Berita Nasional News Utama

Hutan Kalimantan Terbakar, Ancaman Terbesarnya Justru Bersembunyi di Bawah Tanah

Hutan Kalimantan Terbakar, Ancaman Terbesarnya Justru Bersembunyi di Bawah Tanah (Istimewa/ pexels)

SURABAYAKABARMETRO.ID, KALIMANTAN – Ketika kebakaran hutan dan lahan melanda Kalimantan, pemandangan yang paling mudah dikenali adalah pepohonan yang hangus, hamparan lahan yang menghitam, dan asap yang menutupi langit.

Namun, ada bagian dari bencana ini yang tidak selalu terlihat oleh mata. Di sejumlah kawasan bergambut, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan tanah di bawahnya.

Fenomena inilah yang membuat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi persoalan yang sulit ditangani.

Api yang terlihat padam belum tentu benar-benar berakhir.

Bara dapat bertahan di dalam lapisan gambut, menghasilkan asap, lalu menyebar ke bagian lain yang masih kering. Tanah yang dari luar tampak gelap dan tidak lagi berapi ternyata masih menyimpan ancaman.

Kondisi tersebut berkaitan dengan karakteristik tanah gambut. Berbeda dari tanah mineral pada umumnya, gambut terbentuk dari timbunan sisa tumbuhan yang mengalami pelapukan tidak sempurna selama waktu yang panjang. Lapisan organik ini menyimpan karbon dalam jumlah besar dan secara alami berada dalam kondisi basah.

Ketika kadar airnya menurun drastis, gambut menjadi lebih mudah terbakar.

Saat api mencapai lapisan tersebut, proses pembakaran dapat berlangsung di bawah permukaan tanah.

Kobaran api mungkin tidak terlihat besar, tetapi bara terus menghabiskan material organik dan merambat melalui bagian yang kering.

Karena itulah, hujan atau penyiraman pada permukaan saja belum tentu cukup untuk memastikan seluruh titik api telah padam.

Petugas perlu menangani bara yang tersisa di dalam gambut agar kebakaran tidak kembali muncul.

Ancaman karhutla di Kalimantan bukan sekadar persoalan musiman yang datang bersama kemarau. Pada 2026, skala kebakaran di sejumlah wilayah kembali menjadi perhatian.

Data BPBD Kalimantan Selatan yang diberitakan pada 14 Oktober mencatat sekitar 27.141 hektare lahan terbakar sepanjang 1 Januari hingga 13 Oktober, dengan 4.899 kejadian karhutla. Angka tersebut menggambarkan besarnya tekanan kebakaran terhadap lingkungan di salah satu provinsi di Kalimantan.

Dampaknya juga tidak berhenti pada lahan yang hangus. Asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak menghadapi risiko gangguan pernapasan, sementara jarak pandang yang berkurang dapat menghambat perjalanan. Ekosistem pun ikut terancam karena kebakaran merusak habitat satwa dan menghilangkan vegetasi yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Di sinilah persoalan gambut menjadi semakin penting. Ketika lahan mengering, risiko kebakaran meningkat. Jika kebakaran terjadi berulang kali, kerusakan ekosistem dapat memperburuk kondisi lahan dan membuatnya semakin rentan terhadap api.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika asap sudah menyelimuti permukiman. Menjaga kelembapan gambut, memulihkan tata air, mengawasi pembukaan lahan, dan memperkuat pencegahan sebelum musim kemarau menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang. BMKG juga menekankan pentingnya pengelolaan ekosistem gambut dan dukungan informasi cuaca dalam penanganan karhutla.

Kebakaran yang merambat di bawah tanah mengingatkan kita bahwa bencana tidak selalu memperlihatkan seluruh bahayanya di permukaan. Asap yang menipis belum tentu menandakan masalah telah selesai, sebagaimana tanah yang tampak tenang belum tentu bebas dari bara. Di Kalimantan, upaya memadamkan api harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga tanah tetap basah dan ekosistem tetap berfungsi.

Sebab, yang terbakar bukan hanya hutan yang terlihat dari kejauhan. Pada kawasan gambut, lapisan tanah yang menyimpan jejak kehidupan selama ribuan tahun juga dapat ikut musnah. Ketika api menjalar ke bawah permukaan, pekerjaan memulihkan lingkungan menjadi jauh lebih panjang daripada sekadar memadamkan kobaran yang terlihat. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi