Berita Surabaya Utama

Surabaya Panas Kentang-kentang, Ternyata Ada Penyebabnya

Surabaya Panas Kentang-kentang, Ternyata Ada Penyebabnya (surabayakabarmetro.id/ Nova Yulia W)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Surabaya panas kentang-kentang? Rasanya bukan hal yang aneh bagi penduduk kota ini.

Keluar dari rumah di siang hari, naik motor, atau sekadar berjalan kaki beberapa menit sudah cukup membuat tubuh merasa panas. Istilah “Surabaya panas pol” sekarang sudah terdengar lumayan sering didengar.

Tapi, pernahkah kamu berpikir mengapa Surabaya memang terkenal sebagai salah satu kota yang terasa panas?

Apakah karena panasnya matahari saja, atau ada hal lain yang membuat cuaca di kota ini terasa sangat panas?

Cuaca Surabaya memang biasanya terasa cukup panas kondisi ini bukan hal baru yang terjadi baru-baru ini. Data cuaca juga menunjukkan bahwa suhu tertinggi di Surabaya bisa melebihi 30 derajat Celsius.

BMKG juga mencatat bahwa suhu tertinggi di Surabaya pernah mencapai 37,8 derajat Celsius pada bulan Oktober tahun 2024.

Selain cuaca lokasi Surabaya juga memengaruhi hal tersebut.

Kota ini terletak di bagian utara pesisir Jawa Timur dengan permukaan tanah yang tidak terlalu tinggi, katena itulah wilayah Surabaya mengalami cuaca yang cukup panas terutama saat memasuki masa kemarau.

Pada masa musim kemarau, langit seringkali lebih sedikit tertutup awan di beberapa waktu tertentu.

Akibatnya, sinar matahari bisa terasa lebih, salah satu alasan mengapa cuaca siang hari di Surabaya sering terasa sangat panas adalah karena berada di tempat yang terbuka.

Namun, suhu tubuh yang dirasakan ternyata tidak hanya bergantung pada angka suhu, tempat kita berada juga bisa membuat perbedaan misalnya berada di bawah pohon yang teduh justru terasa lebih nyaman dibandingkan berdiri di tengah jalan yang terkena sinar matahari langsung.

Hal ini semakin terasa di kawasan perkotaan Surabaya penuh dengan jalan beraspal, trotoar, gedung-gedung, rumah-rumah, serta berbagai bangunan lainnya.

Akibatnya, daerah yang tidak banyak ditanami pohon bisa terasa lebih hangat dibandingkan wilayah yang memiliki lebih banyak taman dan pepohonan.

Kondisi angin juga ikut memengaruhi rasa panas saat udara bergerak dan angin terasa cukup, tubuh umumnya merasa sedikit lebih nyaman.

Sebaliknya, ketika udara terasa tidak bergerak dan begitu saja diam panas bisa terasa lebih panas lagi.

Begitu juga dengan kelembapan, suhu yang sama mungkin tidak terasa sama jika kondisi udara berbeda ketika udara terasa lembap keringat yang keluar dari tubuh susah untuk menguap, sehingga perasaan panas dan gerah bisa terasa lebih lama.

Itulah sebabnya, kadang-kadang angka suhu di aplikasi cuaca tidak sepenuhnya menunjukkan apa yang diarasakan saat berada di luar rumah.

Suhu memang salah satu cara untuk mengukur, tetapi cuaca juga dipengaruhi oleh kondisi sekitar dan keadaan tubuh seseorang.

Bagi penduduk Surabaya yang setiap hari harus keluar rumah bekerja atau beraktivitas, cuaca panas seperti ini sudah biasa dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada orang yang harus bekerja, kuliah, sekolah, mengantar anak, jualan, atau pergi ke mana-mana menggunakan sepeda motor. Maka itu, menghadapi panas terik juga harus dilakukan dengan cara yang mudah saja.

Minum air secukupnya adalah hal yang tidak boleh terlewatkan, terutama ketika kamu banyak bergerak dan mengeluarkan keringat.

Jika bisa, pilih jam yang tidak terlalu panas untuk melakukan kegiatan di luar ruangaan berteduh saat matahari terik tidak berarti bersikap malas, tapi memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat dari panas yang terlalu kuat.

Pohon-pohon dan area taman juga membantu membuat lingkungan perkotaan terasa lebih nyaman.

Wilayah yang banyak ditutupi pepohonan bisa memberikan rasa sejuk dan mengurangi langsung paparan sinar matahari karena tu, adanya ruang hijau di tengah kota tidak hanya untuk memperindah lingkungan tetapi juga bisa membuat kegiatan masyarakat lebih nyaman.

Jadi kalau ada yang tanya kenapa Surabaya dulu terkenal panas, jawabannya bukan hanya karena “mataharinya memang galak” kondisi wilayah, musim, sinar matahari, lingkungan perkotaan, angin, hingga tingkat kelembapan semuanya memengaruhi bagaimana panas dirasakan.

Surabaya mungkin memang sudah terbiasa dengan cuaca yang terasa panas.

Namun, memahami penyebabnya bisa membantu kita lebih paham bagaimana menyesuaikan rutinitas sehari-hari jadi kalau di siang hari kamu mulai merasa, “Panas banget, guys,” mungkin memang ada alasan tertentu bukan hanya sensasi, tapi ada banyak hal yang membuat panas Surabaya terasa berbeda. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Nova Yulia W

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi