Berita Uncategorized Utama

Selamat Datang di Usia Ketika Tidak Semua Hal Bisa Diceritakan

Selamat Datang di Usia Ketika Tidak Semua Hal Bisa Diceritakan (pexels)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Dulu, menjadi dewasa terdengar seperti sebuah kebebasan. Tidak ada lagi larangan tidur terlalu malam, bisa membeli sesuatu dengan uang sendiri, dan bebas menentukan jalan hidup tanpa harus selalu meminta izin.

Namun, ketika usia bertambah dan kehidupan mulai dijalani sendiri, tumbuh dewasa ternyata menyimpan kenyataan yang tidak banyak dibicarakan.

Ada masa ketika seseorang mulai menyadari bahwa hidup tidak berjalan sesuai rencana. Teman-teman sebaya tampak lebih dahulu menemukan pekerjaan, melanjutkan pendidikan, atau mencapai sesuatu yang selama ini diimpikan. Sementara itu, dirinya masih sibuk mempertanyakan pilihan sendiri.

Perasaan tertinggal pun muncul, meskipun setiap orang sebenarnya sedang berjalan dengan kondisi dan waktunya masing-masing.

Salah satu bagian paling melelahkan dari tumbuh dewasa adalah tuntutan untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan. Setelah bertahun-tahun mengikuti jadwal sekolah dan arahan orang lain, seseorang mulai dihadapkan pada keputusan yang konsekuensinya harus ditanggung sendiri.

Memilih pekerjaan, menentukan masa depan, mengelola uang, hingga memutuskan hubungan mana yang perlu dipertahankan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Masalahnya, tidak semua orang langsung memiliki jawaban. Ada yang masih mencoba memahami minatnya, ada yang terpaksa memilih pekerjaan demi memenuhi kebutuhan, dan ada pula yang menjalani sesuatu hanya karena belum menemukan alternatif lain. Ketidakpastian ini sering kali terasa seperti kegagalan, padahal belum mengetahui seluruh jawaban bukan berarti seseorang tidak memiliki kemampuan untuk melangkah.

Saat masih kecil, rasa lelah mungkin cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa hari ini terasa melelahkan. Ketika dewasa, penjelasannya menjadi lebih rumit.

Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, tagihan yang harus dibayar, pekerjaan yang perlu diselesaikan, dan ekspektasi keluarga yang tetap harus dipikirkan.

Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa terbiasa menyimpan persoalannya sendiri. Bukan karena tidak membutuhkan bantuan, melainkan karena merasa orang lain juga sedang sibuk dengan masalah masing-masing. Kalimat “aku baik-baik saja” akhirnya menjadi jawaban yang paling mudah, bahkan ketika dirinya sendiri belum benar-benar memahami apa yang sedang dirasakan.

Tekanan untuk selalu terlihat kuat membuat kelelahan emosional kerap tidak mendapat ruang.

Padahal, menjadi dewasa tidak berarti harus mampu menyelesaikan semua persoalan sendirian. Bercerita kepada orang tepercaya, meminta bantuan, dan mengakui bahwa diri sendiri sedang kewalahan merupakan bagian wajar dari menjalani kehidupan.

Ada hal lain yang perlahan berubah ketika seseorang tumbuh dewasa, yaitu hubungan dengan orang-orang terdekat. Pertemuan yang dahulu berlangsung hampir setiap hari mulai tergantikan oleh pesan singkat yang dibalas beberapa jam kemudian. Kesibukan, pekerjaan, jarak, dan prioritas yang berbeda membuat pertemanan tidak lagi memiliki bentuk yang sama.

Perubahan ini terkadang terasa menyedihkan, terutama ketika orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan mulai jarang hadir. Namun, tidak semua hubungan yang merenggang harus berakhir dengan pertengkaran. Sebagian orang memang tumbuh ke arah yang berbeda, sementara sebagian lainnya hanya membutuhkan waktu dan kesempatan untuk kembali terhubung.

Media sosial membuat perjalanan hidup orang lain terlihat begitu dekat. Dalam beberapa menit, kita dapat melihat teman yang baru diterima bekerja, seseorang yang berhasil membeli rumah, atau orang lain yang tampak menikmati hidupnya. Tanpa disadari, potongan-potongan pencapaian tersebut bisa menjadi ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Padahal, apa yang terlihat di layar bukanlah keseluruhan cerita. Seseorang mungkin membagikan keberhasilannya tanpa menceritakan proses panjang yang melelahkan. Akibatnya, kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari yang penuh ketidakpastian dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain.

Kebiasaan ini dapat membuat pencapaian pribadi terasa tidak berarti. Padahal, menyelesaikan tanggung jawab kecil, bertahan melewati masa sulit, belajar mengatur keuangan, atau berani mengubah keputusan yang tidak lagi sesuai juga merupakan bentuk perkembangan. Tidak semua kemajuan harus diumumkan agar tetap layak dihargai.

Sisi sulit tumbuh dewasa bukan hanya tentang tanggung jawab yang bertambah, melainkan juga tentang kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Kita bisa bekerja keras tanpa langsung memperoleh hasil, menjaga hubungan tanpa selalu mendapat respons yang sama, dan merencanakan masa depan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi.

Kesadaran tersebut memang tidak selalu menyenangkan. Namun, perlahan kita belajar membedakan hal-hal yang bisa diperjuangkan dan hal-hal yang perlu diterima.

Kita juga mulai memahami bahwa beristirahat bukan berarti malas, mengubah arah bukan berarti menyerah, dan meminta bantuan bukan berarti tidak mandiri.

Di tengah tuntutan untuk terus bergerak, tidak ada salahnya memberi diri sendiri kesempatan untuk tumbuh tanpa harus selalu terburu-buru. Sebab, kehidupan bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat berhasil. Ada hal-hal yang baru bisa dipahami setelah dijalani, dan ada bagian diri yang baru ditemukan ketika kita berhenti memaksakan diri untuk terlihat sudah sampai. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi