Sering Disalahartikan, Ternyata Dialek Bukan Sekadar Logat, Apa Perbedaanya?
SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Pernah mendengar seseorang berbicara dengan ciri khas Surabaya, Malang, atau daerah lain di Jawa Timur? Perbedaan cara berbicara tersebut sering kali langsung disebut sebagai dialek.
Namun, masih banyak orang yang menganggap dialek hanya berkaitan dengan nada, intonasi, atau tinggi-rendahnya suara ketika seseorang berbicara.
Padahal dalam ilmu linguistik, dialek memiliki pengertian yang lebih luas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan dialek sebagai variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakainya, misalnya berdasarkan daerah, kelompok sosial, atau kurun waktu tertentu.
Apa Itu Dialek dalam Ilmu Bahasa?
Dalam kajian linguistik, dialek merupakan salah satu bentuk variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok penutur tertentu.
Perbedaan dialek dapat muncul karena faktor geografis, sosial, sejarah, serta interaksi antarmasyarakat.
Penjelasan tersebut sejalan dengan pembahasan mengenai dialek dalam Encyclopaedia Britannica, dialek dijelaskan sebagai variasi bahasa yang memiliki ciri khas dalam aspek tata bahasa, kosakata, dan pengucapan.
Sebagai contoh, masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur sama-sama menggunakan bahasa Jawa, tetapi tidak selalu memakai kosakata dan bentuk ungkapan yang sama.
Penutur di Surabaya, Malang, Madiun, dan Banyuwangi dapat memiliki kebiasaan berbahasa yang berbeda sesuai lingkungan masing-masing.
Kata “arek” misalnya, dikenal dalam penggunaan bahasa sehari-hari di Surabaya untuk merujuk pada anak atau orang dalam konteks tertentu. Contoh ini memperlihatkan bahwa ciri bahasa daerah dapat terlihat melalui pilihan kata, bukan hanya intonasi ketika berbicara.
Dengan demikian, seseorang yang berbicara dengan nada keras atau lembut belum tentu memiliki dialek yang berbeda. Untuk mengenali variasi dialek secara lebih utuh, perlu diperhatikan pula kosakata, pelafalan bunyi, dan unsur kebahasaan lainnya.
Apa Bedanya Dialek, Logat, dan Aksen?
Istilah dialek, logat, dan aksen sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari. Ketiganya memang berkaitan dengan cara manusia menggunakan bahasa, tetapi tidak selalu merujuk pada hal yang sama.
Logat umumnya digunakan untuk menyebut ciri khas pengucapan seseorang atau kelompok penutur. Hal ini dapat terlihat dari intonasi, tekanan, atau cara mengucapkan bunyi tertentu. Istilah aksen juga sering merujuk pada ciri pengucapan yang khas, termasuk pengaruh bahasa atau daerah asal penuturnya.
Sementara itu dialek memiliki cakupan yang lebih luas. Mengacu pada penjelasan Encyclopaedia Britannica, variasi dialek dapat mencakup pengucapan, kosakata, dan tata bahasa.
Sebagai gambaran sederhana, dua orang dapat mengucapkan kata-kata dengan intonasi yang mirip, tetapi menggunakan kosakata atau susunan kalimat yang berbeda karena berasal dari komunitas bahasa yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak cukup dijelaskan hanya melalui nada bicara.
Meski demikian, penggunaan istilah logat dan aksen dalam percakapan sehari-hari dapat berbeda-beda. Karena itu, pembedaan istilah tersebut perlu memperhatikan konteks pembicaraannya.
Mengapa Dialek Setiap Daerah Bisa Berbeda?
Dialek berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat. Ketika bahasa digunakan dalam lingkungan geografis dan sosial yang berbeda, kebiasaan berbahasa penuturnya juga dapat berkembang dengan ciri tersendiri.
Di Jawa Timur, misalnya, variasi bahasa Jawa dapat ditemukan dalam pilihan kata, pengucapan, partikel percakapan, hingga bentuk ungkapan sehari-hari. Selain itu, kontak dengan bahasa Madura, bahasa Indonesia, dan bahasa daerah lainnya turut membentuk keragaman penggunaan bahasa di sejumlah wilayah.
Perbedaan tersebut juga berkaitan dengan identitas sosial. Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi, tetapi dapat menunjukkan kedekatan, latar lingkungan, dan kebiasaan suatu komunitas.
Namun, dialek tidak dapat digunakan untuk memastikan asal seseorang hanya berdasarkan satu kata atau satu ciri pengucapan. Penutur dapat berpindah daerah, berinteraksi dengan berbagai kelompok, dan menyesuaikan penggunaan bahasanya dengan situasi komunikasi.
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa dialek bukanlah bentuk bahasa yang secara otomatis lebih rendah daripada variasi lainnya. Setiap dialek memiliki ciri kebahasaan yang berkembang dan dipahami dalam komunitas penuturnya.
Perbedaan dialek terkadang menimbulkan anggapan bahwa cara berbicara suatu daerah terdengar kasar, lucu, atau kurang halus. Padahal, penilaian semacam itu dapat dipengaruhi oleh kebiasaan dan persepsi pendengar.
Nada bicara yangterdengar tegas bagi seseorang, misalnya, belum tentu dimaksudkan sebagai bentuk kemarahan oleh penuturnya.
Dalam komunikasi, seseorang memang perlu menyesuaikan pilihan bahasa dengan situasi dan lawan bicara. Penggunaan bahasa dalam percakapan santai tentu dapat berbeda dari situasi resmi. Namun, penyesuaian tersebut tidak berarti dialek daerah harus dihilangkan.
Memahami dialek secara tepat dapat membantu masyarakat menghindari kesalahpahaman ketika mendengar orang lain berbicara. Perbedaan bahasa sebaiknya tidak langsung dijadikan dasar untuk menilai karakter atau kemampuan seseorang.
Dialek bukan sekadar nada bicara. Dialek merupakan variasi bahasa yang dapat dibedakan melalui kosakata, tata bahasa, dan pengucapan yang digunakan oleh kelompok penutur tertentu. Dengan memahami pengertian tersebut, masyarakat dapat melihat keberagaman bahasa secara lebih utuh sekaligus menghargai ciri khas komunikasi di setiap daerah. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




