SURABAYAKABARMETRO.ID, JAKARTA – PBNU sudah mengumumkan sejumlah nama untuk menjadi pengurusnya.
Satu di antara nama itu adalah Ipang Wahid.
Ipang Wahid resmi masuk jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi.
Seusai pengumuman susunan pengurus, Rabu 30 September 2026, Gus Ipang menyampaikan gagasan agar pesantren yang siap dapat menjadi percontohan pembelajaran kecerdasan buatan (AI) untuk melahirkan lebih banyak Technosantri.
“NU ingin melahirkan lebih banyak Technosantri: santri yang kuat turats dan adabnya, sekaligus cakap menguasai teknologi,” ujar Gus Ipang.
Menurutnya, perubahan zaman tidak hanya soal teknologi. Tapi juga gaya hidup, cara orang belajar, bekerja, mencari informasi, hingga cara mendengar nasihat juga ikut berubah. NU perlu memahami perubahan itu agar kekuatan pesantren, ulama, dan jamaah semakin terasa manfaatnya.
Untuk itu pesantren yang siap bisa menjadi percontohan pembelajaran AI, large language model (LLM), literasi digital, hingga keamanan digital.
Kurikulumnya dapat disusun bersama kementerian terkait, sesuai kebutuhan dan kesiapan masing-masing pesantren.
“Santri tetap kuat dalam agama, turats, dan adab, sekaligus mampu menggunakan teknologi dengan bijak. Itu yang kami maksud dengan Technosantri,” kata pria kelahira Jakarta 57 tahun lalu tersebut.
Buka peluang NU kolaborasi dengan perusahaan teknologi
Wakil Ketua Umum PBNU Bidang Digital Native, Teknologi, Budaya, dan Komunikasi, Ipang Wahid, membuka peluang kolaborasi Nahdlatul Ulama (NU) dengan perusahaan teknologi dan korporasi besar.
Tujuannya membuka akses pelatihan, magang, hingga peluang kerja bagi santri dan warga NU.
“NU sudah punya jaringan sosial yang luar biasa. Tantangannya sekarang adalah mengubahnya menjadi ekosistem digital, lalu berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk perusahaan teknologi, agar terbuka akses ilmu, pasar, dan peluang bagi generasi baru,” ujar putra Salahuddin Wahid tersebut.
Gus Ipang menyebut NU bisa mengajak perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Google, dan IBM untuk bekerja sama dalam pelatihan, pendampingan, dan pengembangan keterampilan. Selain itu, korporasi di luar sektor teknologi juga perlu dilibatkan untuk membuka akses magang, pengembangan usaha, dan lapangan kerja.
“Jejaring NU harus menjadi akses nyata. Technosantri harus punya kesempatan belajar dan bekerja, dan manfaatnya harus menjangkau santri, keluarga pesantren, dan warga NU secara lebih luas,” ucap pria lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.
Selain itu, santri perlu mendapat ruang belajar vokasi, kewirausahaan, pengelolaan usaha, dan akses pasar digital. Harapannya nanti lulusan pesantren punya kedalaman spiritual dan pemahaman agama yang kuat, serta keterampilan untuk menjawab kebutuhan zaman.
“Kita ingin santri yang kuat akarnya, luas jejaringnya, menguasai teknologi, dan punya kesempatan untuk mandiri,” ujar Gus Ipang.
Ipang menambahkan, seluruh gagasan ini akan dimatangkan bersama jajaran pengurus PBNU sesuai arahan Rais Aam dan Ketua Umum.
NU harus hadir di era Hyper Digital.
Pasca pengumuman susunan pengurus, Gus Ipang menegaskan NU harus hadir di era hyper digital, era ketika hampir seluruh aspek hidup generasi baru berlangsung di ruang digital.
“Ini amanah dari Rais Aam dan Ketua Umum. Agenda besarnya adalah membangun relevansi, membawa kekuatan NU masuk ke ekosistem tempat generasi baru hidup,” ujar Gus Ipang di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta.
Menurutnya, zaman berubah bukan hanya pada teknologinya.
“Gaya hidup, kebiasaan, cara orang belajar, bekerja, mencari informasi, bahkan cara mereka mendengar nasihat juga berubah. NU harus memahami perubahan itu agar kekuatan pesantren, ulama, dan jamaah semakin terasa manfaatnya,” katanya.
Gus Ipang menilai dakwah harus sampai kepada orang yang dituju. Karena itu, NU perlu memahami bahasa, persoalan, dan ruang digital tempat masyarakat kini berkumpul, dengan melibatkan kiai, gus, ning, ustaz muda, kreator, dan figur yang memang didengar publik.
“Tujuannya sederhana: Bagaimana agar kebaikan tersebar dengan cara yang baik, kepada lebih banyak orang, dan lebih luas jangkauannya,” ujarnya.
Menutup keterangannya, Gus Ipang menyampaikan bahwa seluruh gagasan akan dimatangkan bersama jajaran pengurus PBNU. “Kalau zaman berubah, manfaat NU juga harus terus menemukan jalan baru untuk sampai kepada masyarakat,” ujarnya. (surabayakabarmetro.id)



