Berita Creative Hobi Humaniora IDEAS Jawa Timur Peristiwa Surabaya Uncategorized Utama

Sejarah Perkembangan Critical Mass di Indonesia, Dari Jakarta hingga ke Surabaya

Sejarah Perkembangan Critical Mass di Indonesia, Dari Jakarta hingga ke Surabaya (unsplash)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Pada Jumat malam, jalanan kota biasanya dipenuhi kendaraan yang berlomba pulang setelah seharian beraktivitas.

Namun, di beberapa kota, ada pemandangan lain yang sesekali mengambil tempat di antara arus kendaraan tersebut.

Ratusan pesepeda berkumpul, kemudian bergerak bersama melewati jalan-jalan utama kota.

Mereka bukan sedang mengikuti lomba.

Tidak ada garis start, tidak ada podium, dan tidak ada pemenang. Kegiatan tersebut dikenal sebagai Critical Mass, sebuah gerakan bersepeda bersama yang membawa gagasan bahwa pesepeda juga merupakan bagian dari lalu lintas kota.

Critical Mass pertama kali muncul di San Francisco pada 1992. Formatnya sederhana: pesepeda berkumpul di titik tertentu kemudian bersepeda bersama di jalan raya. Gerakan ini tidak memiliki organisasi pusat, pemimpin formal, maupun sistem pendaftaran. Justru sifatnya yang terbuka dan organik membuat konsep tersebut mudah menyebar ke berbagai kota di dunia.

Ketika masuk ke Indonesia, Critical Mass kemudian beradaptasi dengan kultur sepeda dan karakter masing-masing kota. Jakarta menjadi salah satu kota yang memiliki perkembangan panjang.

Dokumentasi kegiatan menunjukkan adanya Critical Mass Jakarta sejak awal dekade 2010-an, termasuk kegiatan yang pada Februari 2011 diikuti sekitar seribu pesepeda. Dalam perkembangannya, kegiatan tersebut kemudian dikenal sebagai agenda rutin pada Jumat terakhir setiap bulan.

Dari Jakarta, gagasan tersebut berkembang ke kota-kota lain. Bandung, Yogyakarta, Tangerang, Bekasi dan sejumlah daerah lain memiliki kegiatan yang menggunakan semangat serupa. Pelaksanaannya tidak selalu identik. Ada yang mengadakan kegiatan secara rutin setiap bulan, ada pula yang mengemasnya sebagai kampanye mengenai hak pesepeda, lingkungan, maupun penggunaan ruang jalan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Critical Mass di Indonesia tidak memiliki satu bentuk tunggal. Di Jakarta, misalnya, kegiatan pada 2026 mempertemukan pesepeda dengan berbagai jenis sepeda, mulai dari fixed gear, road bike, gravel, city bike, sepeda lipat hingga sepeda touring. Pesertanya pun tidak harus berasal dari komunitas yang sama.

Bandung memiliki karakter yang sedikit berbeda. Critical Mass berkembang menjadi ruang untuk membicarakan hubungan antara pesepeda dan ruang kota.

Pada 2026, kegiatan di Bandung kembali menjadi perhatian karena ratusan pesepeda turun ke jalan dan berhadapan dengan persoalan yang sama: bagaimana ruang jalan digunakan secara bersama oleh berbagai moda transportasi.

Di kota lain, gagasan tersebut juga terus muncul dalam bentuk yang beragam. Pada Agustus 2026, kegiatan Critical Mass berlangsung secara serentak di sejumlah kota seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Gorontalo dan Garut. Pada September 2026, gerakan dengan konsep serupa juga terlihat di Sumbawa dan Tasikmalaya. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Critical Mass masih menemukan ruang di tengah perubahan kultur bersepeda di Indonesia.

Surabaya Pernah Menjadi Bagian dari Gerakan Ini

Jauh sebelum kegiatan bersepeda kembali populer di media sosial, Surabaya sudah memiliki catatan mengenai Critical Mass.

Pada 10 Oktober 2010, sekitar 400 pesepeda mengikuti Surabaya Critical Mass dalam kegiatan yang dikaitkan dengan kampanye 350.org mengenai pengurangan emisi karbon. Rombongan tersebut menempuh perjalanan lebih dari 13 kilometer. Dokumentasi kegiatan yang diunggah oleh 350.org mencatat bahwa kegiatan tersebut membawa pesan mengenai pengurangan emisi dan penggunaan sepeda sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.

Setahun kemudian, nama Surabaya Critical Mass kembali muncul dalam rangkaian kampanye Earth Hour 2011. WWF Indonesia mencatat bahwa pesepeda dari Surabaya Critical Mass bergerak dari tiga titik menuju Grand City Mall, yang menjadi lokasi utama kampanye Earth Hour di Surabaya.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa Critical Mass di Surabaya pada masa itu tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bersepeda. Sepeda digunakan sebagai bagian dari kampanye lingkungan sekaligus cara memperlihatkan bahwa transportasi kota tidak selalu harus bergantung pada kendaraan bermotor.

Namun, perkembangan Critical Mass di Surabaya tidak terdokumentasi seintensif Jakarta dalam sumber-sumber publik yang tersedia saat ini. Karena gerakannya memang tidak memiliki struktur organisasi nasional dan banyak kegiatan bergantung pada komunitas lokal, keberadaan sebuah kegiatan tidak selalu meninggalkan dokumentasi yang panjang.

Hal tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Critical Mass di Indonesia. Gerakan ini tidak tumbuh seperti organisasi yang memiliki kantor, kepengurusan tetap, atau agenda nasional yang seragam. Ia lebih mirip gagasan yang berpindah dari satu komunitas ke komunitas lain. Ketika ada cukup banyak orang yang merasa perlu menggunakan jalan bersama-sama, Critical Mass dapat kembali muncul.

Pada akhirnya, perkembangan Critical Mass di Indonesia tidak hanya menceritakan tentang semakin banyaknya orang yang bersepeda. Gerakan ini juga memperlihatkan bagaimana sepeda perlahan mendapatkan tempat dalam pembicaraan mengenai kota.

Jalan raya selama ini lebih sering dibayangkan sebagai ruang bagi kendaraan bermotor. Kehadiran rombongan pesepeda dalam jumlah besar membuat pandangan tersebut kembali dipertanyakan. Bukan untuk menentukan siapa yang paling berhak atas jalan, tetapi untuk mengingatkan bahwa jalan merupakan ruang yang digunakan oleh berbagai macam orang dan moda transportasi.

Di Surabaya, jejak itu sebenarnya sudah pernah terlihat lebih dari satu dekade lalu. Ratusan sepeda pernah bergerak bersama melewati jalan kota, membawa pesan tentang lingkungan dan mobilitas.

Kini, ketika budaya bersepeda kembali berkembang dengan berbagai bentuknya, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa percakapan mengenai ruang jalan dan hak pesepeda bukanlah sesuatu yang baru. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi