SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Mendaki gunung menjadi salah satu aktivitas luar ruang yang menarik minat anak muda, termasuk Generasi Z. Pemandangan dari ketinggian, pengalaman menikmati alam, hingga momen kebersamaan bersama teman menjadi daya tarik tersendiri.
Foto dan video pendakian yang ramai dibagikan di media sosial turut membuat aktivitas ini semakin dikenal dan menarik perhatian banyak orang.
Di TikTok dan Instagram, konten pendakian kerap menampilkan perjalanan menuju puncak, suasana berkemah, hingga pemandangan matahari terbit. Unggahan tersebut dapat memunculkan keinginan untuk merasakan pengalaman serupa. Namun, di balik ketertarikan itu, muncul pertanyaan: apakah seseorang mendaki karena benar-benar menyukai alam atau sekadar tidak ingin ketinggalan tren?
Media Sosial Ikut Mendorong Minat Mendaki
Media sosial memungkinkan pengguna melihat pengalaman orang lain melalui foto, video, dan cerita perjalanan. Aktivitas mendaki yang sebelumnya mungkin terasa asing bagi sebagian orang kini terlihat lebih dekat dan menarik untuk dicoba.
Konten pendakian biasanya memperlihatkan sisi menyenangkan dari kegiatan tersebut, seperti menikmati pemandangan, menghabiskan waktu bersama teman, dan merasakan suasana alam yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Gambaran itu dapat mendorong anak muda untuk mencari pengalaman serupa.
Pengalaman yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan keseluruhan proses pendakian. Unggahan sering berfokus pada momen-momen menarik, sedangkan perjalanan panjang, kelelahan, perubahan cuaca, dan tantangan di jalur pendakian belum tentu ikut diperlihatkan.
Calon pendaki perlu memahami bahwa mendaki bukan hanya tentang mencapai puncak atau mendapatkan foto yang bagus. Aktivitas ini juga membutuhkan persiapan fisik, perlengkapan yang sesuai, perencanaan perjalanan, dan pemahaman terhadap risiko.
Antara Hobi dan FOMO
Fenomena ini dapat dikaitkan dengan FOMO (fear of missing out), yaitu perasaan khawatir tertinggal dari pengalaman atau aktivitas yang sedang dinikmati orang lain.
Dalam konteks pendakian, FOMO dapat muncul ketika seseorang ingin ikut mendaki karena teman-temannya melakukan hal serupa atau karena aktivitas tersebut ramai diperbincangkan di media sosial.
Keinginan mencoba hal baru tidak selalu berarti seseorang mengalami FOMO. Pengalaman orang lain di media sosial bisa menjadi pintu awal untuk mengenal suatu aktivitas, termasuk mendaki gunung.
Ketertarikan tersebut bahkan dapat berkembang menjadi hobi ketika seseorang mulai menikmati prosesnya dan memahami hal-hal yang perlu dipersiapkan.
Perbedaan motivasi dapat dilihat dari alasan seseorang mendaki dan cara ia mempersiapkan diri. Orang yang ingin menikmati alam atau mencoba tantangan baru cenderung perlu mencari informasi mengenai jalur, kondisi gunung, perlengkapan, dan keselamatan.
Sebaliknya, keinginan yang hanya didorong oleh tuntutan mengikuti tren berisiko membuat seseorang lebih berfokus pada hasil yang ingin ditampilkan daripada kesiapan menghadapi perjalanan.
Motivasi seseorang juga tidak selalu berasal dari satu alasan. Seseorang bisa saja tertarik mendaki setelah melihat konten di media sosial, lalu benar-benar menyukai kegiatan tersebut setelah mencobanya. Tidak tepat jika semua Gen Z yang mendaki langsung dianggap sekadar mengikuti tren.
Mendaki gunung bukan hanya aktivitas yang diminati laki-laki. Perempuan juga memiliki kesempatan untuk menikmati kegiatan luar ruang ini, baik bersama teman maupun kelompok pendakian.
Bagi sebagian perempuan, pendakian dapat menjadi pengalaman untuk mencoba hal baru, melatih kemandirian, dan mengenali kemampuan diri.
Pengalaman setiap pendaki tentu berbeda, bergantung pada kondisi fisik, pengalaman sebelumnya, jalur yang dipilih, dan persiapan yang dilakukan.
Kemampuan mencapai puncak bukan satu-satunya hal yang perlu dibuktikan selama pendakian. Pendaki perlu mengenali batas kemampuan diri dan mengambil keputusan secara bijak ketika menghadapi kondisi yang tidak sesuai rencana. Pendaki pemula, baik laki-laki maupun perempuan, perlu mempersiapkan kondisi fisik, membawa perlengkapan yang sesuai, mengikuti ketentuan pengelola, serta tidak memaksakan diri ketika situasi tidak memungkinkan.
Mendaki Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Meningkatnya perhatian terhadap pendakian dapat menjadi kesempatan bagi anak muda untuk mengenal alam dan mencoba kegiatan di luar rutinitas. Popularitas aktivitas ini tetap perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai tanggung jawab dan risiko yang menyertainya.
Calon pendaki perlu mencari informasi tentang kondisi gunung, cuaca, jalur pendakian, dan aturan yang berlaku sebelum berangkat. Perencanaan yang matang, kebiasaan membawa kembali sampah, serta sikap menghormati lingkungan dan masyarakat setempat juga menjadi bagian penting dari kegiatan mendaki.
Terinspirasi oleh media sosial bukanlah sesuatu yang salah. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ketertarikan tersebut diwujudkan. Seseorang perlu mempertimbangkan apakah dirinya benar-benar siap menikmati perjalanan atau justru mengabaikan keselamatan demi mengikuti tren.
Mendaki gunung tidak harus menjadi ajang pembuktian atau sekadar cara mengikuti keramaian. Bagi Gen Z, aktivitas ini dapat menjadi pengalaman yang berharga ketika dilakukan dengan kesadaran, persiapan, dan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun alam. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




