Foto: Istimewa
SURABAYAKABARMETRO.ID – Lulus kuliah, punya pengalaman kerja, lalu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajari. Kedengarannya sederhana, tetapi prosesnya tidak selalu mudah.
Banyak lulusan baru harus menghadapi pertanyaan yang sama ketika mulai mencari kerja bagaimana bisa mendapatkan pekerjaan kalau pengalaman saja masih terbatas?
Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang coba dijawab pemerintah melalui Program Magang Nasional.
Program ini menjadi bagian dari kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang genap berjalan dua tahun pada 20 Oktober 2026.
Program Magang Nasional mulai dilaksanakan pada 2025 dan kembali dibuka pada 2026 dengan jumlah peserta yang ditingkatkan. Melalui program ini, lulusan perguruan tinggi mendapatkan kesempatan mengikuti pemagangan di perusahaan atau instansi mitra untuk memperoleh pengalaman kerja secara langsung.
Berdasarkan keterangan Sekretariat Kabinet pada Juni 2026, program tahun pertama menargetkan 100.000 peserta, sedangkan kuota tahun kedua ditingkatkan menjadi 150.000 peserta.
Pemagangan
Bagi lulusan baru, kesempatan seperti ini bisa menjadi jalan untuk mengenal dunia kerja sebelum benar-benar masuk sebagai pekerja penuh waktu. Mereka tidak hanya belajar dari teori yang diperoleh selama kuliah, tetapi juga berhadapan dengan tugas, lingkungan profesional, dan cara kerja yang mungkin berbeda dari pengalaman di kampus.
Namun, magang tentu bukan hal yang sepenuhnya baru bagi mahasiswa. Sebagian program studi sudah menjadikan magang sebagai bagian dari kegiatan akademik.
Perbedaannya, Program Magang Nasional yang dibahas pemerintah secara khusus menyasar lulusan perguruan tinggi yang sedang bertransisi menuju dunia kerja.
Di sinilah persoalan pengalaman kerja menjadi menarik. Lulusan baru sering kali berada dalam situasi ketika mereka membutuhkan pengalaman untuk melamar pekerjaan, tetapi kesempatan mendapatkan pengalaman justru terbatas karena belum pernah bekerja sebelumnya.
Program pemagangan berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan memberikan kesempatan belajar langsung di lingkungan kerja.
Meski begitu, mengikuti program magang tidak otomatis menjamin seseorang akan mendapatkan pekerjaan tetap. Pengalaman yang diperoleh tetap perlu disertai keterampilan yang sesuai, kemampuan beradaptasi, dan kesempatan kerja yang tersedia.
Karena itu, hasil program juga perlu dilihat dari bagaimana peserta memperoleh pengalaman yang relevan dan apakah pengalaman tersebut membantu mereka melanjutkan karier.
Pemerintah sendiri menyebut hasil pelaksanaan tahun pertama menunjukkan bahwa sebagian peserta direkrut oleh perusahaan setelah menyelesaikan magang. Dalam keterangan Sekretariat Kabinet pada Agustus 2026, angka yang disampaikan pemerintah berada pada kisaran 30–40 persen peserta.
Selain jumlah peserta yang berhasil mengikuti magang, pemerataan kesempatan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kesempatan mendapatkan pengalaman kerja seharusnya tidak hanya mudah dijangkau oleh lulusan yang tinggal di kota besar. Ketersediaan perusahaan mitra, kesesuaian bidang, dan lokasi penempatan dapat memengaruhi akses lulusan dari berbagai daerah.
Bagi anak muda yang masih kuliah, program seperti ini juga bisa menjadi pengingat bahwa persiapan memasuki dunia kerja tidak selalu dimulai setelah wisuda. Mengenali bidang yang diminati, membangun keterampilan, mengikuti kegiatan yang relevan, dan mencari informasi tentang kesempatan magang dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Meski demikian, tanggung jawab mempersiapkan diri tidak bisa dibebankan kepada anak muda saja. Ketersediaan kesempatan kerja, kualitas pelatihan, serta keterlibatan perusahaan juga berpengaruh terhadap proses transisi dari pendidikan ke dunia kerja. Program pemerintah dapat membantu membuka jalan, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada banyak faktor.
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana program yang menyasar generasi muda mulai dijalankan. Program Magang Nasional merupakan salah satu contohnya, terutama karena berkaitan langsung dengan pengalaman kerja dan tantangan yang dihadapi lulusan baru.
Kedekatan sebuah program pemerintah dengan anak muda tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anggaran atau berapa banyak peserta yang ditargetkan. Hal yang juga penting adalah apakah program tersebut menjawab kebutuhan mereka, memberikan pengalaman yang bermanfaat, dan membuka kesempatan yang lebih luas.
Sebab, bagi lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan pertama, kesempatan untuk belajar sekaligus memperoleh pengalaman kerja bukan sekadar angka dalam laporan pemerintah. Kesempatan itu bisa menjadi salah satu langkah awal untuk memasuki dunia kerja.
Meski begitu, ada pertanyaan yang tidak kalah penting setelah enam bulan magang, apa yang terjadi selanjutnya? Pengalaman kerja memang bisa menjadi bekal untuk melamar pekerjaan, tetapi tidak otomatis membuat peserta mendapatkan posisi tetap. Program ini membuka kesempatan untuk belajar, sementara peluang bekerja setelahnya tetap bergantung pada kebutuhan perusahaan, kemampuan peserta, dan ketersediaan lowongan. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Nova Yulia




