Berita IDEAS Kesehatan Surabaya Utama

Mahasiswa Juga Bisa Saling Menjaga Kesehatan Mental Temannya, Tak Harus Punya Jawaban untuk Mulai Bertanya

Mahasiswa Juga Bisa Saling Menjaga Kesehatan Mental Temannya, Tak Harus Punya Jawaban untuk Mulai Bertanya (unsplash)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Belakangan ini kabar duka dari lingkungan perguruan tinggi, khususnya yang ada malangkembali membuat banyak orang berbicara tentang kesehatan mental mahasiswa.

Di balik rutinitas kuliah, tugas, organisasi, pekerjaan part time, hingga tuntutan untuk menentukan masa depan, terdapat mahasiswa yang mungkin sedang berjuang dengan masalah yang tidak terlihat.

Tidak semua orang yang sedang mengalami tekanan akan mengatakannya secara langsung.

Tekanan kuliah tidak selalu berasal dari tugas, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai.

Ada tekanan untuk menyelesaikan skripsi, mendapatkan pekerjaan, biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari, masalah keluarga, hubungan pertemanan.

Media sosial juga dapat membuat tekanan tersebut semakin besar.

Melihat teman mendapatkan prestasi, magang di perusahaan besar, pergi berlibur terkadang membuat seseorang tanpa sadar membandingkan kehidupannya sendiri.

Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Tidak Semua Orang Pandai Menceritakan Masalahnya

Ada anggapan bahwa sesorang yang sedang mengalami masalah pasti akan terlihat sedih. Kenyataannya, kondisi setiap orang berbeda.

Seseorang bisa tetap pergi ke kampus, bercanda bersama temannya, mengerjakan tugas, bahkan aktif di media sosial meski sedang menghadapi masalah pribadi. Karena itu, perubahan kecil pada seseorang terkadang justru patut diperhatikan.

Bukan berarti setiap perubahan otomatis menunjukkan seseorang sedang mengalami kondisi kesehatan mental tertentu. Namun, perubahan yang mengkhawatirkan bisa menjadi alasan untuk mulai bertanya dan menunjukkan kepedulian.

Tidak Harus Punya Jawaban untuk Mulai Bertanya

Ketika mengetahui teman yang sedang mengalami masalah, tidak semua orang tahu harus berkata apa.

Takut salah bicara, takut dianggap terlalu ikut campur bahkan bingung karena merasa tidak memiliki solusi.

Padahal, menjadi teman yang peduli tidak selalu berarti harus memberikan jawaban.

Jika teman belum ingin bercerita, jangan dipaksa. Berikan ruang, tetapi tetap tunjukkan bahwa dirinya tidak sendirian.

Kalau Tidak Bisa Membantu, Ajak Mencari Bantuan

Menjadi teman bukan berarti harus mampu menyelesaikan semua masalah.

Jika sesesorang mengalami tekanan yang terasa berat atau menunjukkan tanda-tanda yang membuat khawatir, ajak untuk mencari bantuan dari orang yang lebih mampu untuk mengatasi kondisi tersebut.

Di lingkungan kampus, bantuan dapat dicari melalui layanan konseling atau pusat layanan kesehatan mental yang tersedia. Dukungan juga dapat datang dari dosen yang dipercaya, tenaga kesehatan, psikolog atau psikiater.

World Health Organization (WHO) menempatkan bunuh diri sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang serius dan menekankan bahwa tindakan pencegahan dapat dilakukan melalui berbagai upaya yang tepat.

Artinya, membicarakan kesehatan mental bukan sesuatu yang memalukan. Justru semakin cepat seseorang mendapat dukungan, semakin besar kesempatan untuk medapatkan pertolongan.

Menanyakan kabar teman, mengajak makan bersama, menemani pulang, atau sekadar mengirim chat setelah lama tidak bertemu mungkin hal sederhana yang bisa dilakukan.

Tidak semua percakapan akan langsung menyelesaikan masalah. Tidak semua orang juga langsung terbuka. Namun, mengetahui bahwa ada seseorang yang bersedia mendengarkan bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian.

Kampus Bukan Hanya Tempat Mengejar Prestasi

Perguruan tinggi memang menjadi tempat mahasiswa belajar dan mengejar cita-cita. Namun, mahasiswa tetap manusia yang bisa lelah, gagal, bingung, takut, dan membutuhkan bantuan.

Nilai akademik, IPK, organisasi, prestasi, maupun karir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.

Karena itu, ketika seorang teman berkata sedang lelah, mungkin kita tidak perlu terburu-buru memberinya nasihat. Dengarkan dulu. Tanyakan kabarnya. Dan jika kondisinya mengkhawatirkan, bantu untuk menemukan pertolongan yang tepat.

Sebab, terkadang yang dibutuhkan seseorang bukan kalimat paling bijaksana, melainkan perasaan bahwa ada yang peduli. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Anisah RA

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi