SURABAYAKABARMETRO.ID – Perjalanan menuju malam penghargaan tertinggi perfilman Indonesia kembali memasuki babak penting. Festival Film Indonesia (FFI) 2026 akan menggelar Malam Anugerah Piala Citra pada 20 November mendatang di Jakarta.
Sebelum malam puncak berlangsung, pengumuman nominasi pada 12 Oktober lalu telah membuka persaingan antarkarya yang siap memperebutkan penghargaan di berbagai kategori.
Tahun ini, FFI mengusung tema Askala Karya Sinema Indonesia. Kata askala berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna sinar, cahaya, dan harapan. Tema tersebut menggambarkan film sebagai medium yang mampu menghidupkan cerita, menyimpan ingatan, serta menyampaikan gagasan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui tema ini, FFI tidak hanya merayakan pencapaian para sineas, tetapi juga menyoroti keberlanjutan perjalanan sinema Indonesia.
Besarnya antusiasme terhadap ajang ini terlihat dari jumlah karya yang terdaftar. Sebanyak 531 karya mengikuti proses FFI 2026, mencakup film cerita panjang, film pendek, animasi, dokumenter, hingga kritik film.
Keragaman kategori tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan perfilman tidak hanya bertumpu pada film yang tayang di bioskop, tetapi juga pada karya-karya dengan bentuk, pendekatan, dan ruang distribusi yang berbeda.
Pada kategori Film Cerita Panjang Terbaik, lima judul yang masuk nominasi adalah Dopamin, Ghost in the Cell, Na Willa, Operasi Pesta Copet, dan Para Perasuk. Persaingan juga berlangsung pada kategori penyutradaraan, pemeranan, serta bidang teknis yang turut menentukan kualitas sebuah produksi film. Hasil akhirnya baru akan diketahui ketika para pemenang diumumkan pada malam puncak.
Menariknya, FFI tidak hanya menjadi panggung bagi aktor dan sutradara.
Di balik sebuah film, terdapat kerja panjang penulis skenario, penata kamera, penyunting gambar, penata suara, penata artistik, hingga berbagai profesi lain yang membentuk pengalaman penonton. Penghargaan di berbagai kategori menjadi kesempatan untuk menempatkan kontribusi mereka dalam sorotan yang sama.
Bagi penonton, FFI juga dapat menjadi cara untuk mengenali lebih banyak karya lokal. Film yang masuk nominasi bisa mendorong masyarakat untuk mencari judul-judul yang sebelumnya belum mereka tonton, memahami cerita dari sudut pandang berbeda, dan melihat persoalan sosial maupun budaya melalui bahasa sinema.
Menjelang 20 November, perhatian publik akan tertuju pada siapa yang membawa pulang Piala Citra. Namun, di balik hasil penjurian, ada hal lain yang layak dinantikan: cerita seperti apa yang berhasil merebut perhatian, keberagaman pengalaman siapa yang mendapat ruang, dan sejauh mana film Indonesia terus menemukan cara baru untuk berbicara kepada penontonnya. Malam penghargaan akan berlangsung satu hari, tetapi percakapan yang lahir dari film-film tersebut dapat terus berlanjut setelah lampu panggung dipadamkan. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




