SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Bagi mahasiswa di Surabaya, kehidupan perkuliahan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.
Ada perjalanan panjang menuju kampus, panas kota yang menemani aktivitas sehari-hari, tugas yang datang silih berganti, hingga warung kopi yang kerap berubah menjadi ruang diskusi setelah jam kuliah berakhir.
Pagi hari dimulai dengan terburu-buru mengejar kelas.
Sebagian mahasiswa berangkat dari kos, sebagian lainnya menempuh perjalanan dari rumah. Motor menjadi salah satu pilihan utama untuk mobilitas, sementara kemacetan di beberapa ruas jalan menjadi bagian yang sudah tidak asing lagi.
Sesampainya di kampus, rutinitas pun dimulai.
Yaitu mengikuti perkuliahan, berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga menghadiri berbagai kegiatan organisasi.
Namun, kehidupan mahasiswa Surabaya tidak berhenti ketika dosen mengakhiri perkuliahan.
Justru setelah keluar dari ruang kelas, aktivitas lain sering kali dimulai.
Rapat organisasi, mengerjakan tugas kelompok, berdiskusi mengenai kegiatan kampus, atau sekadar melepas penat bersama teman menjadi alasan untuk tidak langsung pulang.
Di sinilah warung kopi dan kedai-kedai sederhana di sekitar kampus memiliki peran tersendiri.
Meja yang awalnya hanya digunakan untuk menikmati secangkir kopi bisa berubah menjadi tempat membuka laptop, menyusun tugas, atau berdiskusi hingga sore.
Bagi sebagian mahasiswa, tempat seperti ini menawarkan suasana yang lebih santai dibandingkan ruang kelas.
“Ngopi” pun tidak selalu berarti sekadar menikmati minuman.
Di baliknya ada cerita tentang tugas yang belum selesai, presentasi yang harus dipersiapkan, organisasi yang sedang sibuk, hingga obrolan ringan tentang kehidupan kampus. Tidak jarang, sebuah tugas yang awalnya dikerjakan bersama justru diselingi tawa dan cerita yang membuat waktu terasa lebih singkat.
Kehidupan perkuliahan di Surabaya juga memiliki warna tersendiri melalui bahasa dan budaya pergaulannya.
Sapaan seperti “rek”, “cak”, atau “nduk” masih mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari.
Gaya komunikasi yang lugas dan akrab membuat interaksi antarmahasiswa terasa lebih cair, terutama bagi mereka yang sudah lama tinggal di Surabaya.
Menariknya, kehidupan mahasiswa juga tidak bisa dilepaskan dari kuliner.
Setelah seharian berkutat dengan perkuliahan dan tugas, makanan seperti penyetan, nasi bebek, tahu tek, atau makanan kaki lima di sekitar kampus menjadi pilihan yang sederhana tetapi menghibur.
Dengan harga yang relatif bersahabat bagi kantong mahasiswa, makan bersama teman sering kali menjadi penutup yang menyenangkan setelah hari yang panjang.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa di Surabaya bukan hanya tentang mendapatkan ilmu di dalam kelas. Ada perjalanan, pertemanan, organisasi, tugas, tempat nongkrong, dan berbagai pengalaman kecil yang perlahan membentuk cerita selama masa kuliah. (surabayakabarmetro.id)
Penulis: Alya Sabila




