Berita Kesehatan Nasional Utama

Karhutla Kalimantan Tak Kunjung Padam, Ternyata Pernah Terjadi Puluhan Tahun Lalu dan Dampaknya bagi Masyarakat serta Iklim

Karhutla Kalimantan Tak Kunjung Padam, Ternyata Pernah Terjadi Puluhan Tahun Lalu dan Dampaknya bagi Masyarakat serta Iklim (unsplash)

SURABAYAKABARMETRO.ID – Setiap kali musim kemarau datang, persoalan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian. Di Kalimantan, api bukan hanya persoalan yang muncul dalam satu atau dua tahun terakhir.

Kebakaran besar telah berulang selama puluhan tahun, dengan skala dan dampak yang berbeda-beda.

Dari kebakaran besar pada awal 1980-an, bencana 1997–1998, hingga kebakaran hebat pada 2015 dan 2019, karhutla menunjukkan bahwa persoalan ini belum benar-benar selesai.

Karhutla di Kalimantan perlu dipahami sebagai masalah yang berulang, bukan satu kejadian yang berlangsung tanpa henti. Catatan sejarah menunjukkan kebakaran besar telah terjadi sejak 1982–1983.

Pada periode tersebut, kebakaran yang dipengaruhi kemarau panjang dan fenomena El Niño membakar jutaan hektare hutan di Kalimantan Timur. Setelah itu, kebakaran kembali terjadi dalam berbagai skala, termasuk pada 1997–1998 yang menjadi salah satu episode karhutla paling parah dalam sejarah Indonesia.

Peristiwa 1997–1998 menjadi salah satu titik penting karena dampaknya tidak berhenti di wilayah yang terbakar. Kebakaran dalam skala besar menghasilkan kabut asap yang menyebar hingga negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Aktivitas masyarakat, transportasi, kesehatan, dan perekonomian ikut terganggu. Pada periode tersebut, dampak kesehatan yang tercatat antara lain peningkatan kasus gangguan pernapasan, asma, bronkitis, dan ISPA.

Setelah peristiwa tersebut, karhutla kembali berulang. Kebakaran besar tercatat pada 2015 dan 2019, dua periode yang juga berkaitan dengan kondisi kemarau dan pengaruh fenomena iklim seperti El Niño.

Pemerintah mencatat luas karhutla secara nasional mencapai sekitar 2,6 juta hektare pada 2015 dan sekitar 1,6 juta hektare pada 2019. Kalimantan termasuk wilayah yang berulang kali terdampak, terutama karena memiliki kawasan gambut yang luas dan rentan terbakar ketika mengalami kekeringan.

Lahan gambut menjadi salah satu bagian penting dalam persoalan ini. Dalam kondisi alami, gambut menyimpan air dan karbon dalam jumlah besar. Ketika mengalami pengeringan, misalnya akibat perubahan tata air, lahan tersebut menjadi jauh lebih mudah terbakar.

Api di lahan gambut juga dapat menjadi persoalan yang sulit ditangani karena pembakaran bahan organik dapat berlangsung di bawah permukaan.

Ketika gambut terbakar, persoalannya bukan hanya kehilangan vegetasi, tetapi juga pelepasan karbon yang sebelumnya tersimpan dalam tanah.

Dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah kualitas udara. Asap dari karhutla membawa berbagai partikel dan polutan yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Dalam kondisi tertentu, kabut asap juga dapat mengurangi jarak pandang dan mengganggu aktivitas transportasi.

Sekolah, penerbangan, kegiatan ekonomi, serta aktivitas masyarakat dapat ikut terdampak ketika kualitas udara memburuk. Pengalaman dari karhutla besar sebelumnya menunjukkan bahwa dampak asap dapat meluas jauh dari lokasi kebakaran.

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terbakar, dampaknya juga dapat menyentuh kehidupan ekonomi. Aktivitas perdagangan dapat menurun ketika masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah.

Pekerja yang bergantung pada aktivitas lapangan dapat mengalami gangguan, sementara pemerintah harus mengeluarkan sumber daya untuk pemadaman, penanganan asap, pelayanan kesehatan, hingga upaya pencegahan kebakaran berikutnya. BMKG juga menekankan bahwa kerugian akibat karhutla mencakup aspek material dan imaterial, termasuk gangguan kesehatan dan aktivitas ekonomi.

Dampaknya terhadap lingkungan juga tidak kalah besar. Kebakaran dapat menghancurkan vegetasi, merusak habitat satwa, mengganggu ekosistem, serta mengubah kondisi tanah.

Kalimantan sendiri merupakan habitat berbagai satwa endemik, sehingga hilangnya kawasan hutan akibat kebakaran dapat memberikan tekanan tambahan terhadap keberlangsungan habitat tersebut. Dalam jangka panjang, kerusakan ekosistem juga dapat membuat kawasan tertentu semakin rentan terhadap gangguan lingkungan lainnya.

Persoalan karhutla kemudian berkaitan erat dengan perubahan iklim.

Ketika hutan dan terutama gambut terbakar, karbon yang tersimpan dalam biomassa dan tanah dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk emisi gas rumah kaca. Penelitian mengenai kebakaran 2019 menunjukkan bahwa pembakaran gambut menjadi salah satu penyebab penting tingginya emisi gas rumah kaca Indonesia pada periode tersebut.

Dengan demikian, karhutla bukan hanya menjadi dampak dari kondisi iklim yang lebih kering, tetapi juga dapat memperburuk persoalan perubahan iklim melalui pelepasan emisi.

Hubungan tersebut menciptakan semacam lingkaran persoalan. Kondisi kemarau yang lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama pada lahan yang telah mengalami degradasi atau kehilangan kelembapan. Ketika kebakaran terjadi, karbon yang tersimpan di hutan dan gambut dilepaskan ke atmosfer. Pada saat yang sama, hilangnya tutupan vegetasi juga mengurangi fungsi ekologis kawasan tersebut.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul.

Dalam beberapa tahun terakhir, upaya pencegahan mulai diarahkan pada pengelolaan lahan gambut, pemantauan titik panas, operasi pemadaman, hingga modifikasi cuaca.

Pemerintah mencatat luas karhutla nasional turun dari sekitar 2,6 juta hektare pada 2015 menjadi sekitar 1,6 juta hektare pada 2019, 1,1 juta hektare pada 2023, dan sekitar 376.805 hektare pada 2024. Penurunan tersebut menunjukkan adanya kemajuan, tetapi pemerintah tetap menilai karhutla sebagai ancaman yang perlu diantisipasi karena kebakaran masih terus berulang.

Karhutla Kalimantan pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang hutan yang terbakar. Di balik asap yang memenuhi udara, terdapat masyarakat yang harus mengubah aktivitas sehari-hari, ekosistem yang kehilangan habitat, serta karbon yang kembali dilepaskan ke atmosfer. Sejarah selama lebih dari empat dekade menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sesuatu yang baru dan tidak pula selesai hanya karena satu musim kebakaran berhasil dilewati. (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi