SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Coba buka lemari atau laci di kamar kemungkinan ada beberapa barang yang sebenarnya sudah jarang dipakai, bahkan mungkin sudah lupa kapan terakhir kali digunakan.
Baju yang sudah kekecilan, sepatu yang masih bagus tapi hampir tidak pernah dipakai, atau barang kecil yang dulu dibeli karena merasa akan berguna.
Masalahnya, barang-barang itu sering kali tidak benar-benar dibuang tetap disimpan dengan alasan “siapa tahu nanti kepakai”.
Padahal, setelah beberapa bulan, barang tersebut masih berada di tempat yang sama.
Kebiasaan seperti ini mungkin cukup terjadi kadang bukan karena barangnya masih benar-benar dibutuhkan, tetapi karena rasanya sayang kalau harus membuang sesuatu yang masih bagus.
Apalagi kalau barang tersebut pernah dibeli dengan harga yang lumayan atau punya cerita sendiri.
Belakangan, ada cara lain untuk membuat barang yang sudah tidak digunakan tetap punya manfaat, salah satunya melalui barter atau pasar tukar.
Di Surabaya, kegiatan semacam ini mulai diperkenalkan sebagai cara untuk mempertemukan orang yang memiliki barang tak terpakai dengan orang lain yang mungkin masih membutuhkannya.
Barang yang ditukarkan tidak harus selalu mahal pakaian menjadi salah satu barang yang cukup sering ditukar.
Selain itu, ada juga jilbab, sepatu, sandal, hingga beberapa peralatan rumah tangga dengan syarat sederhana, barang masih layak digunakan dan mudah dibawa.
Menariknya, konsep barter membuat barang lama tidak berhenti di pemilik pertama. Baju yang sudah tidak pernah dipakai seseorang misalnya, bisa saja justru dicari orang lain, begitu juga dengan barang yang selama ini hanya memenuhi lemari atau sudut kamar.
Di situ mungkin ada alasan kenapa barter terasa berbeda dengan sekadar membuang barang.
Ada perasaan bahwa barang tersebut masih berguna, hanya saja sudah tidak cocok dengan kebutuhan pemilik sebelumnya.
Buat mahasiswa atau anak kos, hal seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kamar yang tidak terlalu besar membuat barang yang terus bertambah lama-lama terasa memenuhi tempat. Sementara membeli barang baru juga semakin mudah karena hampir semuanya bisa dicari secara online.
Akhirnya, muncul situasi yang agak lucu.
Lemari penuh, tapi masih merasa tidak punya baju. Rak sepatu berisi beberapa pasang, tetapi yang dipakai setiap hari Cuma itu-itu saja. Barang baru terus datang, sementara barang lama tetap disimpan.
Barter bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan tersebut. Bukan berarti semua barang harus segera dilepas. Barang yang memang masih dibutuhkan tentu tidak perlu ditukar.
Tetapi kalau sudah lama tidak digunakan dan masih dalam kondisi baik, mungkin ada orang lain yang justru lebih membutuhkannya.
Konsep ini juga membuat kita melihat barang dari sisi yang berbed, nilai sebuah barang ternyata tidak selalu berhenti pada harga saat pertama kali dibeli. Ketika berpindah tangan, barang yang sama masih bisa punya fungsi dan cerita baru.
Jadi, kalau nanti menemukan barang lama yang sudah berbulan-bulan hanya disimpan, mungkin tidak harus langsung dibuang. Bisa saja barang itu memang sudah selesai digunakan oleh kita, tetapi belum selesai berguna untuk orang lain.
Barangkali masalahnya bukan karena kita terlalu banyak punya barang. Bisa jadi kita hanya terlalu lama menyimpan barang yang sebenarnya sudah waktunya berpindah tangan. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Nova Yulia




