SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Nama Sawunggaling tentu tidak asing bagi masyarakat Surabaya.
Namanya dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti nama jalan.
Namun, di balik nama tersebut terdapat kisah Panjang tentang sosok yang dikenal dalam legenda masyarakat Surabaya sebagai ksatria pemberani yang melawan VOC.
Berdasarkan penuturan Setya Budi (50), juru kunci Makan Raden Sawunggaling, kisah bermula dari seorang pemuda bernama Joko Berek.
Ia disebut lahir di wilayah Lidah Donowati atau yang kini dikenal sebagai Lidah Wetan, Surabaya.
Dalam kisah yang dituturkan, Joko Berek merupakan anak dari seorang Temenggung Surabaya Bernama Panji Surengrono yang bergelar Djangrono III dan R. Ayu Dewi Sangkrah, seorang perempuan keturunan Mataram.
Sejak masih dalam kandungan, Joko Berek telah ditinggalkan sang ayah yang pergi ke Kadipaten Surabaya. Kondisi tersebut membuat masa kecilnya tidak mudah.
Ia bahkan kerap menjadi bahan olok-olok teman-temannya karena dianggap sebagai anak yang tidak memiliki ayah.
Joko Berek dan Ayam Bagong
Saat berusia sekitar delapan tahun, Joko Berek meminta seekor ayam jago depada ibunya.
Melihat kondisi sang anak, kemudian ibunya meminta bantuan seorang kakek yang tinggal di kawasan hutan rawa Wiyung.
Ayam yang diberikan kepada Joko Berek baru dapat dibawa pulang setelah menetas. Sejak saat itu, anak ayam tersebut selalu menemani Joko Berek ke mana pun ia pergi dan diberi nama Bagong.
Tempat ayam tersebut mengeram kemudian dikenal dengan nama Cindelaras dan hingga kini masih disebut dalam cerita masyaraat di Kawasan Balas Klumprik.
Kisah Joko Berek tidak berhenti di sana.
Saat beranjak remaja, ia mulai menunjukkan tanda-tanda yang dipercaya sebagai bagian dari ketokohannya.
Salah satunya terjadi ketika masyarakat di kawasan pegunungan Kendeng bagian selatan tepatnya Warugunung, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Warga telah mencoba menggali sumber air di berbagai tempat, tetapi belum berhasil.
Dalam cerita yang dituturkan, Joko Berek kemudian menunjuk sebuah bukit dan mengatakan bahwa di tempat tersebut terdapat sumber air.
Meski dianggap tidak masuk akal karena lokasinya berada di tempat yang cukup tinggi, warga tetap mencoba menggali Kawasan tersebut.
Setelah digali, ternyata muncul sumber air bersih. Tempat tersebut kemudian dikenal masyarakat sebagai Sumur Bumi Warugunung.
Mencari Sang Ayah ke Kadipaten Surabaya
Ketika berusia sekitar 17-18 tahun, Joko Berek memutuskan mencari ayahnya ke Kadipaten Surabaya. Ia berbekal sebuah cinde atau kain yang diberikan oleh ibunya sebagai tanda pengenal.
Namun, kedatangannya tidak langsung diterima.
Pakaian Joko Berek yang sederhana membuatnya dipandang sebelah mata. Ia bahkan mendapat tantangan untuk mengadu ayamnya, Bagong.
Dengan ayam milik saudara tirinya, R. Sawungrono dan R. Sawungsari.
Pertarungan tersebut bukan perkara biasa. Jika ayam Joko Berek kalah, ia disebut akan dipenggal sebagai tumbal alun-alun Surabaya.
Bagong ternyata berhasil memenangkan pertarungan.
Kemenangan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Joko Berek untuk bertemu dengan ayahnya.
Meski telah menunjukkan cinde pemberian ibunya, Djangrono III masih belum mengakui Joko Berek sebagai anaknya. Joko Berek kemudian diberi ujian untuk merawat 144 ekor kuda.
Selama menjalaankan tugas tersebut, tidak boleh ada satu pun kuda yang mati.
Setelah berhasil merawat seluruh kuda dalam kondisi baik, Joko Berek akhirnya diakui sebagai anak Djangrono III.
Dari Joko Berek menjadi Sawunggaling
Djangrono III dikenal sebagai pemimpin yang tidak ingin membayar upeti kepada VOC.
Sikap tersebut disebut muncul karena ia tidak tega melihat kondisi rakyatnya yang hidup dalam kesulitan.
Sikap tersebut kemudian membuat VOC dan Kartosuro berusaha menyingkirkan Djangrono III dari kedudukannya sebagai Tumenggung Surabaya.
Satu di antara cara yang digunakan adalah dengan mengadakan perlombaan memanah atau jumparing di Alun-alun Kartosuro.
Tidak ada ksatria yang berhasil menyelesaikan perlombaan tersebut hingga akhirnya Joko Berek mencoba mengikuti perlombaan. Sebelum memanah, ia melakukan ritual doa dengan menyebut leluhur dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam cerita masyarakat, ritual tersebut dikenal sebagai suluk.
Joko Berek akhirnya berhasil memenangkan perlombaan.
Namun, kemenangan itu belum membuat perjuangannya selesai. Ia Kembali mendapatkan syarat lain, yaitu membabat Alas Nambas Kelingan, sebuah Kawasan yang dalam cerita dikenal angker dan memiliki kekuatan gaib.
Dengan keberaniannya serta bantuan R. Ayu pandansari, putri penunggu hutan tersebut. Joko Berek berhasil membabat alas Nambas Kelingan. Wilayah yang dalam legenda dikaitkan dengan pembabatan hutan tersebut kini disebut sebagian Kawasan Gresik, Benowo, hingga perak.
Setelah menyelesaikan tugas tersebut, Joko Berek pergi ke Mataram untuk meminta surat perintah pengangkatan sebagai adipati.
Namun, dalam perjalanan menuju pengangkatannya, Kembali terjadi sebuah peristiwa yang mengubah jalan hidupnya. Djangrono III disebut dijamu oleh VOC dan minumannya telah diberi racun hingga membuatnya sekarat.
Ketika Joko Berek datang untuk menagih janji pengangkatannya sebagai adipati, ia juga mendapatkan minuman yang ternyata diberi racun juga. Beruntung, Cakraningrat menahan tangannya sebelum minuman tersebut diminum.
Sejak peristiwa tersebut, Joko Berek kemudian mendapatkan gelar Raden Sawunggaling. Dalam ceritanya, Sawunggaling kemudian berbalik melawan VOC dan melakukan perlawanan dari Surabaya hingga Batavia.
Nama Sawunggaling Terus Dikenang
Kisah Sawunggaling kemudian terus hidup dalam ingatan masyarakat. Jejak Namanya tidak hanya ditemukan di Surabaya, tetapi juga di berbagai tempat.
Bagi Setya Budi (50), kisah tersebut menunjukkan bahwa Sawunggaling tidak hanya menjadi bagian dari sejarah dan cerita masyarakat Surabaya. Namanya juga dianggap memiliki hubungan dengan perjuangan masyarakat di berbagai daerah.
Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang mengenai Sawunggaling, legenda tersebut menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah Joko Berek hingga menjadi Raden sawunggaling memperlihatkan bagaimana masyarakat mempertahankan ingatan terhadap sosok yang digambaran berani melawan ketidakadilan.
Hingga kini, nama Sawunggaling masih melekat dalam berbagai sudut Kota Surabaya.
Bukan hanya sebagai sebuah nama, tetapi juga sebagai bagian dari cerita tentang keberanian, perjuangan, dan identitas masyarakat yang terus dikenang. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Anisah RA




