Berita Humaniora Jawa Timur Surabaya Utama

Sosok Moestopo, Tokoh Penting di Balik Pertempuran Surabaya 1945 yang Legendaris

Sosok Moestopo, Tokoh Penting di Balik Pertempuran Surabaya 1945 yang Legendaris (istimewa)

SURABAYAKABARMETRO.ID, SURABAYA – Saat membicarakan pertempuran Surabaya 1945 yang legendaris itu, nama Bung Tomo menjadi sosok yang paling sering terdengar.

Namun, di balik perlawanan besar pada November 1945, terdapat sejumlah tokoh lain yang turut memainkan peran penting.

Satu di antaranya Dr Moestopo, yang merupakan seorang dokter gigi yang kemudian terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya.

Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, pada 13 Juni 1913.

Ia menempuh pendidikan kedokteran gigi dan kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengalaman dalam bidang militer.

Pengalaman tersebut membawanya terlibat dalam situasi politik dan keamanan Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Dari Dokter Menjadi Pejuang

Setelah Indonesia merdeka, keadaan Surabaya tidak serta-merta menjadi tenang. Kedatangan pasukan Sekutu dan berbagai kepentingan politik yang menyertainya membuat situasi kota semakin tegang.

Dalam kondisi tersebut, Moestopo mengambil peran dalam mengorganisasi kekuatan pemuda dan rakyat. Ia terlibat dalam berbagai upaya mempertahankan Surabaya agar tidak mudah dikuasai oleh pihak asing.

Salah satu hal yang membuat sosok Moestopo menarik adalah latar belakangnya. Ia bukan semata-mata seorang militer. Pendidikan sebagai dokter gigi justru memperlihatkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Surabaya yang Memanas

Ketegangan di Surabaya semakin meningkat setelah kedatangan pasukan Inggris pada Oktober 1945. Situasi kemudian berkembang menjadi konflik terbuka. Moestopo menjadi salah satu tokoh yang berhadapan langsung dengan situasi tersebut.

Ia terlibat dalam koordinasi kekuatan rakyat dan pemuda di Surabaya.

Di tengah keterbatasan persenjataan dan kondisi yang serba tidak pasti, berbagai kelompok berusaha mempertahankan wilayah yang telah berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia.

Perjuangan tersebut kemudian mencapai puncaknya pada 10 November 1945. Pertempuran besar pecah dan Surabaya menjadi salah satu medan pertempuran terbesar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Bukan hanya tentang Bung Tomo

Nama Moestopo sering kali berada di balik bayang-bayang popularitas Bung Tomo. Padahal, keduanya berada dalam konteks perjuangan yang saling melengkapi.

Jika Bung Tomo dikenal melalui kekuatan pidatonya yang membangkitkan semangat rakyat, Moestopo lebih banyak dikenang melalui perannya dalam mengorganisasi dan memobilisasi kekuatan perjuangan.

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah perjuangan tidak pernah berdiri di atas satu orang.

Ada yang berbicara, ada yang mengatur strategi, ada yang merawat korban, dan ada pula masyarakat biasa yang ikut mempertahankan kotanya.

Moestopo adalah salah satu bagian dari rangkaian besar tersebut.

Jejak yang Berlanjut Setelah Surabaya

Perjuangan Moestopo tidak berhenti setelah Pertempuran Surabaya. Ia kemudian melanjutkan pengabdiannya dalam bidang militer dan pendidikan.

Namanya kemudian semakin dikenal dalam dunia pendidikan kedokteran gigi.

Pada 1961, ia mendirikan Institut Kedokteran Gigi Moestopo yang kemudian berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) di Jakarta.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan sebuah perpaduan yang menarik: seorang dokter yang pernah berada dalam pusaran perjuangan bersenjata, kemudian mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan.

Moestopo meninggal pada 29 September 1986. Meski namanya tidak selalu muncul di halaman pertama ketika sejarah Pertempuran Surabaya dibicarakan, jejaknya tetap menjadi bagian dari cerita panjang perjuangan kota tersebut.

Surabaya mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh tokoh yang paling sering disebut. Di balik sebuah peristiwa besar selalu ada banyak orang yang bekerja, berjuang, dan mengambil risiko dalam senyap.

Moestopo adalah satu di antara dokter yang turun ke gelanggang perjuangan dan menjadikan keahliannya sebagai bagian dari pengabdian kepada bangsa. (surabayakabametro.id)

Penulis: Alya Sabilatun N

Bagus

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Utama

Toko Karpet di Gemblongan Surabaya Terbakar, Kepanikan Sejumlah Orang Ikut Terekam

SURABAYA – Sebanyak dua toko karpet yang ada di Jalan Gemblongan, Surabaya terbakar, Minggu (16/10/2022) sore kemarin. Saat kejadian, kobaran
Berita Utama

Tim Antasena dan Sapuangin ITS Capai Prestasi Bergengsi di Kancah Internasional, Berjaya di Shell Eco-Marathon 2022

SURABAYA – Satu lagi prestasi yang berhasil ditorehkan oleh para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Mereka berhasil meraih prestasi