Berita Humaniora Jawa Timur Surabaya Utama

Alasan Masyarakat Gelar Hajatan di Saat yang Hampir Bersamaan, Mulai dari Penanggalan Jawa hingga Cuaca

Alasan Masyarakat Gelar Hajatan di Saat yang Hampir Bersamaan, Mulai dari Penanggalan Jawa hingga Cuaca (Generated by Gemini)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Dalam bulan-bulan tertentu, untuk masyarakat Surabaya maupun di kota lain, selalu ada orang yang menggelar hajatan hamper bersamaan dalam satu kampung.

Bahkan, bisa saja hajatan itu digelar di saat yang bersamaan dengan tetangga yang hanya beda gang.

Makanya, tidak heran jika ada masa ketika membuka WhatsApp terasa seperti membuka kotak undangan.

Senin ada undangan pernikahan teman, Rabu dapat kabar tetangga punya hajatan, akhir pekan sudah ada dua acara yang harus didatangi.

Belum lagi ketika melewati jalan kampung, hampir setiap beberapa meter terlihat tenda, kursi plastik, sound system, dan papan nama pengantin.

Fenomena ini sering disebut sebagai “musim hajatan”. Menariknya, hajatan seperti pernikahan, khitanan, atau acara keluarga lainnya memang kerap muncul dalam waktu yang berdekatan. Lalu, kenapa seolah-olah semua orang memilih waktu yang sama?

Satu di antara jawabannya berkaitan dengan budaya masyarakat Jawa yang masih mempertimbangkan waktu tertentu untuk melangsungkan hajatan.

Dalam tradisi Jawa, menentukan hari pernikahan tidak selalu sesederhana memilih tanggal yang kebetulan kosong.

Sebagian keluarga masih menggunakan perhitungan penanggalan Jawa untuk mencari hari yang dianggap sesuai berdasarkan weton dan pertimbangan keluarga.

Karena menggunakan pertimbangan yang serupa, bukan tidak mungkin beberapa keluarga akhirnya memilih waktu yang berdekatan. Ketika satu periode dianggap baik untuk menggelar hajatan, undangan pun bisa datang hampir bersamaan.

Namun, persoalannya tidak hanya soal kepercayaan atau tradisi. Cuaca juga punya pengaruh yang cukup besar.

Bagi masyarakat yang mengadakan hajatan dengan memanfaatkan halaman rumah, jalan kampung, atau ruang terbuka, kondisi cuaca tentu menjadi pertimbangan.

Musim dengan curah hujan yang lebih rendah biasanya dianggap lebih nyaman untuk mengadakan acara, terutama pesta pernikahan yang membutuhkan banyak aktivitas di luar ruangan.

Di Indonesia, pilihan waktu hajatan juga sering mengikuti siklus kehidupan masyarakat.

Ada keluarga yang sengaja memilih waktu setelah masa panen, setelah menerima penghasilan tertentu, atau ketika anggota keluarga yang merantau sedang pulang. Akibatnya, ketika memasuki periode tertentu, acara keluarga bisa berlangsung secara beruntun.

Ada pula faktor yang lebih sederhana: ketersediaan keluarga dan tamu.

Pernikahan bukan hanya urusan dua orang. Ada keluarga besar yang harus dilibatkan, mulai dari orang tua, saudara, hingga kerabat yang tinggal jauh. Menentukan tanggal berarti mencari waktu ketika orang-orang penting tersebut bisa hadir. Jika satu periode dianggap paling memungkinkan, tanggal hajatan pun bisa terkonsentrasi di sana.

Hal yang sama terjadi pada penyedia jasa hajatan. Ketika banyak orang memilih waktu yang berdekatan, jasa katering, dekorasi, fotografer, rias pengantin, penyewaan tenda, hingga sound system ikut mengalami masa sibuk. Bagi mereka, “musim hajatan” bukan sekadar istilah warga, tetapi benar-benar menjadi periode ketika permintaan pekerjaan meningkat.

Menariknya, musim hajatan juga punya efek sosial yang terasa di lingkungan sekitar. Jalan yang biasanya sepi mendadak berubah menjadi tempat parkir. Suara musik terdengar dari pagi hingga sore. Grup WhatsApp keluarga dan RT ramai membicarakan undangan. Bahkan orang yang tidak memiliki hajatan pun sering ikut sibuk karena membantu tetangga atau kerabat.

Di situlah hajatan menjadi lebih dari sekadar pesta. Ia memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat berjalan secara kolektif.

Ketika satu keluarga punya acara, keluarga lain ikut membantu. Ketika tetangga menggelar pernikahan, warga sekitar ikut repot mengatur parkir atau menerima tamu. Ada semacam kesibukan bersama yang hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.

Jadi, kalau suatu hari undangan pernikahan tiba-tiba datang berturut-turut, mungkin bukan kebetulan semata. Ada tradisi yang dipertimbangkan, cuaca yang diperhatikan, kalender keluarga yang disesuaikan, hingga kondisi ekonomi dan ketersediaan orang-orang yang ingin dilibatkan.

Musim hajatan akhirnya menjadi salah satu fenomena sederhana yang menunjukkan bagaimana masyarakat mengatur waktu bersama. Dan mungkin itu sebabnya, setelah satu hajatan selesai, kita belum sempat menyimpan amplop ke dalam dompet, sudah ada undangan berikutnya yang datang. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi