Berita Creative Hobi Utama

Film Empat Musim Pertiwi, Kisah Kepulangan yang Tidak Selalu Berarti Pulang ke Rumah

Film Empat Musim Pertiwi, Kisah Kepulangan yang Tidak Selalu Berarti Pulang ke Rumah (Cinema XXI)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Kepulangan tidak selalu disambut dengan pelukan.

Bagi sebagian orang, kembali ke tempat yang pernah disebut rumah justru berarti berhadapan dengan kenangan yang ingin dilupakan.

Gagasan inilah yang menjadi pintu masuk film Empat Musim Pertiwi, karya sutradara Kamila Andini yang menghadirkan kisah tentang masa lalu, penerimaan, dan perjalanan seorang perempuan untuk menemukan kembali tempatnya di dunia.

Film yang dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi ini mengikuti perjalanan seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun. Alih-alih mendapat sambutan hangat, kedatangannya justru disambut dengan penolakan dari warga, bahkan keluarganya sendiri.

Di tengah lingkungan yang masih menyimpan penilaian terhadap dirinya, hanya Mak Ira yang diperankan Christine Hakim dan Bisma yang diperankan Arya Saloka yang menyambut kepulangannya. Situasi tersebut membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung terasa asing bagi Pertiwi.

Kepulangan Pertiwi bukan sekadar perjalanan untuk kembali ke tempat asal. Ia juga harus menghadapi masa lalu yang pernah membawanya ke balik jeruji penjara.

Setelah bertahun-tahun menjalani hidup dengan pengalaman kelam yang membayangi dirinya, Pertiwi memilih untuk tidak lagi melarikan diri. Ia berusaha menghadapi apa yang pernah terjadi dan mencari jalan untuk melanjutkan hidupnya.

Dari premis tersebut, Empat Musim Pertiwi membuka ruang untuk membicarakan bagaimana seseorang dipandang berdasarkan masa lalunya. Masyarakat kerap menilai seseorang melalui satu peristiwa, seolah-olah pengalaman tersebut cukup untuk menjelaskan seluruh hidupnya.

Padahal, manusia terus berubah, sementara kesempatan untuk memperbaiki diri tidak selalu datang bersama penerimaan dari orang-orang di sekitarnya.

Persoalan inilah yang membuat perjalanan Pertiwi menarik untuk diikuti. Ia tidak hanya berhadapan dengan ingatannya sendiri, tetapi juga dengan pandangan orang-orang yang belum tentu bersedia melihat dirinya sebagai pribadi yang berbeda dari sosok yang mereka kenal dahulu.

Dalam situasi seperti itu, pulang menjadi sesuatu yang rumit. Tempatnya masih sama, tetapi hubungan dan rasa aman yang dahulu melekat pada tempat tersebut tidak lagi sepenuhnya tersedia.

Di balik kisah personal itu, film ini juga menarik perhatian melalui pendekatan visualnya. Kamila Andini mengembangkan gagasan Empat Musim Pertiwi sejak 2017, dengan pengalaman berlibur bersama keluarga di kawasan Bromo menjadi salah satu inspirasi visualnya.

Lanskap Bromo kemudian menjadi bagian dari gagasan artistik film yang mempertemukan alam, suasana keterasingan, dan perjalanan batin tokoh utamanya.

Pilihan tersebut turut memperlihatkan kecenderungan Kamila dalam menjadikan ruang dan lanskap sebagai bagian dari penceritaan. Alam tidak harus sekadar menjadi latar tempat karakter bergerak. Dalam film ini, lanskap dapat dibaca sebagai ruang yang memperkuat perasaan terasing sekaligus membuka kemungkinan bagi perubahan. Judulnya pun mengundang penafsiran: empat musim dapat dipahami sebagai gambaran fase kehidupan yang silih berganti, ketika masa sulit tidak selalu menjadi keadaan yang menetap selamanya.

Daya tarik Empat Musim Pertiwi juga terlihat dari perjalanan filmnya di luar Indonesia. Film ini dijadwalkan melakukan pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival 2026, kemudian masuk dalam program A Window on Asian Cinema di Busan International Film Festival 2026, serta dijadwalkan hadir di Tokyo International Film Festival. Perjalanan tersebut mempertemukan kisah yang berangkat dari pengalaman seorang perempuan Indonesia dengan penonton dari berbagai latar budaya.

Kehadiran Putri Marino, Christine Hakim, dan Arya Saloka juga mempertemukan karakter dengan latar serta posisi emosional yang berbeda dalam cerita.

Pertiwi berada di tengah upaya menghadapi masa lalunya, sementara orang-orang di sekelilingnya memperlihatkan bagaimana penerimaan dapat menjadi sesuatu yang tidak sederhana. Konflik tersebut membuat hubungan antartokoh menjadi bagian penting dari perjalanan Pertiwi untuk kembali membangun kehidupannya.

Empat Musim Pertiwi dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Film ini menawarkan cerita yang berangkat dari kepulangan, tetapi bergerak menuju persoalan yang lebih luas tentang bagaimana seseorang menghadapi masa lalu dan mencari tempat untuk memulai kembali.

Ada kalanya seseorang sudah berani kembali, tetapi dunia di sekitarnya belum siap menerimanya. Pertiwi berada di antara dua keadaan itu: keinginan untuk melanjutkan hidup dan kenyataan bahwa masa lalu masih memengaruhi cara orang lain memandangnya. Barangkali, rumah yang ia cari bukan semata-mata tempat yang pernah ditinggalkan, melainkan ruang tempat ia akhirnya bisa menjalani hidup tanpa terus-menerus didefinisikan oleh kesalahan dan luka yang telah berlalu. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi