SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Bagi warga Surabaya, nama Eri Cahyadi rasanya sudah tidak asing.
Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Eri ini bukan sosok yang tiba-tiba muncul di panggung pemerintahan.
Sebelum menjadi wali kota, ia telah lama berada di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya dan menempati sejumlah posisi birokrasi.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya menjadi orang nomor satu di Kota Pahlawan sejak dilantik pada 24 Februari 2021.
Eri Cahyadi lahir di Surabaya pada 27 Mei 1977, dan tumbuh di Kampung Kawatan.
Latar belakang pendidikannya berada di bidang teknik sipil, sementara perjalanan kariernya lebih banyak dihabiskan dalam birokrasi Pemerintah Kota Surabaya.
Ia pernah terlibat dalam sejumlah bidang perencanaan dan pengelolaan pemerintahan sebelum akhirnya menjabat sebagai wali kota.
Di masa kepemimpinannya, pembangunan Surabaya tidak hanya berbicara tentang jalan, taman, atau infrastruktur.
Pemerintah kota juga mendorong berbagai program yang berkaitan langsung dengan persoalan warga, mulai dari kemiskinan, pengangguran, kesehatan, pendidikan hingga pelayanan publik.
Pada 2026, Pemkot Surabaya menyebut tujuh program prioritas yang menjadi perhatian pembangunan kota, yaitu pengurangan kemiskinan dan pengangguran, penurunan angka kematian ibu dan anak, pengentasan stunting, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia, penurunan gini rasio, serta peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Salah satu hal yang cukup menonjol adalah cara pemerintah kota mendorong birokrasi agar lebih dekat dengan masyarakat.
Pada September 2026, Eri menginstruksikan ASN dan jajaran Pemkot Surabaya untuk bertugas di Balai RW.
Kebijakan tersebut diarahkan agar pelayanan publik tidak hanya menunggu warga datang ke kantor pemerintahan, tetapi juga hadir lebih dekat dengan lingkungan tempat warga tinggal.
Pendekatan serupa terlihat dalam pengembangan kanal pengaduan warga. Pemerintah Kota Surabaya menjalankan Hotline Lapor Cak Eri yang berada langsung di bawah pengawasan wali kota, dengan penanganan aduan yang ditargetkan maksimal 1×24 jam. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya untuk memperpendek jarak antara persoalan warga dan birokrasi.
Surabaya di bawah Eri juga menghadapi persoalan yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk penggunaan teknologi.
Pada 2026, Pemkot Surabaya menerapkan Gerakan Surabaya Tanpa Gawai pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB bagi anak.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital sekaligus mendorong interaksi antara anak dan keluarga di luar penggunaan perangkat elektronik.
Di sisi lain, perhatian pemerintah kota juga menyentuh persoalan lingkungan dan transportasi. Pada April 2026, Pemkot Surabaya menargetkan peralihan kendaraan dinas menuju kendaraan listrik.
Sebanyak 80 kendaraan operasional lama dilelang sebagai bagian dari proses tersebut, sementara pengadaan kendaraan listrik direncanakan menggunakan skema sewa.
Tidak hanya pembangunan fisik dan pelayanan publik, persoalan identitas kota juga menjadi bagian dari agenda pemerintahan Eri. Pada Mei 2026, ia menyerahkan SK Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026–2029.
Pemerintah kota mendorong ruang publik seperti Balai Pemuda dan fasilitas publik lainnya agar dapat menjadi ruang bagi seniman dan budayawan Surabaya. Kesenian seperti ludruk, remo, dan parikan juga didorong untuk terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui bentuk kolaborasi yang lebih dekat dengan zaman.
Dari birokrasi hingga kebudayaan, berbagai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa mengelola kota tidak hanya soal membangun sesuatu yang terlihat.
Ada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga: bagaimana mereka mendapatkan pelayanan, bagaimana anak-anak menggunakan teknologi, bagaimana ruang publik dimanfaatkan, hingga bagaimana identitas Surabaya tetap hidup di tengah perubahan kota.
Eri Cahyadi kini menjadi salah satu figur yang cukup lekat dengan pemerintahan Surabaya. Perjalanan kepemimpinannya pun masih berjalan, dengan berbagai kebijakan yang terus berkembang mengikuti persoalan kota. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila



