Berita Creative Humaniora IDEAS Music Utama

Menjamurnya Fenomena Hipdut, Inovasi Musik atau Krisis Identitas Dangdut?

Menjamurnya Fenomena Hipdut, Inovasi Musik atau Krisis Identitas Dangdut? (istimewa/ unsplash)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Dangdut selama ini memiliki tempat yang unik dalam musik Indonesia.

Irama kendang, cengkok vokal, dan lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari membuat dangdut mudah dikenali.

Namun, bagaimana jika suara dangdut dipertemukan dengan beat hip-hop, rap, dan sentuhan musik digital?

Dari pertemuan itulah muncul sebuah genre yang kini semakin sering terdengar: hipdut.

Hipdut, atau hip-hop dangdut, merupakan perpaduan antara karakter hip-hop dan unsur khas dangdut. Kehadirannya membawa warna baru dalam musik populer Indonesia, terutama di kalangan anak muda.

Lagu-lagu dengan beat yang energik, perpaduan rap dan vokal dangdut, serta penggunaan bahasa yang dekat dengan keseharian membuat hipdut mudah diterima di tengah budaya digital.

Popularitasnya semakin terlihat ketika lagu-lagu bernuansa hipdut ramai digunakan di media sosial.

Potongan lagu yang catchy dapat dengan cepat menyebar melalui TikTok dan berbagai platform lainnya. Dalam waktu singkat, sebuah lagu bisa dikenal oleh jutaan pendengar yang bahkan mungkin sebelumnya tidak terlalu akrab dengan dangdut.

Namun, di balik popularitas tersebut, hipdut juga menghadirkan perdebatan.

Sebagian orang melihatnya sebagai bentuk inovasi yang membuat dangdut tetap hidup dan relevan.

Sementara itu, sebagian lainnya mempertanyakan apakah musik yang terlalu banyak menerima pengaruh hip-hop masih layak disebut dangdut.

Pertanyaan tentang “keaslian” sebenarnya bukan hal baru dalam perkembangan musik. Musik terus berubah karena pertemuan berbagai budaya dan kreativitas para musisinya. Dangdut sendiri bukanlah genre yang lahir dalam ruang kosong.

Perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai unsur musik, mulai dari musik Melayu, India, Arab, hingga musik populer Barat.

Karena itu, kehadiran hipdut sebenarnya dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang dangdut untuk beradaptasi.

Jika dahulu dangdut berkembang melalui berbagai pengaruh musik, kini ia kembali menemukan bentuk baru melalui pertemuannya dengan hip-hop dan teknologi digital.

Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah hipdut “dangdut yang asli” atau bukan. Yang lebih menarik adalah mengapa generasi muda merasa perlu menciptakan bentuk baru dari musik yang sudah ada. Jawabannya mungkin sederhana: selera pendengar terus berubah.

Anak muda hari ini tumbuh dengan berbagai jenis musik. Dalam satu daftar putar, seseorang bisa mendengarkan hip-hop, K-pop, pop Indonesia, musik daerah, hingga dangdut. Batas antargenre menjadi semakin cair.

Mereka tidak selalu merasa harus memilih satu identitas musik. Justru, mencampurkan berbagai unsur menjadi sesuatu yang dianggap menarik.

Di sinilah hipdut menemukan tempatnya.

Ia membawa sesuatu yang familiar dari dangdut, tetapi membungkusnya dengan suara yang lebih dekat dengan budaya musik generasi sekarang.

Kendang dan cengkok tidak harus hilang hanya karena bertemu dengan rap dan beat digital. Keduanya justru dapat menciptakan karakter baru.

Meski demikian, popularitas hipdut yang sangat bergantung pada media sosial juga patut diperhatikan. Ketika sebuah lagu dinilai berdasarkan seberapa cepat ia viral, musik berisiko dipandang hanya sebagai potongan suara yang cocok untuk sebuah tren.

Padahal, sebuah karya musik tentu memiliki lebih banyak hal untuk ditawarkan daripada sekadar bagian yang ramai digunakan di media sosial.

Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, hipdut menunjukkan bahwa musik Indonesia masih memiliki ruang yang luas untuk bereksperimen. Kontroversi yang muncul justru menjadi tanda bahwa genre ini berhasil mengundang percakapan.

Ada yang menerimanya sebagai inovasi, ada yang mengkritiknya karena dianggap terlalu jauh dari akar dangdut, dan ada pula yang menikmatinya tanpa terlalu memikirkan label genre. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi