Foto: Unsplash
SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan manusia dalam membuat konten digital.
Foto dapat diubah menjadi video, wajah seseorang dapat dimanipulasi, bahkan suara manusia bisa ditiru agar terdengar seperti aslinya. Teknologi ini dikenal sebagai deepfake, yang kini menjadi perhatian karena dapat disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu hingga melakukan penipuan.
Deepfake merupakan teknologi yang memanfaatkan AI untuk membuat atau memanipulasi gambar, video, maupun suara sehingga seseorang terlihat atau terdengar melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk hiburan, produksi film, dan kebutuhan kreatif lainnya. Namun, ketika digunakan tanpa izin untuk menyesatkan orang lain, deepfake dapat menimbulkan persoalan serius.
Wajah dan Suara Bukan Lagi Jaminan Keaslian
Sebelumnya, masyarakat cenderung menganggap video dan rekaman suara sebagai bukti bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi. Akan tetapi, kemajuan AI membuat anggapan tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Video yang menampilkan seseorang berbicara tidak selalu membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar mengucapkan kalimat yang terdengar di dalamnya.
Manipulasi wajah dan suara juga dapat dimanfaatkan untuk menyamar sebagai orang lain. Pelaku dapat menggunakan rekaman suara yang tersedia di internet sebagai bahan untuk meniru karakteristik suara seseorang. Sementara itu, teknologi manipulasi wajah dapat membuat seseorang seolah-olah muncul dalam video tertentu.
Federal Trade Commission (FTC), lembaga perlindungan konsumen Amerika Serikat, dalam artikel Scammers Use AI to Enhance Their Family Emergency Schemes yang diterbitkan pada Maret 2023, memperingatkan masyarakat mengenai penggunaan AI untuk mendukung penipuan yang mengatasnamakan anggota keluarga dalam keadaan darurat. Pelaku dapat meniru suara orang terdekat untuk meyakinkan korban agar segera mengirimkan uang.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI bukan sekadar persoalan konten palsu di media sosial. Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi keputusan seseorang melalui rasa panik, kedekatan emosional, dan kepercayaan terhadap identitas yang dikenalnya.
Ancaman Deepfake terhadap Kepercayaan Publik
Salah satu persoalan utama deepfake adalah kemampuannya membuat informasi palsu terlihat meyakinkan. Ketika sebuah video menampilkan tokoh publik seolah-olah menyampaikan pernyataan kontroversial, misalnya, masyarakat dapat langsung bereaksi sebelum mengetahui apakah video tersebut benar-benar asli.
Dalam situasi seperti ini, konten palsu berpotensi memicu kesalahpahaman, merusak reputasi seseorang, dan memperluas penyebaran informasi yang keliru. Dampaknya dapat semakin besar apabila konten tersebut dibagikan berulang kali melalui media sosial tanpa pemeriksaan sumber.
Europol, lembaga kerja sama penegakan hukum Uni Eropa, membahas tantangan deepfake bagi penegak hukum melalui laporan Facing Reality? Law Enforcement and the Challenge of Deepfakes yang diterbitkan pada 2022. Laporan tersebut menyoroti tantangan dalam mendeteksi manipulasi digital dan menangani penyalahgunaannya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan deepfake tidak hanya berkaitan dengan kecanggihan teknologi, tetapi juga dengan kemampuan masyarakat dalam menilai informasi. Semakin mudah konten palsu dibuat dan disebarkan, semakin penting pula kebiasaan memeriksa kebenaran sebelum mempercayai atau membagikannya.
Bagaimana Mengenali Konten Deepfake?
Mengenali deepfake tidak selalu mudah. Beberapa konten mungkin memperlihatkan gerakan bibir yang kurang sesuai, ekspresi wajah yang janggal, pencahayaan tidak konsisten, atau suara dengan intonasi yang terasa tidak alami. Namun, tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul.
Konten hasil AI yang semakin canggih juga dan dapat terlihat meyakinkan, sehingga pemeriksaan secara visual saja tidak cukup untuk memastikan keasliannya.
Langkah yang lebih aman adalah memeriksa sumber pertama konten tersebut. Jika sebuah video memuat pernyataan penting dari tokoh publik, masyarakat dapat mencari rekaman lengkap melalui akun resmi atau media tepercaya. Apabila menerima panggilan suara yang meminta uang secara mendadak, penerima sebaiknya menghubungi orang yang bersangkutan melalui nomor yang sudah dikenal untuk memastikan situasinya.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap pesan yang mendesak, terutama jika disertai permintaan transfer uang, pemberian kode OTP, atau pembukaan informasi pribadi. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan suara atau wajah yang tampak familiar. Verifikasi melalui saluran komunikasi lain dapat membantu mengurangi risiko penipuan.
konten yang dicurigai sebagai deepfake sebaiknya tidak langsung disebarkan. Membagikan video hanya karena terlihat mengejutkan dapat memperluas jangkauan informasi palsu, bahkan ketika seseorang sebenarnya tidak bermaksud menyesatkan orang lain.
Literasi Digital Menjadi Kebutuhan
Kehadiran AI tidak selalu membawa dampak negatif. Teknologi ini dapat membantu pekerjaan kreatif, pendidikan, dan berbagai kegiatan produktif. Persoalan muncul ketika kemampuannya digunakan untuk memanipulasi identitas, menyebarkan kebohongan, atau merugikan orang lain.
Oleh karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan baru dalam mengonsumsi informasi digital. Memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mengonfirmasi identitas merupakan langkah penting untuk menghadapi konten yang semakin sulit dibedakan antara asli dan palsu.
Ancaman deepfake mengingatkan bahwa sesuatu yang terlihat nyata belum tentu benar-benar terjadi. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, kepercayaan terhadap informasi tidak cukup dibangun berdasarkan apa yang dilihat atau didengar, tetapi juga melalui proses verifikasi yang cermat. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




