SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Beberapa waktu terakhir, istilah “Dubai” tidak hanya muncul ketika orang membicarakan destinasi wisata atau kota dengan gedung-gedung pencakar langit.
Di dunia kuliner, nama tersebut justru semakin sering ditemukan pada berbagai jajanan.
Cokelat Dubai, croissant Dubai, pisang Dubai, cookies Dubai, hingga berbagai dessert dengan tambahan pistachio dan kunafa bermunculan di media sosial maupun etalase toko.
Fenomena ini berawal dari popularitas Dubai chocolate, cokelat yang dikenal dengan perpaduan cokelat, krim pistachio, dan kunafa atau kadayif yang memberikan tekstur renyah.
Kombinasi tersebut kemudian ramai dibicarakan di media sosial dan membuat banyak orang penasaran untuk mencobanya. Dari satu produk, tren tersebut berkembang menjadi semacam identitas rasa baru yang kemudian diadaptasi ke berbagai jenis makanan.
Menariknya, makanan yang diberi label “Dubai” tidak selalu memiliki hubungan langsung dengan Dubai.
Di banyak tempat, istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan karakter rasa dan tampilan tertentu. Pistachio yang berwarna hijau, isian krim yang melimpah, cokelat, serta tekstur renyah menjadi beberapa unsur yang kemudian diasosiasikan dengan tren tersebut.
Media sosial memiliki peran besar dalam membuat tren ini berkembang begitu cepat. Sebuah makanan dapat menarik perhatian bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena tampilannya ketika direkam.
Potongan cokelat yang memperlihatkan isian hijau, tekstur kunafa yang renyah, atau lelehan krim pistachio menjadi visual yang mudah digunakan sebagai konten.
Ketika video tersebut ditonton dan dibagikan berulang kali, rasa penasaran calon pembeli ikut meningkat.
Dari sinilah muncul kreativitas para penjual. Tidak semua orang harus menjual cokelat untuk mengikuti tren Dubai. Rasa dan elemennya dapat dipadukan dengan makanan yang sudah lebih dulu dikenal.
Donat, roti, dessert box, pisang, cookies, hingga minuman dapat diberi sentuhan pistachio atau kunafa dan kemudian dipasarkan sebagai varian “Dubai”.
Strategi tersebut sebenarnya menunjukkan bagaimana tren kuliner bekerja di era media sosial. Nama yang sedang populer dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah produk.
Konsumen yang sebelumnya tidak berniat membeli suatu jajanan mungkin menjadi penasaran hanya karena melihat kata “Dubai” pada menunya.
Rasa penasaran tersebut kemudian mendorong orang untuk mencoba dan membagikan pengalaman mereka sendiri.
Bagi penjual, mengikuti tren juga menjadi cara untuk menjaga produk tetap relevan.
Ketika sebuah rasa sedang ramai diperbincangkan, menghadirkan varian serupa dapat membuat produk lebih mudah ditemukan di tengah persaingan. Namun, tren semacam ini juga memiliki konsekuensi.
Popularitas yang datang dengan cepat dapat menghilang dengan cepat pula. Produk yang hari ini dianggap kekinian belum tentu masih diminati ketika tren baru muncul.
Fenomena “Dubai” pada jajanan akhirnya memperlihatkan bahwa selera masyarakat tidak hanya dibentuk oleh rasa, tetapi juga oleh cerita, tampilan, dan popularitas yang berkembang di internet. Sebuah makanan bisa menjadi tren karena rasanya memang menarik, tetapi juga karena orang merasa perlu ikut mencoba sesuatu yang sedang dibicarakan banyak orang. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila



