SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Siapa yang mengira di tengah ramainya pusat Kota Surabaya, ternyata sebuah arca batu berdiri tenang di kawasan Taman Apsari.
Kendaraan berlalu-lalang, gedung-gedung menjulang, dan aktivitas kota terus bergerak di sekitarnya.
Namun, di balik suasana yang begitu modern, ada satu peninggalan masa lalu yang seolah mengajak siapa pun untuk berhenti sejenak: Joko Dolog.
Bagi masyarakat Surabaya, nama Joko Dolog tentu tidak asing.
Arca yang berada di kawasan Jalan Taman Apsari ini sering kali dianggap sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang menyimpan kisah panjang tentang masa lalu Jawa.
Nama “Joko Dolog” sendiri terdengar seperti nama seorang tokoh dalam cerita rakyat.
Padahal, di balik nama tersebut terdapat sejarah yang jauh lebih tua.
Arca Joko Dolog dikenal sebagai Arca Buddha Mahaksobhya dan berkaitan dengan sosok Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari.
Arca tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 1289 Masehi dan memiliki prasasti yang terukir pada bagian alasnya.
Prasasti tersebut dikenal sebagai Prasasti Wurare dan memuat kisah mengenai perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa.
Salah satu bagian yang menarik adalah kisah Mpu Bharada.
Dalam cerita yang tercatat pada prasasti tersebut, Mpu Bharada dikisahkan sebagai tokoh yang membagi wilayah kerajaan Airlangga menjadi Janggala dan Panjalu atau Kediri.
Kisah pembagian wilayah ini dilakukan untuk menyelesaikan persoalan pewarisan kekuasaan. Cerita tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam ingatan sejarah Jawa.
Lantas, dari mana nama Joko Dolog berasal?
Ada cerita yang berkembang di masyarakat bahwa arca tersebut ditemukan di kawasan Trowulan, Mojokerto, pada abad ke-19.
Arca itu disebut ditemukan dalam kondisi tertimbun dan berada di dekat tumpukan kayu dolog atau jati.
Dari situlah sebutan “Joko Dolog” kemudian berkembang di tengah masyarakat.
Pada 1817, arca tersebut dipindahkan ke Surabaya dan akhirnya ditempatkan di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Taman Apsari.
Perjalanan arca tersebut membuat kisah Joko Dolog semakin menarik.
Sebab, tempat ia berdiri sekarang bukanlah lokasi asal ditemukannya. Arca ini telah melewati perjalanan panjang dari masa kerajaan, masa kolonial, hingga kehidupan Kota Surabaya modern.
Ada pula cerita yang berkembang mengenai upaya membawa Joko Dolog ke Belanda pada masa kolonial. Namun, rencana tersebut tidak terlaksana sehingga arca akhirnya tetap berada di Surabaya.
Kisah ini kemudian menambah lapisan cerita yang membuat Joko Dolog tidak sekadar dipandang sebagai benda peninggalan masa lampau.
Menariknya, keberadaan Joko Dolog juga tidak berhenti pada persoalan sejarah.
Kawasan di sekitar arca pernah menjadi tempat yang didatangi masyarakat untuk melakukan ritual atau ziarah tertentu.
Hal tersebut menunjukkan bagaimana sebuah peninggalan sejarah dapat memperoleh makna yang berbeda dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu.
Kini, Joko Dolog berdiri di tengah wajah Surabaya yang terus berubah.
Kehadirannya mungkin tidak semeriah Tugu Pahlawan atau kawasan Tunjungan yang selalu dipadati orang.
Namun, justru di situlah daya tariknya. Sebuah arca berusia lebih dari tujuh abad tetap bertahan di tengah kota yang setiap harinya bergerak cepat.
Joko Dolog mengingatkan bahwa sejarah Surabaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar atau monumen yang megah. Kadang-kadang, sejarah justru bersembunyi di balik sebuah arca yang tampak sederhana, menunggu untuk kembali diceritakan. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila



