SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA -Belakangan ini, penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya untuk membuat tulisan atau mencari informasi, AI juga mulai digunakan untuk menghasilkan gambar, foto produk, hingga desain promosi.
Fenomena tersebut juga dapat dilihat dari semakin banyaknya desain banner dan poster usaha yang menggunakan bantuan AI. Bagi pelaku UMKM, penggunaan AI memang menawarkan cara yang cepat dan praktis untuk membuat materi promosi tanpa harus memiliki kemampuan desain yang mendalam.
Tetapi semakin AI sering digunakan, hasil desainnya terkadang justru terasa mudah dikenali. Mulai dari bentuk gambar yang terlalu sempurna, pencahayaan yang terasa tidak natural, hingga susunan elemen yang terlihat seperti menggunakan pola serupa.
Kenapa Desain AI Terlihat “AI Banget”?
Satu di antara yang membuat gambar hasil AI mudah dikenali adalah tampilannya yang cenderung terlalu sempurna.
Wajah, makanan, produk, maupun latar belakang terkadang dibuat dengan detail yang terlihat rapi, tetapi justru terasa kurang natural.
Pada desain poster, persoalannya bisa semakin terlihat ketika banyak orang menggunakan gaya atau template yang serupa. Font, susunan tulisan, pilihan gambar, warna, hingga komposisi visual dapat menghasilkan kesan yang hampir sama antara satu poster dengan poster lainnya.
Padahal, sebuah banner seharusnya tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi. Bagi UMKM, desain juga dapat menjadi bagian dari identitas usaha.
Nama, logo, warna, foto produk, dan gaya visual yang konsisten dapat membantu masyarakat mengenali sebuah bisnis.
Tidak bisa dipungkiri bahwa AI memberikan kemudahan bagi pelaku usaha kecil. Ketika membutuhkan poster promosi dengan cepat, seseorang cukup memberikan perintah kepada aplikasi AI dan mendapatkan beberapa pilihan desain.
Bagi UMKM yang belum memiliki anggaran untuk menggunakan jasa desainer, teknologi ini juga bisa menjadi salah satu alternatif. AI dapat membantu membuat konsep awal, mencari inspirasi, atau memberikan gambaran mengenai bentuk promosi yang ingin dibuat.
Masalahnya bukan pada penggunaan AI itu sendiri,melainkan ketika hasil AI digunakan begitu saja tanpa disesuaikan dengan karakter usaha.
Misalnya, foto makanan hasil AI digunakan untuk menggantikan foto produk asli. Secara visual mungkin terlihat menarik, tetapi pelanggan akhirnya tidak mendapatkan gambaran yang benar-benar sesuai dengan produk yang akan mereka beli.
Di tengah banyaknya usaha yang menggunakan media sosial dan banner sebagai sarana promosi, ciri khas justru menjadi semakin penting. Konsumen dapat melihat banyak iklan dalam waktu yang singkat, sehingga desain yang memiliki karakter sendiri berpotensi lebih mudah dikenali.
Tidak selalu diperlukan desain yang rumit atau mahal. Foto produk yang jelas, tulisan yang mudah dibaca, warna yang konsisten, serta informasi yang tersusun dengan baik sudah dapat menjadi materi promosi yang menarik.
AI sebenarnya bisa ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti seluruh proses kreatif.
Ide dari AI dapat digunakan sebagai referensi, kemudian disesuaikan kembali dengan kebutuhan dan identitas masing-masing usaha.
Selain persoalan hasil desain, penggunaan AI juga mulai dibicarakan dari sisi lingkungan. Sistem AI membutuhkan pusat data untuk menjalankan berbagai proses komputasi. Pusat data membutuhkan energi juga sistem pendinginan, dan sebagian sistem pendinginan tersebut menggunakan air.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan Energy and AI menjelaskan bahwa pusat data menggunakan sumber daya dalam jumlah besar untuk menjalankan berbagai layanan digital.
l Kebutuhan air juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan, terutama karena pusat data membutuhkan air untuk sistem pendinginan dalam kondisi tertentu.
Namun hal ini tidak berarti setiap kali seseorang membuat satu gambar AI maka terdapat jumlah air tertentu yang langsung “habis”. Konsumsi air sangat bergantung pada teknologi pusat data, sistem pendinginan, lokasi, sumber listrik, jenis model AI, serta beban komputasi yang digunakan.
Artinya, isu lingkungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dampak infrastruktur AI secara keseluruhan. Semakin besar penggunaan layanan AI, semakin penting pula pembahasan mengenai energi dan sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan infrastrukturnya.
Gunakan AI Secukupnya, Tetap Pertahankan Kreativitas
AI bukan teknologi yang harus dihindari sepenuhnya. Bagi UMKM, teknologi ini justru dapat membantu dalam berbagai tahap kreatif, terutama ketika membutuhkan ide dengan cepat.
Namun, penggunaan AI sebaiknya tetap disertai pertimbangan. Untuk foto produk, misalnya, foto asli dapat memberikan gambaran yang lebih jujur mengenai barang yang ditawarkan. Sementara itu, AI bisa dimanfaatkan untuk membantu membuat konsep latar, mencari inspirasi tata letak, atau mengembangkan beberapa alternatif desain.
Desain promosi yang baik bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Identitas usaha, kejelasan informasi, kejujuran terhadap produk, dan kreativitas manusia tetap memiliki peran penting.
Di tengah maraknya penggunaan AI, mungkin justru desain yang sederhana, menggunakan foto asli, dan memiliki ciri khas sendiri akan terasa lebih berbeda. AI boleh membantu proses kreatf, tetapi tidak harus mengambil alih seluruhnya. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




