut justru bisa menjadi salah satu kalimat paling membingungkan dalam percakapan sehari-hari?
Bagi sebagian orang, “terserah” berarti benar-benar tidak memiliki pilihan. Namun, dalam situasi tertentu, “terserah” bisa berarti sebaliknya. Ada rasa kecewa, kesal, malas berdebat, atau bahkan harapan agar lawan bicara cukup peka untuk memahami maksud yang sebenarnya.
Di sinilah bahasa menjadi menarik. Apa yang kita ucapkan tidak selalu sama dengan apa yang ingin kita sampaikan.
Coba bayangkan seseorang bertanya, “Mau makan apa?” lalu dijawab, “Terserah.” Jika setelah itu orang tersebut memilih makanan yang tidak disukai, tiba-tiba muncul kalimat, “Kok itu?” Situasi seperti ini mungkin terdengar lucu, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kata “terserah” ternyata tidak selalu berdiri sendiri.
Maknanya bergantung pada siapa yang mengucapkan, kepada siapa kalimat itu ditujukan, bagaimana intonasinya, dan situasi yang sedang terjadi.
Hal serupa juga muncul dalam banyak percakapan. “Nggak apa-apa” bisa benar-benar berarti tidak masalah, tetapi bisa pula menjadi cara halus untuk mengatakan bahwa sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu.
“Terserah kamu” dapat menjadi bentuk kebebasan, tetapi juga dapat terdengar seperti sindiran. Bahkan “iya” pun bisa memiliki banyak arti. Ada “iya” yang menunjukkan persetujuan, ada “iya” karena ingin mengakhiri percakapan, dan ada “iya” yang sebenarnya berarti “aku masih kesal”.
Kita akhirnya belajar bahwa percakapan bukan hanya tentang kata-kata.
Kita juga membaca jeda, ekspresi wajah, nada suara, bahkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara.
Pesan yang tidak diucapkan secara langsung justru sering kali menjadi bagian paling penting dari sebuah percakapan.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa bahasa memiliki lapisan makna yang tidak selalu terlihat. Dalam linguistik, makna yang bergantung pada konteks percakapan berkaitan erat dengan pragmatik. Satu kalimat yang sama dapat menghasilkan maksud berbeda ketika diucapkan dalam situasi berbeda.
Namun, mungkin inilah yang membuat bahasa sehari-hari terasa hidup. Kita tidak berbicara seperti kamus. Kita berbicara dengan pengalaman, emosi, kebiasaan, dan hubungan sosial yang ikut masuk ke dalam setiap kata. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




