Berita FANTASY Humaniora IDEAS Resensi Buku Resensi Buku Utama

Mengenal Dunia Fiktif Halimunda dan Tragedi di Dalamnya Lewat Novel Cantik Itu Luka

Mengenal Dunia Fiktif Halimunda dan Tragedi di Dalamnya Lewat Novel Cantik Itu Luka (surabayakabarmetro.id/ Alya Sabila)

SURABAYAKABARMETRO.ID – Apa jadinya jika sesuatu yang selama ini dianggap sebagai anugerah justru menjadi sumber penderitaan?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami Cantik Itu Luka, novel karya Eka Kurniawan yang pertama kali terbit pada 2002, dan hingga kini masih menjadi satu di antara karya sastra Indonesia yang banyak dibicarakan.

Novel ini bahkan telah diterjemahkan ke lebih dari 34 bahasa.

Cerita berpusat pada Dewi Ayu, perempuan keturunan Belanda yang hidup melewati berbagai perubahan zaman di kota fiktif Halimunda.

Kisahnya dimulai dengan peristiwa yang tidak biasa, yaitu Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah lebih dari dua dekade meninggal.

Dari peristiwa tersebut, pembaca kemudian diajak menelusuri kehidupan Dewi Ayu dan keturunannya, sekaligus sejarah panjang yang membentuk kehidupan mereka.

Judul Cantik Itu Luka sendiri terdengar seperti sebuah pertentangan, bukankah kecantikan selama ini dianggap sebagai kelebihan?

Namun, melalui kehidupan Dewi Ayu dan anak-anaknya, Eka Kurniawan justru mempertanyakan anggapan tersebut. Kecantikan dalam novel ini tidak selalu membawa kebahagiaan.

Sebaliknya, paras yang dianggap indah dapat membuat perempuan menjadi objek pandangan, hinaan, dan kekuasaan.

Di sinilah judul novel terasa semakin bermakna.

“Cantik” bukan sekadar persoalan fisik, tetapi menjadi simbol bagaimana tubuh perempuan kerap dinilai berdasarkan pandangan orang lain.

Selain persoalan kecantikan, sejarah juga menjadi bagian penting dalam novel ini. Cerita bergerak melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, hingga berbagai pergolakan politik setelah Indonesia merdeka. Namun, Eka Kurniawan tidak menyajikan sejarah seperti sebuah catatan peristiwa.

Sejarah justru hadir melalui kehidupan masyarakat biasa, hubungan keluarga, konflik, dan berbagai kejadian yang dialami tokoh-tokohnya.

Yang membuatnya semakin menarik adalah keberadaan unsur magis di tengah realitas tersebut.

Kebangkitan Dewi Ayu dari kubur menjadi salah satu contoh bagaimana hal yang mustahil dapat hadir secara wajar dalam dunia cerita.

Mitos dan kejadian supernatural bercampur dengan persoalan sosial dan sejarah tanpa terasa dipaksakan.

Perpaduan inilah yang membuat Cantik Itu Luka sering dikaitkan dengan realisme magis.

Dari segi cerita, novel ini memiliki kekuatan pada dunia dan karakter yang dibangunnya.

Halimunda terasa seperti tempat yang memiliki sejarah dan kehidupan sendiri.

Setiap tokoh membawa persoalan yang kemudian saling berkaitan, sehingga cerita tidak hanya berfokus pada satu generasi.

Eka juga berhasil menggunakan humor di tengah cerita yang penuh tragedi.

Perpaduan tersebut membuat novel terasa unik karena pembaca dapat menemukan sesuatu yang lucu di tengah situasi yang sebenarnya kelam.

Namun, Cantik Itu Luka bukan bacaan yang ringan.

Jumlah tokohnya cukup banyak dan cerita bergerak melewati beberapa generasi sehingga pembaca perlu memperhatikan hubungan antartokoh.

Beberapa bagian juga mengangkat kekerasan dan eksploitasi seksual sehingga dapat terasa berat bagi sebagian pembaca.

Karena itu, novel ini mungkin membutuhkan kesabaran, terutama bagi pembaca yang terbiasa dengan cerita dengan alur sederhana dan lurus.

Meski demikian, kompleksitas tersebut justru menjadi salah satu alasan mengapa novel ini menarik untuk dibaca. Cantik Itu Luka tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga memberikan banyak ruang untuk berpikir.

Pembaca dapat melihat persoalan kecantikan, perempuan, kekuasaan, sejarah, keluarga, hingga luka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pada akhirnya, Cantik Itu Luka adalah novel yang tidak berhenti pada kisah tentang Dewi Ayu dan keluarganya.

Di balik cerita yang penuh kejadian aneh dan tragis, Eka Kurniawan sedang mempertanyakan banyak hal yang dekat dengan kehidupan manusia.

Salah satunya adalah anggapan bahwa kecantikan selalu membawa kebahagiaan.

Mungkin justru di situlah kekuatan novel ini.

Setelah halaman terakhir selesai dibaca, pembaca masih akan membawa satu pertanyaan: jika kecantikan yang dipuja banyak orang ternyata dapat menjadi sumber luka, apakah menjadi cantik benar-benar sebuah keberuntungan?

Identitas novel:
Judul: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: 2002
Tebal: 488 halaman (surabayakabarmetro.id)

Penulis: Alya Sabila

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi