SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Ketika membuka sebuah aplikasi, pengguna biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Tombol yang mudah ditemukan, warna yang nyaman dilihat, menu yang tidak membingungkan, hingga proses ketika melakukan pembelian terasa seperti sesuatu yang sudah seharusnya berjalan dengan baik.
Padahal, di balik pengalaman tersebut terdapat proses panjang yang melibatkan berbagai orang, salah satunya UI/UX Designer.
Pekerjaan UI/UX Designer menjadi salah satu profesi yang semakin dikenal seiring berkembangnya industri digital.
Hampir setiap perusahaan yang memiliki aplikasi, website, atau produk digital membutuhkan orang yang mampu memikirkan bagaimana sebuah produk terlihat sekaligus bagaimana pengguna berinteraksi dengannya.
Karena itu, pekerjaan ini tidak hanya berkaitan dengan membuat tampilan yang menarik.
Istilah UI dan UX sebenarnya memiliki fokus yang berbeda. UI atau User Interface berkaitan dengan tampilan antarmuka yang digunakan seseorang ketika berinteraksi dengan produk digital.
Warna, tipografi, ikon, tombol, tata letak, hingga konsistensi visual menjadi bagian yang diperhatikan. Sementara itu, UX atau User Experience lebih berfokus pada pengalaman pengguna ketika menggunakan produk tersebut.
Apakah navigasinya mudah dipahami, apakah pengguna dapat menemukan informasi yang dibutuhkan, dan apakah proses penggunaan terasa sederhana menjadi beberapa hal yang perlu dipikirkan.
Di sinilah pekerjaan UI/UX Designer menjadi menarik. Seorang desainer tidak bisa hanya mengandalkan selera pribadi. Desain yang menurut pembuatnya bagus belum tentu mudah digunakan oleh orang lain.
Karena itu, UI/UX Designer perlu memahami perilaku pengguna melalui riset, wawancara, pengamatan, maupun pengujian terhadap rancangan yang dibuat. Mereka harus mampu melihat sebuah produk dari sudut pandang orang yang akan menggunakannya.
Prosesnya pun tidak berhenti ketika desain selesai dibuat.
Seorang UI/UX Designer biasanya bekerja melalui beberapa tahapan, mulai dari memahami kebutuhan pengguna, membuat gambaran alur penggunaan, menyusun wireframe, mengembangkan desain visual, membuat prototype, hingga melakukan pengujian.
Hasil pengujian tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki rancangan sebelum produk benar-benar digunakan secara luas.
Pekerjaan ini juga membuat UI/UX Designer tidak bekerja sendirian. Mereka perlu berkomunikasi dengan programmer, product manager, marketing, hingga pihak lain yang terlibat dalam pengembangan sebuah produk.
Desain yang dibuat harus dapat diterjemahkan ke dalam sistem sekaligus tetap sesuai dengan tujuan bisnis. Karena itu, kemampuan komunikasi dan kolaborasi menjadi bagian penting dari pekerjaan ini.
Bagi Gen Z, profesi UI/UX Designer memiliki daya tarik tersendiri karena berada di antara dunia kreatif dan teknologi. Seseorang tidak harus memilih antara menjadi orang yang menyukai desain atau orang yang tertarik pada teknologi. Keduanya dapat bertemu dalam satu pekerjaan.
Kemampuan menggunakan perangkat desain memang penting, tetapi rasa ingin tahu terhadap perilaku manusia, kemampuan memecahkan masalah, dan kepekaan terhadap detail juga memiliki peran besar.
Meski terlihat fleksibel dan kreatif, pekerjaan ini tetap memiliki tantangan. Perubahan teknologi yang cepat membuat seorang UI/UX Designer harus terus belajar.
Tren desain dapat berubah, kebiasaan pengguna dapat bergeser, dan perangkat digital terus berkembang. Selain itu, seorang desainer juga harus mampu menerima kritik karena proses desain hampir selalu melibatkan revisi.
Menariknya, hasil kerja UI/UX Designer sering kali justru tidak disadari oleh pengguna. Ketika sebuah aplikasi terasa mudah digunakan, pengguna mungkin tidak pernah berpikir tentang siapa yang merancang alurnya.
Sebaliknya, ketika sebuah fitur membingungkan atau sulit ditemukan, pengalaman buruk tersebut langsung terasa. Artinya, keberhasilan desain sering kali justru terlihat dari betapa alaminya seseorang ketika menggunakan sebuah produk. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




