Berita Jawa Timur Surabaya Utama

HUT ke-81 Jawa Timur, Jatim Ternyata Punya Kekayaan Budaya yang Menjadi Identitas Masyarakatnya

HUT ke-81 Jawa Timur, Jatim Ternyata Punya Kekayaan Budaya yang Menjadi Identitas Masyarakatnya (pixels)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur setiap 12 Oktober menjadi momentum untuk mengenal kembali kekayaan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Provinsi yang dikenal dengan beragam daerah, bahasa, tradisi, dan kesenian ini memiliki identitas budaya yang tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

Budaya Jawa Timur tidak terbatas pada satu bentuk kesenian atau tradisi. Setiap daerah memiliki ciri khas yang berkembang melalui sejarah, kehidupan sosial, serta kebiasaan masyarakatnya. Keberagaman tersebut dapat dilihat dari pertunjukan seni, upacara adat, hingga tradisi yang masih dijalankan dan diwariskan.

Reog Ponorogo, Kesenian yang Mendunia

Salah satu kesenian yang lekat dengan identitas Jawa Timur adalah Reog Ponorogo. Kesenian tradisional dari Kabupaten Ponorogo ini dikenal melalui pertunjukan yang memadukan tari, musik, kostum khas, dan topeng besar berbentuk kepala singa dengan hiasan bulu merak.

Reog bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur penonton. Kesenian ini juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Ponorogo yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pementasannya dapat dijumpai dalam berbagai acara, mulai dari perayaan budaya hingga kegiatan masyarakat.

Pengakuan terhadap Reog Ponorogo juga menunjukkan pentingnya pelestarian kesenian tradisional. Pada 2024, UNESCO memasukkan Reog Ponorogo ke dalam List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding atau Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Pelindungan Mendesak. Pengakuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tradisi membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan berbagai pihak.

Tari Gandrung, Identitas Budaya Banyuwangi

Bergeser ke ujung timur Pulau Jawa, Kabupaten Banyuwangi memiliki Tari Gandrung yang menjadi salah satu ikon kebudayaannya. Tarian ini identik dengan gerakan yang dinamis, busana khas, serta iringan musik tradisional.

Tari Gandrung tumbuh dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi dan kerap ditampilkan dalam acara kebudayaan maupun penyambutan tamu. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi penanda identitas suatu daerah sekaligus sarana untuk memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat yang lebih luas.

Gandrung juga menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan menjauhkan tradisi dari perkembangan zaman.
Pertunjukan dapatterus diperkenalkan melalui festival, kegiatan pendidikan, dan media digital tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Karapan Sapi, Tradisi Khas Masyarakat Madura

Madura juga memiliki tradisi yang dikenal luas, yakni Karapan Sapi. Tradisi ini berupa perlombaan sepasang sapi yang menarik kereta kecil dengan seorang joki di lintasan yang telah disiapkan.

Karapan Sapi bukan hanya perlombaan untuk menentukan sapi mana yang tercepat. Tradisi tersebut juga berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat Madura, termasuk kebanggaan terhadap sapi yang dimiliki dan semangat kebersamaan dalam penyelenggaraan acara.

Di sejumlah wilayah Madura, Karapan Sapi menjadi bagian dari agenda budaya yang menarik perhatian warga maupun pengunjung dari luar daerah. Tradisi ini menunjukkan bahwa kebudayaan dapat hadir sebagai hiburan sekaligus ruang untuk mempererat hubungan sosial masyarakat.

Tradisi Tengger, Warisan Budaya di Kawasan Bromo

Kekayaan budaya Jawa Timur juga dapat ditemukan di kawasan Pegunungan Tengger. Masyarakat Tengger yang tinggal di sekitar Gunung Bromo mempertahankan sejumlah tradisi yang berkaitan dengan kehidupan sosial, kepercayaan, dan hubungan mereka dengan lingkungan.

Salah satu tradisi yang dikenal adalah Yadnya Kasada, sebuah upacara adat masyarakat Tengger yang dilaksanakan di kawasan Gunung Bromo. Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa persembahan ke kawah gunung sebagai bagian dari ritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Yadnya Kasada memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya berbentuk tarian atau pertunjukan. Tradisi juga dapat hadir dalam upacara adat yang menyimpan nilai spiritual, kebersamaan, serta hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Keberagaman Bahasa dan Kuliner Memperkaya Identitas Jawa Timur
Selain kesenian dan upacara adat, identitas budaya Jawa Timur juga terlihat melalui bahasa dan kuliner. Bahasa Jawa dengan beragam dialek digunakan di berbagai wilayah, sementara bahasa Madura menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di Pulau Madura dan sejumlah daerah lainnya.

Perbedaan dialek dan kebiasaan berbahasa tersebut memperlihatkan bahwa Jawa Timur memiliki keragaman budaya di dalam satu wilayah provinsi. Cara masyarakat berkomunikasi, menyampaikan rasa hormat, dan menggunakan ungkapan tertentu turut menjadi bagian dari identitas lokal.

Kekayaan serupa terlihat dalam kuliner. Rawon yang dikenal dengan kuah hitamnya, rujak cingur khas Surabaya, pecel Madiun, hingga berbagai hidangan khas Madura menunjukkan beragamnya cita rasa yang berkembang di Jawa Timur. Makanan tidak hanya menjadi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bagian dari kebiasaan keluarga, tradisi berkumpul, dan identitas daerah.

Beragam kesenian, tradisi, bahasa, dan kuliner tersebut memperlihatkan bahwa identitas Jawa Timur dibentuk oleh banyak unsur yang saling melengkapi.
Setiap daerah memiliki ciri khastersendiri, tetapi seluruhnya menjadi bagian dari kekayaan budaya provinsi ini.

Peringatan Hari Jadi Jawa Timur dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda. Upaya tersebut bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti menghadiri pertunjukan seni, mempelajari sejarah tradisi daerah, menggunakan produk lokal, hingga membagikan informasi kebudayaan melalui media sosial.

Pelestarian budaya juga membutuhkan ruang bagi para pelaku seni dan masyarakat untuk terus menjalankan tradisi mereka. Tanpa regenerasi dan keterlibatan masyarakat, sejumlah kesenian berisiko semakin jarang dikenal, terutama oleh generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan budaya populer.

Kekayaan budaya Jawa Timur bukan hanya sesuatu yang dipamerkan ketika perayaan hari jadi tiba. Tradisi tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dijaga, dipahami, dan diwariskan. Dengan mengenal budaya dari berbagai daerah, masyarakat dapat merayakan HUT Jawa Timur sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap identitas daerahnya. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Anisah RA

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi