SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Baru-baru ini terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Menur Pumpungan, Surabaya.
Kecelakaan itu menyebabkan 11 motor, 3 mobil, dan sebuah gerobak bakso rusak.
Berdasarkan pengakuan pengemudi Toyota Alphard yang menabrak semua kendaraan itu, kecelakaan itu disebabkan oleh dirinya yang sedang tak enak badan.
Nah, hal seperti inilah yang bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas, dan membahayakan banyak nyawa.
Sebenarnya, selain itu juga masih ada penyebab kecelakaan lainnya, dan sering dianggap remeh.
Buru-buru masuk kelas, takut terlambat bertemu teman, atau sekadar ingin cepat sampai rumah.
Alasan-alasan sederhana seperti ini sering membuat kita tanpa sadar mengambil keputusan yang kurang aman ketika berkendara.
Anehnya, beberapa kebiasaan tersebut sudah dianggap biasa karena dilakukan hampir setiap hari.
Satu di antaranya menggunakan ponsel ketika berkendara.
Hanya ingin melihat notifikasi, membalas pesan, atau membuka navigasi sebentar.
Padahal, perhatian yang teralihkan selama beberapa detik saja sudah cukup membuat pengendara kehilangan kesempatan untuk mengantisipasi kendaraan di depannya.
Ponsel bisa menunggu, tapi jalan raya tidak.
Kebiasaan lain yang tidak kalah sering dilakukan adalah menerobos lampu merah ketika jalan terlihat sepi. “Sebentar saja” sering menjadi alasan yang terdengar masuk akal. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu apakah dari arah lain ada kendaraan yang sedang melaju.
Lampu lalu lintas bukan sekadar tanda untuk mengatur kendaraan, tetapi juga memberi kesempatan bagi setiap pengguna jalan untuk bergerak secara bergantian dan aman.
Ada pula kebiasaan berkendara terlalu dekat dengan kendaraan di depan.
Ketika kendaraan tersebut tiba-tiba mengerem, jarak yang terlalu dekat membuat kita memiliki waktu yang sangat sedikit untuk bereaksi.
Menjaga jarak mungkin terasa memperlambat perjalanan, tetapi sebenarnya memberikan ruang untuk menyelamatkan diri ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Masalahnya, berkendara bukan hanya soal teknik. Emosi juga ikut menentukan. Pengendara yang sedang kesal karena disalip atau dipotong jalurnya mungkin tergoda untuk membalas dengan memacu kendaraan.
Padahal, jalan raya bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling cepat atau paling berani. Menahan emosi justru menunjukkan bahwa kita mampu mengendalikan diri.
Hal yang sering dilupakan sebelum berangkat adalah kondisi tubuh. Begadang mengerjakan tugas, kurang tidur, kemudian tetap memaksakan diri berkendara bukan keputusan yang bijak. Rasa kantuk dapat menurunkan konsentrasi dan memperlambat respons terhadap keadaan di jalan. Jika tubuh memang tidak cukup siap, beristirahat terlebih dahulu jauh lebih baik daripada memaksakan perjalanan.
Menariknya, banyak kebiasaan berbahaya tersebut sebenarnya bukan dilakukan karena pengendara tidak tahu aturan. Kita tahu bahwa menggunakan ponsel saat berkendara itu salah. Kita tahu lampu merah harus dipatuhi. Kita juga tahu bahwa helm dan sabuk pengaman penting. Persoalannya sering kali bukan pada pengetahuan, melainkan pada kebiasaan dan rasa “sudah terbiasa”.
Padahal, satu perjalanan yang aman tidak ditentukan oleh seberapa sering kita berkendara. Ia ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap kali berada di jalan. Jadi sebelum memutar gas atau menginjak pedal, mungkin ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar sedang terburu-buru, atau hanya tidak mau sedikit bersabar?
Sebab, sampai di kampus lima menit lebih cepat tidak akan berarti jika keselamatan harus dipertaruhkan. Di jalan raya, menjadi pengendara yang baik bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mampu menjaga dirinya dan orang lain tetap selamat sampai tujuan. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




