SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Pernah merasa ingin langsung pulang dan menyendiri setelah seharian bertemu banyak orang? Padahal tidak ada masalah dengan siapa pun.
Bisa jadi, yang sedang “habis” bukan energi fisik, melainkan social battery.
Istilah social battery belakangan ini cukup sering digunakan untuk menggambarkan energi seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain.
Saat social battery masih penuh, mengobrol, bertemu teman, atau menghadiri acara ramai terasa menyenangkan. Namun ketika mulai terkuras, seseorang bisa merasa ingin mengurangi interaksi dan menikmati waktu sendirian.
Kenapa Social Battery Bisa Habis?
Berinteraksi dengan orang lain membutuhkan perhatian dan energi. Saat berada di lingkungan ramai, seseorang mungkin harus terus mendengarkan, merespons percakapan, menyesuaikan diri, hingga memikirkan bagaimana harus bersikap.
Hal tersebut bisa terasa lebih melelahkan bagi orang yang memang membutuhkan waktu sendiri untuk mengembalikan energinya. Namun, bukan berarti hanya orang introvert yang bisa mengalami social battery habis. Siapa pun dapat merasakannya terutama setelah menjalani hari dengan banyak interaksi.
Selain jumlah interaksi, situasi yang dihadapi juga bisa memengaruhi energi sosial. Bertemu dengan orang yang sudah akrab mungkin terasa lebih santai dibandingkan harus berada di lingkungan baru dan bertemu banyak orang yang belum dikenal.
Acara yang berlangsung lama atau percakapan yang membutuhkan banyak perhatian juga dapat membuat energi sosial lebih cepat terkuras.
Tidak aneh jika seseorang yang sepanjang hari terlihat aktif dan banyak berbicara justru memilih diam ketika sudah berada di rumah. Bukan berarti tiba-tiba tidak ingin berteman, tetapi tubuh dan pikiran sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat dari berbagai interaksi yang sudah dijalani, hal tersebut biasanya disebut dengan recharge energy.
Tanda-Tanda Energi Mulai Terkuras
Social battery yang mulai habis bisa ditandai dengan keinginan untuk tidak membalas pesan, malas berbicara, lebih nyaman berada sendirian, atau merasa lelah setelah berada di tengah keramaian.
Ada juga yang tetap menikmati pertemuan dengan teman, tetapi setelahnya membutuhkan waktu untuk “recharge”. Kondisi ini sebenarnya cukup wajar selama tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ketika merasa butuh waktu sendiri, bukan berarti harus merasa bersalah atau menganggap diri sebagai orang yang antisosial. Istirahat dari interaksi sosial juga bisa menjadi cara untuk mengembalikan energi.
Memberi jeda dapat dilakukan dengan hal sederhana, seperti menghabiskan waktu di kamar, mendengarkan musik, menonton film, berjalan-jalan sendirian, atau sekadar tidak membuka pesan untuk sementara waktu.
Setiap orang memiliki batas energi sosial yang berbeda. Tidak harus selalu tersedia untuk semua orang. Mengenali kapan social battery mulai habis justru dapat membantu seseorang mengatur waktu antara bersosialisasi dan menikmati waktu untuk diri sendiri. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




