Foto: Pexels
SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Dunia perkuliahan memberikan bekal pengetahuan, tetapi praktik di lapangan menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan. Hal itu saya rasakan selama dua bulan menjalani magang di Surabaya Kabar Metro.
Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, saya terbiasa mempelajari bahasa, pilihan kata, penyusunan kalimat, dan cara menyampaikan gagasan melalui tulisan. Namun, pengalaman di lingkungan media digital memperlihatkan bahwa kemampuan menulis juga berkaitan dengan proses mencari informasi, mengolah fakta, serta menyajikannya agar mudah dipahami pembaca.
Salah satu tugas utama selama magang adalah menulis artikel harian untuk situs web Surabaya Kabar Metro. Tugas tersebut menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan kebahasaan yang dipelajari selama kuliah.
Pemilihan diksi, penggunaan kalimat efektif, penyusunan paragraf, hingga penentuan judul menjadi bagian penting dalam proses penulisan. Saya juga belajar bahwa artikel untuk media daring perlu disajikan secara jelas dan menarik, tanpa mengabaikan ketepatan informasi yang disampaikan.
Menulis artikel harian juga memberikan pemahaman bahwa sebuah tulisan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan merangkai kata.
Penulis perlu menemukan topik yang relevan, melakukan riset, membandingkan informasi dari sumber yang dapat dipercaya, kemudian menyusun fakta menjadi tulisan yang runtut. Proses tersebut menuntut ketelitian sekaligus kemampuan menentukan informasi yang penting bagi pembaca.
Dari sini, saya memahami bahwa pekerjaan penulis artikel tidak berhenti ketika sebuah tulisan selesai dibuat, tetapi juga melibatkan tanggung jawab terhadap informasi yang dipublikasikan.
Pembelajaran selama magang tidak hanya berlangsung di depan laptop. Saya juga berkesempatan mengikuti kunjungan ke sejumlah acara atau event sebagai bagian dari kegiatan media. Pengalaman tersebut memberikan perspektif berbeda dalam memahami sebuah peristiwa.
Jika riset melalui internet membantu memperoleh informasi dari berbagai sumber, pengamatan langsung di lokasi memberikan kesempatan untuk melihat situasi dan aktivitas yang berlangsung. Keduanya dapat saling melengkapi dalam proses memahami suatu peristiwa dan menemukan hal yang menarik untuk diangkat menjadi informasi bagi publik.
Selain menulis artikel dan mengikuti kegiatan lapangan, saya juga berkesempatan menjadi talent dalam konten Surabaya Kabar Metro. Pengalaman ini memperkenalkan saya pada bentuk keterlibatan lain dalam penyajian informasi di media digital.
Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa media digital tidak hanya menyampaikan informasi melalui tulisan, tetapi juga memanfaatkan konten audiovisual untuk menjangkau audiens dengan cara yang berbeda.
Berbagai kegiatan tersebut membuat saya melihat bahwa ilmu Sastra Indonesia memiliki ruang penerapan yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan karya sastra. Kemampuan memahami bahasa, memilih kata, dan menyusun tulisan dapat menjadi bekal dalam pekerjaan jurnalistik.
Sementara itu, pengalaman mengikuti event dan menjadi talent memperlihatkan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan lingkungan kerja serta bentuk komunikasi yang beragam. Pengetahuan yang diperoleh selama kuliah menjadi dasar, sedangkan praktik magang memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan mengujinya dalam situasi nyata.
Dua bulan di Surabaya Kabar Metro juga memperluas pemahaman saya tentang proses kerja di media digital. Menulis artikel harian, mengikuti kegiatan lapangan, dan terlibat sebagai talent memberikan pengalaman yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Setiap kegiatan menghadirkan pembelajaran tersendiri, mulai dari ketelitian mengolah informasi hingga kepercayaan diri dalam menghadapi situasi baru.
Pengalaman ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui kesempatan untuk mencoba, beradaptasi, dan mengevaluasi diri.
Magang menjadi lebih dari sekadar kesempatan untuk menerapkan teori perkuliahan. Bagi saya, pengalaman di Surabaya Kabar Metro merupakan proses untuk memahami hubungan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan dunia kerja.
Dari menulis artikel hingga mengikuti kegiatan di lapangan, saya belajar bahwa bekerja di media membutuhkan keterampilan berbahasa, ketelitian, kreativitas, komunikasi, serta kemauan untuk terus belajar. Bekal dari bangku kuliah menjadi titik awal, sementara pengalaman di lapangan membantu saya memahami bagaimana bekal tersebut dapat dikembangkan untuk menghadapi tantangan profesional. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




