SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Memasuki musim hajatan, suasana di lingkungan permukiman biasanya mulai terasa berbeda.
Tenda berdiri di depan rumah, suara musik terdengar dari kejauhan, dan warga mulai sibuk mempersiapkan berbagai keperluan acara.
Bagi masyarakat sekitar, pemandangan seperti ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa.
Namun, bagi orang yang sedang memiliki keperluan dan harus melewati jalan tersebut, ada satu hal yang terkadang cukup membuat bingung, yakni jalan yang biasanya dilewati tiba-tiba ditutup karena digunakan untuk hajatan.
Jalan yang Biasanya Lancar Mendadak Berubah
Jalan kampung di Surabaya yang biasanya bisa dilewati kendaraan terkadang harus digunakan sebagai tempat berdirinya tenda atau area untuk tamu.
Akibatnya, akses kendaraan menjadi lebih terbatas dan pengendara perlu mencari jalan lain.
Situasi seperti ini cukup sering dirasakan oleh mahasiswa yang tinggal di kos. Jalan yang biasanya menjadi rute menuju kampus, tempat makan, atau minimarket bisa saja berubah karena adanya hajatan di sekitar tempat tinggal.
Tidak jarang, baru mengetahui jalan ditutup ketika sudah hampir sampai lokasi. Mau tidak mau, perjalanan harus dilanjutkan dengan mencari jalan alternatif yang terkadang lebih jauh.
Bagi mahasiswa yang tinggal di kos, jalan sekitar tempat tinggal menjadi salah satu akses penting untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Apalagi jika sebagian besar kegiatan dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.
Ketika ada hajatan, rute yang biasanya sudah hafal di luar kepala bisa berubah untuk sementara. Jalan yang biasanya menjadi jalan pintas justru tidak dapat dilewati karena dipakai untuk acara.
Karena itu musim hajatan secara tidak langsung membuat mahasiswa perlu mengetahui beberapa jalan alternatif di sekitar tempat tinggal. Setidaknya, ketika menemukan jalan yang ditutup, perjalanan tidak harus berhenti hanya karena bingung mencari arah.
Di Balik Jalan yang Ditutup, Ada Hajatan yang Sedang Berlangsung
Meski terkadang membuat perjalanan sedikit lebih repot, penutupan jalan biasanya berkaitan dengan kebutuhan acara. Hajatan merupakan bagian dari kegiatan sosial masyarakat yang melibatkan banyak orang, sehingga ruang di sekitar rumah sering kali perlu digunakan untuk menampung tamu.
Bagi warga yang mengadakan acara, keberadaan tenda dan penggunaan sebagian jalan menjadi bagian dari persiapan agar kegiatan dapat berlangsung dengan baik. Sementara bagi pengguna jalan, kondisi tersebut berarti harus menyesuaikan perjalanan untuk sementara waktu.
Di sinilah pentingnya saling memahami antara pemilik hajatan dan masyarakat yang menggunakan jalan. Informasi mengenai penutupan atau pengalihan akses juga dapat membantu orang-orang yang hendak melintas agar tidak tiba-tiba kebingungan ketika sampai di lokasi.
Musim hajatan sebenarnya tidak selalu identik dengan jalan yang ditutup atau lingkungan yang menjadi lebih ramai. Bagi sebagian orang, hajatan justru membawa suasana berbeda di lingkungan tempat tinggal.
Bagi anak kos, misalnya, ada juga cerita menyenangkan ketika mendapat kiriman makanan atau nasi berkat dari tetangga yang sedang mengadakan hajatan.
Makanan tersebut bisa menjadi tambahan menu, terutama ketika sedang malas memasak atau belum sempat membeli makanan.
Jalan yang mendadak ditutup hanyalah salah satu bagian kecil dari ramainya musim hajatan. Di balik tenda yang memenuhi jalan dan kendaraan yang harus mencari rute lain, ada kegiatan masyarakat yang mempertemukan banyak orang.
Bagi mahasiswa yang tinggal di lingkungan padat penduduk, mungkin sudah waktunya memasukkan satu hal ke dalam daftar persiapan sehari-hari: hafalkan jalan alternatif, karena musim hajatan bisa datang kapan saja. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




