SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Ada satu kebiasaan yang mungkin tanpa sadar yang kita lakukan ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan, yaitu membuka kamera.
Makan enak, foto dulu.
Nongkrong bersama teman, dokumentasikan. Pergi ke tempat bagus, cari sudut terbaik. Bahkan ketika sedang menikmati konser atau matahari terbenam, terkadang tangan justru sibuk mengangkat ponsel.
Bukan karena momennya tidak menarik, tetapi karena muncul keinginan untuk membagikannya kepada orang lain.
Instagram akhirnya tidak hanya menjadi tempat berbagi foto. Ia perlahan menjadi semacam album kehidupan yang dapat dilihat banyak orang.
Apa yang kita lakukan, tempat yang kita datangi, siapa yang bersama kita, bahkan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia bisa masuk ke dalamnya.
Lalu muncul pertanyaan sederhana: kalau sebuah momen tidak diposting, apakah momen tersebut tetap berarti?
Kita hidup dalam budaya yang membuat pengalaman mudah diabadikan. Kamera selalu berada di dalam genggaman. Satu foto bisa langsung masuk ke Story dan hilang dalam 24 jam.
Satu video bisa menjadi Reels dan ditonton banyak orang. Akhirnya, ada pengalaman yang terasa belum lengkap sebelum memiliki dokumentasi.
Tidak jarang kita mengambil foto bukan hanya untuk mengingatnya, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa kita sedang mengalaminya. Ada kepuasan tersendiri ketika unggahan mendapatkan respons berupa likes, balasan, atau pesan dari teman. Tanpa sadar, pengalaman pribadi dapat berubah menjadi sesuatu yang membutuhkan penonton.
Padahal, tidak semua hal harus menjadi konsumsi publik.
Ada foto yang cukup tersimpan di galeri. Ada perjalanan yang cukup dikenang oleh orang-orang yang mengalaminya. Ada percakapan yang tidak perlu diabadikan.
Bahkan ada kebahagiaan yang mungkin justru terasa lebih utuh karena tidak sibuk memikirkan bagaimana membuatnya terlihat menarik di layar.
Bukan berarti membagikan momen di media sosial adalah sesuatu yang salah. Instagram juga dapat menjadi ruang untuk berekspresi, berbagi cerita, menyimpan kenangan, dan terhubung dengan orang lain. Persoalannya muncul ketika kita mulai merasa bahwa sesuatu baru terasa berharga setelah mendapatkan perhatian dari orang lain.
Bayangkan sedang pergi ke pantai bersama teman. Jika tidak ada foto, tidak ada Story, dan tidak ada unggahan, apakah suara ombak menjadi kurang indah? Apakah obrolan menjadi kurang lucu? Apakah matahari terbenam menjadi kurang berarti?
Tentu tidak.
Mungkin kita hanya terlalu terbiasa mengukur pengalaman melalui sesuatu yang bisa dilihat orang lain.
Di tengah budaya digital yang mendorong kita untuk terus menunjukkan kehidupan, menyimpan sebagian momen untuk diri sendiri justru bisa menjadi bentuk kebebasan. Tidak semua kebahagiaan membutuhkan penonton. Tidak semua kenangan membutuhkan likes. Dan tidak semua hal indah harus memiliki jejak digital.
Sebab pada akhirnya, hidup bukanlah sebuah feed yang harus terus diperbarui.
Ada kehidupan yang memang pantas dibagikan, tetapi ada pula kehidupan yang cukup kita jalani. Momen-momen kecil yang tidak pernah masuk Instagram tetap memiliki cerita, tetap memiliki rasa, dan tetap menjadi bagian dari siapa kita. (surabayakabarmemtro.id)




