SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – “Baju masih banyak, tapi rasanya nggak punya baju.” Kalimat seperti ini mungkin cukup sering terucap, terutama ketika sedang bersiap untuk pergi. Lemari sudah penuh dengan berbagai jenis pakaian, tetapi tetap merasa tidak ada yang cocok untuk dipakai.
Fenomena tersebut sebenarnya tidak selalu berarti seseorang kekurangan pakaian. Bisa jadi, masalahnya justru terletak pada banyaknya pilihan yang tersedia. Ketika melihat lemari yang penuh, menentukan satu pakaian untuk dikenakan bisa terasa lebih sulit dibandingkan ketika pilihan yang dimiliki lebih sedikit.
Memiliki banyak pakaian berarti ada lebih banyak kombinasi yang bisa dibuat. Namun, banyaknya pilihan juga dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan outfit.
Misalnya, sudah menemukan satu atasan yang cocok, tetapi kemudian bingung memilih celana, rok, sepatu, atau aksesoris yang sesuai. Akhirnya beberapa pakaian dicoba dan dilempar kembali ke kasur sebelum pilihan terakhir ditentukan.
Kondisi ini juga bisa membuat proses memilih pakaian terasa melelahkan. Setelah seharian menjalani berbagai aktivitas dan membuat banyak keputusan, menentukan pakaian yang akan digunakan mungkin menjadi keputusan kecil yang ikut menguras pikiran.
Tidak heran jika akhirnya muncul keinginan untuk memakai outfit yang sama berulang kali karena sudah tahu pasti akan cocok.
Media sosial juga membuat tren fashion berubah dengan cepat. Outfit yang beberapa bulan lalu terlihat menarik bisa terasa biasa saja ketika muncul banyak tren baru di TikTok atau Instagram.
Kondisi ini membuat pakaian yang sebenarnya masih layak dan nyaman digunakan terasa kurang menarik. Melihat orang lain mengenakan outfit baru juga bisa membuat seseorang merasa harus memiliki pakaian yang berbeda agar tidak terlihat monoton.
Belum lagi munculnya konten seperti rekomendasi OOTD yang membuat pilihan fashion seolah tidak ada habisnya. Setiap kali membuka media sosial, selalu ada model pakaian, warna, atau gaya baru yang bisa dicoba. Tanpa disadari hal tersebut dapat membuat pakaian yang sudah dimiliki terasa kurang menarik hanya karena tidak lagi terlihat baru di media sosial.
Perasaan “tidak punya baju” terkadang membuat seseorang berpikir untuk membeli pakaian baru. Padahal, sebelum menambah isi lemari, ada baiknya melihat kembali pakaian yang sudah dimiliki.
Mencoba memadukan pakaian dengan cara berbeda bisa menghasilkan outfit yang terasa baru. Atasan yang biasanya dipakai dengan jeans, misalnya, dapat dipadukan dengan rok atau celana model lain. Cara sederhana ini bisa membantu mengurangi keinginan untuk terus membeli pakaian.
Selain menghemat pengeluaran, menggunakan kembali pakaian yang sudah ada juga membuat isi lemari menjadi lebih fungsional. Pakaian yang jarang digunakan bisa mulai dipadukan dengan item lain atau disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari.
Daripada terus mengejar setiap tren, menentukan gaya berpakaian yang paling sesuai dengan diri sendiri juga bisa menjadi pilihan. Pilih pakaian yang nyaman dan memang sering digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan begitu isi lemari tidak hanya terlihat banyak, tetapi juga benar-benar terpakai. Persoalannya mungkin bukan karena tidak punya baju, melainkan karena belum menemukan cara untuk melihat kembali pakaian yang sudah ada.
Sebelum mengatakan “nggak punya baju” dan membuka aplikasi belanja, coba buka lemari terlebih dahulu. Bisa jadi, outfit yang dicari sebenarnya sudah ada di sana. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




