Foto: Pexels
SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – “Sebentar saja, habis ini pulang.” Kalimat itu mungkin terdengar akrab bagi mahasiswa yang terbiasa menghabiskan malam bersama teman-temannya.
Awalnya hanya ingin minum kopi atau makan mi instan setelah kuliah, tetapi obrolan yang terus bersambung membuat waktu berjalan tanpa terasa. Jam sepuluh malam berubah menjadi tengah malam, lalu pukul tiga pagi, hingga langit perlahan terang sebelum mereka benar-benar beranjak pulang.
Bagi sebagian mahasiswa, nongkrong bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Di tengah jadwal kuliah, tugas yang menumpuk, rapat organisasi, dan berbagai tuntutan akademik, berkumpul bersama teman bisa menjadi ruang untuk melepas penat.
Ada cerita tentang dosen, keluh kesah soal tugas, obrolan mengenai masa depan, hingga candaan tidak penting yang justru terasa menyenangkan. Warung kopi, angkringan, dan kedai yang buka hingga pagi pun menjadi tempat singgah bagi mereka yang belum ingin mengakhiri hari.
Menariknya, kehidupan malam mahasiswa tidak selalu berkaitan dengan kegiatan yang besar atau mewah. Kadang, cukup dengan segelas es teh, sebungkus makanan ringan, dan lingkaran pertemanan yang sama, waktu berjam-jam bisa berlalu begitu saja.
Tidak ada agenda khusus, tidak ada pembicaraan yang harus diselesaikan. Mereka hanya menikmati kebersamaan yang terasa lebih leluasa ketika kesibukan siang hari mulai mereda.
Ada pula alasan mengapa malam terasa lebih nyaman untuk berkumpul.
Suasana cenderung lebih tenang, percakapan tidak banyak terpotong oleh jadwal perkuliahan, dan sebagian mahasiswa merasa lebih bebas bercerita ketika tidak sedang diburu urusan lain.
Bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga, nongkrong bahkan bisa menjadi cara sederhana untuk mengurangi rasa sepi selama menjalani kehidupan di perantauan.
Namun, persoalan muncul ketika kebersamaan tidak lagi mengenal batas waktu. Ajakan nongkrong yang awalnya sesekali berubah menjadi rutinitas hampir setiap malam. Pulang menjelang pagi dianggap biasa, sementara waktu tidur menjadi sesuatu yang bisa dikorbankan.
Tidak sedikit yang akhirnya menjalani hari dengan tubuh lelah, sulit bangun, dan pikiran yang belum sepenuhnya siap mengikuti perkuliahan.
Kurang tidur bukan perkara sepele. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam. Jika kebiasaan pulang pagi membuat waktu istirahat terus berkurang, konsentrasi, daya ingat, suasana hati, dan kemampuan menyelesaikan aktivitas dapat ikut terganggu. Akibatnya, mahasiswa mungkin hadir di kelas secara fisik, tetapi kesulitan menyerap materi karena rasa kantuk dan kelelahan.
Selain waktu, pengeluaran juga perlu diperhatikan. Nongkrong yang terlihat sederhana bisa menjadi pengeluaran rutin ketika dilakukan terlalu sering. Kopi, makanan, biaya parkir, hingga ongkos perjalanan pulang perlahan mengurangi uang bulanan. Jika tidak diperhitungkan, kebutuhan kuliah dan keperluan sehari-hari justru bisa terdesak oleh kebiasaan yang semula dianggap sebagai hiburan murah.
Meski demikian, menyalahkan budaya nongkrong sepenuhnya juga bukan jawaban yang tepat. Pertemanan merupakan bagian penting dari kehidupan mahasiswa. Dari obrolan santai, seseorang bisa menemukan dukungan emosional, memperoleh informasi, membangun relasi, bahkan mendapatkan ide untuk kegiatan akademik. Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata seberapa sering mahasiswa keluar malam, melainkan bagaimana mereka mengatur waktu dan memahami batas kemampuan diri.
Ada perbedaan antara menikmati masa muda dan membiarkan seluruh rutinitas bergantung pada keinginan untuk terus berkumpul.
Mahasiswa tetap bisa menikmati kopi tengah malam, berbagi cerita dengan teman, atau menghabiskan akhir pekan di luar rumah tanpa harus menjadikan pulang pagi sebagai kebiasaan yang terus berulang. Menentukan waktu pulang, mempertimbangkan jadwal kuliah keesokan hari, dan memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat merupakan bagian dari belajar mengatur kehidupan sendiri. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




